Bab 2: Positivity, Sikap Hidup Positif

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

14.1 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 2: Positivity, Sikap Hidup Positif

Bab 2: Positivity, Sikap Hidup Positif

Hidup menyediakan jalan yang bercabang. Kita bebas memilih ingin optimis atau pesimis, ingin positif atau negatif, ingin bersyukur atau mengeluh tentang apapun. Namun mereka yang mengembangkan sikap hidup optimis, positif, bersyukur memilih jalan menuju kebahagiaan.


Yang manakah gambar sebenarnya dari lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci?

Lukisan itu digoreskan da Vinci sekitar 600 tahun lalu, antara tahun 1503-1504. Hingga kini, itu lukisan yang dianggap paling populer dalam sejarah.

Di tahun 2015, ilmuwan Perancis Pascal Cotte menemukan cara lain menikmati lukisan Monalisa. Ia dibantu oleh 40 orang teamnya, menganalisa lukisan dgn teknologi yang disebutnya reflective light techonology. Melalui analisa komputer, ia mendapatkan wajah Monalisa yang berbeda.

Melalui teknologi itu, nampak wajah Monalisa lebih kurus, lebih kurang bangsawan, dan lebih menyerupai Lisa Geradhini. Diyakini, Lisa Geradhini model sesungguhnya dari lukisan Monalisa.

Diduga, awalnya Leonardo sudah selesai dengan lukisan Lisa Geradhini. Untuk alasan yang belum diketahui, lukisan itu kemudian dimodifikasinya, dibuatnya lebih gemuk, dan lebih nampak bangsawan. Lukisan Monalisa yang gemuk ditimpakan di atas lukisan Monalisa yang lebih kurus.

Dalam satu lukisan Monalisa, kini nampak dua wajah. Dengan mata telanjang, nampak Monalisa yang lebih gemuk. Dengan teknologi tinggi, nampak Monalisa yang lebih kurus.

Lukisan Monalisa kita gunakan hanya sebagai ilustrasi saja dari realitas yang lebih kompleks. Realitas yang sama dapat tampil dengan kesan berbeda jika perspektifnya berbeda.

Perspektif menjadi sangat penting karena ia bisa membuat realita tampil dalam bentuk yang berbeda. Dua manusia yang melihat realitas yang sama dapat berkesimpulan berbeda mengenai realitas itu karena masing-masing meninjaunya dari perspektif berbeda.

Habit dan mindset bahagia kedua yang harus ditradisikan adalah soal perspektif ini. Dalam  lima habit dan mindset 3P + 2S, bab ini membahas P yang kedua: Positivity/ Perspective.

Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun, selalu tumbuhkanlah perspektif yang membuat kita bersikap positif. Yaitu perspektif yang bukan saja dapat membantu kita melihat realitas lebih apa adanya, namun juga menumbuhkan emosi kita yang positif.


Segelas air yang penuh separuh bisa dilihat dari dua sisi. Ia bisa dilihat dari sisi kosongnya: gelas itu telah kosong separuh. Ia juga bisa dilihat dari sisi isinya: gelas itu masih berisi separuh.

Realitas hidup selalu seperti gelas dengan air separuh itu. Positivity atau sikap hidup yang positif selalu memilih perspektif yang juga positif. Ialah perspektif yang menumbuhkan optimisme, memberi harapan, berkarakter membantu orang lain (bukan sebaliknya menyusahkan orang lain), ceria, bersyukur.

Semua itu character strength and values yang berdasarkan riset akademik terbukti membuat hidup individu bahagia. Kita detailkan beberapa positivity itu di bawah ini.

A) Tumbuhkan Habit Memberi

Sebuah pepatah Cina kini sering dikutip sebagai pembuka diskusi mengenai kebahagiaan.

"Jika engkau ingin berbahagia dalam waktu satu jam, maka tidurlah di siang hari.
Jika ingin berbahagia dalam waktu satu hari, pergilah memancing.
Jika ingin berbahagia dalam waktu satu bulan, segeralah menikah.
Jika ingin berbahagia dalam waktu satu tahun, percepatlah memperoleh warisan.
Namun jika ingin berbahagia seumur hidupnya, jadikanlah menolong orang lain sebagai prinsip hidupmu."

Tak diketahui siapa yang pertama kali mrmbuat pepatah di atas. Tak juga jelas apakah pepatah ini setua ajaran Lao Tse atau Kong Hu Chu.

Namun spekulasi pepatah ini semakin mendapatkan pembenarannya dalam ilmu pengetahuan mutakhir berdasarkan kajian empirik. Terutama kalimat terakhir: the power of giving, menolong orang lain:

Semakin banyak kutipan yang indah di era modern yang bernada sama. Salah satunya dari Winston Churcill: "Kita hidup dari mengambil. Namun kita bahagia dari memberi."

-000-

Tiga ilmuwan: Sonja Libyumorsky, Tkatch dan Yelverton, di tahun 2004 mempublikasikan riset ekspermimental menguji efek dari the power of giving. Apakah benar seruan : jadikanlah menolong orang lain sebagai prinsip" menuntun pada kebahagiaan otentik.

Mereka menamakan risetnya "The Random Acts of Kindness" dan hubungannya dengan level kebahagiaan atau subjective well-being.

Para peneliti ini membagi responden dalam dua kelompok besar: responden yang diterapi dan responden yang dikontrol. Langkah pertama, mereka melakukan pre-test, menguji level kebahagiaan masing-masing kelompok sebelum eksperimen dilakukan.

Lalu kelompok yang diterapi diminta melakukan random act of kindness, kebaikan apa saja yang menolong orang lain. Dalam satu minggu mereka diminta melakukan lima tindakan kebaikan. Riset dilakukan selama enam minggu.

Dalam prakteknya, beragam random act of kindness yang dipilih responddn. Ada yang melakukan hal yang terkesan remeh temeh, seperti menolong seorang ibu tua yang tak dikenal di super-market untuk mengangkat belanjaannya.

Ada yang menghabiskan waktu merawat nenek yang dicintainya. Ada yang memberikan gift kepada tetangga. Ada yang mendermakan uang seadanya. Dan lain sebagainya.

Sementara kelompok yang dikontrol tidak diminta melakukan apapun. Mereka diharap mengerjakan hal yang sudah biasa dikerjakan sehari-hari.

Enam minggu berlalu dan riset selesai. Dua kelompok itu kembali diuji level kebahagiannya. Hasilnya sangat signifikan.

Responden yang berada dalam kelompok terapi, yang melakukan setidaknya lima kegiatan membantu orang lain setiap minggu, mengalami lonjakan level kebahagiaan. Mereka lebih ceria, merasakan hidup lebih bermakna dibandingkan sebelum riset dilakukan.

Sementara kelompok yang dikontrol, yang mengerjakan rutinitas sehari-hari seperti biasa, tak mengalami lonjakan level kebahagiaan.

Riset menyimpulkan bahwa power of giving, atau prilaku menolong orang lain, termasuk yang tak dikenal sekalipun, memang sesuatu yang positif bagi melonjaknya kualitas hidup bahagia.

-000-

Kajian lebih detail mengenai power of giving juga dilakukan oleh periset lain. Power of giving termasuk topik yang populer untuk terus menerus diuji dengan aneka kasus, metode dan responden yang berbeda.

Di antaranya adalah Jenny Shanti. Ia menuliskannya dalam buku The Giving Way of Happiness: Stories and Scienve behind the life-changing power of giving.

Aneka nuansa yang lebih detail diberikan. Bahwa tak semua tindakan yang terkesan menolong orang atau yang memberi itu menghasilkan tindakan yang membahagiakan. Bahkan bisa jadi, tindakan itu dirasakan sebagai beban dan penderitaan jika dipaksa dari luar. Pemberi misalnya merasa diperalat saja (being taken adventage of).

Agar tindakan menolong dan memberi itu membahagiakan pelaku, tindakan itu harus otentik lahir dari keikhlasan pelaku. Sang pemberi harus memiliki passion dan hati dalam pemberian atau bantuan itu.

Yang membuahkan kebahagiaan juga bukan kuantitas jumlah pemberian. Mereka yang memberi sejuta rupiah misalnya belum tentu lebih berbahagia dibandingkan mereka yang memberikan hanya seratus rupiah.

Yang menentukan kebahagiaan adalah bobot kasih sayang dari tindakan pemberiannya. Misalnya seorang pelaku yang mendoakan kebahagiaan temannya dengan cinta yang mendalam, sangat mungkin jauh lebih bahagia dibandingkan seorang politisi yang menolong korban banjir satu miliar rupiah tapi dalam rangka show-off di televisi.

Suatu pemberian yang orientasinya karena sikap kasih dan pro sosial selalu jauh lebih bermakna bagi sang pemberi sendiri, dibandingkan tetap kental sisi self-interest dan reward publikasi atas pemberian itu.

Memberi dan menolong untuk bidang yang kita sukai juga lebih meaningful dibandingkan pemberian itu untuk bidang yang pihak lain memilihkannya untuk kita.

Misalnya seseorang memberikan charity lewat sebuah organisasi. ia sangat suka dengan sastra namun tak suka dengan olahraga kekerasan seperti tinju. Jika bantuannya disalurkan untuk menumbuhkan apresiasi sastra, itu akan lebih berarti bagi sang pemberi, ketimbang bantuan itu untuk membina karir para petinju amatiran.

Power of giving juga jangan direduksi hanya dalam bentuk material belaka. Kita tak harus kaya terlebih dahulu sebelum layak memberi.

Pemberian yang tak kalah pentingnya juga dalam bentuk non-material, seperti: perhatian yang ekstra, menyediakan waktu yang esktra, bahkan hanya dalam bentuk mengirimkan doa yang tulus.

-000-

Para artis, penyanyi dan selebriti dunia pernah menghimbau bersama dalam lagu We are the World. Ada Michael Jackson, Lionel Ritchie, dan lain- lain terlibat penuh. Ini lagu saat itu dibuat untuk menolong Afrika.

Lagu ini diaransir oleh Michael Ormatian dan dikomandani oleh Quincy Jones. Diproduksi tahu 1985, lagu kni terpilih sebagai Song of the Year. Ia menjadi bagian dari sedikit saja album musik dalam sejarah yang terjual di atas 10 juta kopi.

Liriknya antara lain: "We are the world, we are the children. We are the one who make a brighter day. So let's start for giving. We must lend a helping hand."

Memberi dengan ikhlas dan cinta memang lebih membahagiakan dibandingkan dengan menerima. ***

 

 

  • view 382