Bab IE: Pengaruh Lingkungan Sosial

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.4 K Hak Cipta Terlindungi
Bab IE: Pengaruh Lingkungan Sosial

Bab IE: Pengaruh Lingkungan Sosial

Hidup yang bahagia tak hanya buah dari relasi individu dengan lingkungan mikronya: keluarga, teman main atau lingkungan kerja. Tapi juga ditentukan oleh lingkungan sosial makro: kondisi ekonomi, kultur dominan, bahkan juga kebebasan berekspresi masyarakat tempat ia hidup.

Pergulatan intens batinku dengan lingkungan sosial yang sangat berbeda telah melahirkanku kembali, ujar Malcom X.

Di 1964, setelah naik Haji ke Mekkah, Malcom X mengalami guncangan keyakinan. Ia mengubah kembali namanya dari Malcom X menjadi Malik El-Shabaaz. Ia semakin meninggalkan Nation of Islam dan mendirikan organisasinya yang baru: Muslim Mosque Inc. Ia berubah dari pemuja guru dan "nabi" Elija Muhammad menjadi pengeritik keras.

Malcom X menyadari selama 12 tahun 1952-1964 ia ikut mengembangkan paham Nation of Islam yang ternyata salah. Ini ajaran Elijah Muhammad yang mengkombinasikan Islam ortodox dengan paham rasisme kulit hitam.

Beberapa pemikiran Nation of Islam dulu diyakininya: manusia pertama di bumi berkulit hitam. Mereka yang berkulit hitam paling superior. Kulit putih adalah kejahatan. Yang harus dituju bukan integrasi kulit putih dan hitam secara setara, tapi migrasi kulit hitam ke Afrika.

Ia kampanyekan pandangan ini ke seantero negri sebagai juru bicara Nation of Islam. Ia berkonflik dengan Martin Luther King yang menolak supremasi kulit hitam. Di tangannya Nation of Islam berkembang. Ia menanamkan kebencian pada kulit putih. Banyak aktivis kulit putih yang ingin terlibat aktif bersama ditolaknya.

Komentar Malcom X atas penembakan Kennedy membuat marah publik Amerika. Kematian Kennedy menurut Malcom X adalah "chicken coming home to roost." Tiada ada nada simpati dan berduka dari Malcom X untuk Kennedy, sebagai konsekwensi kebenciannya pada kulit putih.

Lingkungan sosial dalam ibadah haji mengubah pandangannya. Dilihatnya di Mekkah, keberagaman manusia dalam aneka warna kulit tapi bersatu dalam iman. Hitam, putih, coklat, kuning langsat, aneka warna kulit bersama sederajat berserah diri kepadaNya.

Ia diundang pemimpin Arab, diperlakukan dengan terhormat. Ia diajak bicara di ruang pribadi, bicara dari hati ke hati, dengan banyak pemimpin Arab. Diantara mereka berkulit putih, warna kulit yang dulu sangat dibencinya.

Di Mekkah disaksikannya Amerika hanya salah satu spot saja bagi Muslim dunia.
Selama 40 hari Malcom X intens mengamati persatuan manusia melampaui perbedaan ras, nasionalisme, bahasa, gender, usia.

Begitu ia terpesona atas pengalaman batin itu dan seketika mengubah mindsetnya, mengubah filsafat hidupnya, mengubah pemahaman agamanya.

Malcom X mengekspresikan kelahirannya kembali di Mekah dalam sebuah surat. Antara lain, ia menulis bahwa di Mekkah ia menyaksikan sendiri betapa warna kulit tidak mencerminkan karakter pribadi seseorang. Baik dan buruk seseorang bukan karena warna kulitnya tapi karena orientasi hidupnya.

Malcom X berniat menebus aneka kesalahan yang dibuatnya akibat membesarkan paham rasis: Nation of Islam. Sampai satu hari, 21 Febuari 1965, setelah rumahnya dibom, ia ditembak mati. Penembaknya diketahui aktivis dari Nation of Islam.

-000-

Kisah perubahan pendirian Malcom X sebagian adalah kisah pengaruh lingkungan sosial yang sangat menyentuhnya seperti naik haji. Ia hidup di lingkungan sosial yang baru itu tak lama, kurang dari 40 hari. Namun itu waktu yang berkualitas (quality time) yang mampu mengubah mindset dan habitnya soal supremasi ras kulit hitam.

Jika bisa mengubah pendirian agama yang sudah dipeluknya secara mendalam, lingkungan sosial bisa pula mengubah banyak hal lainnya. Bisakah lingkungan sosial mengubah juga level kebahagian individu?

Seberapa besar pengaruh lingkungan yang bahagia atau tak bahagia terhadap level kebahagiaan kita sendiri?

Dapatkah sebuah negara dikatakan maju jika masyarakatnya kurang bahagia walau secara ekonomi negara itu kaya raya?

 Bisakah kita membuat index kebahagian secara nasional? Dapatkah kita menyusun index yang terukur, agar mudah memperbandingkan satu negara dari waktu ke waktu, atau membandingkan aneka negara dalam satu waktu?

PBB (Perserikatan Bangsa- Bangsa) juga peduli dengan pertanyaan itu. Di tahun 2011, PBB mengundang aneka negara anggotanya untuk mencari solusi. Sebuah lembaga kemudian menindak lanjutinya, bernama Sustainable Development Solution Network (SDSN).

Para ahli dilibatkan menyusun rekomendasi, mulai dari pakar ekonomi, politik, ahli ilmu sosial sampai pakar psikologi.

-000-

Di tahun 2012, lahirlah untuk pertama kali sebuah report yang diberi nama World Happines Index. Ini sebuah terminologi yang terukur dengan data tentang perspektif baru kualitas hidup masyarakat.

Index ini memperkaya dua hal sekaligus. Pertama, index ini memperbaiki cara mengukur kemajuan sebuah negara. Hanya mengukur ekonomi sebuah negara melalui GDP, GNP, walau dipercanggih dengan daya beli masyarakat (Purchasing Parity Power) dan naiknya inflasi, dirasakan tak lagi memadai.

Manusia tak hanya hidup dari roti. Ia tak bisa hanya direduksi dan diukur dari satu dimensi saja: ekonomi. Kualitas hidup di luar ekonomi sangatlah penting. Apalagi kini ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju untuk juga bisa mengkuantifikasi aneka dimensi kualitas hidup.

Kedua, index ini juga memperkaya literatur kajian Happiness. Awalnya studi kebahagiaan didominasi oleh pendekatan psikologis. Unit analisanya individu. Ini pendekatan yang dianggap terlalu sederhana.

World Happiness Index mengakumulasi aneka studi yang menunjukkan besarnya pengaruh lingkungan sosial bagi level kebahagiaan individu.

Jika diformulasikan dengan angka: level kebahagiaan individu dipengaruhi 50 persen oleh bawaan lahir.

Sebesar 50 persen bawaan lahir itu berasal dari studi mengenai ratusan orang kembar yang hidup terpisah sejak kecil. Betapa level kebahagiaan orang kembar itu nyaris sama walau mereka hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda.

Di luar bawaan lahir, 50 persen lainnya adalah pengaruh lingkungan. Ini prosentase yang sangat besar dan perlu selalu dieksplor.

Secara common sense saja, ini mudah kita pahami. Seseorang lebih mudah berbahagia jika ia hidup di lingkungan yang menghargai hak asasinya, dengan sistem pemerintahan yang mensupport welfare program, yang menghargai kebebasan dan keberagaman, yang memiliki asuransi kesehatan, dalam lingkungan ekonomi yang maju, dan sebagainya.

Sebaliknya, seseorang lebih sulit bahagia jika ia hidup dalam lingkungan negara yang sangat miskin, yang pemerintahnya tak enggan meneror warga, yang masyarakatnya tidak toleran kepada keberagaman, tak ada asuransi kesehatan, tak ada support bagi mereka yang marginal, dan sebagainya.

Selanjutnya bagaimana membuat judgment yang terukur untuk mengkuantifikasi aneka common sense di atas.

-000-

Berangkat dari perspektif baru itu, data statistik diolah kembali. Aneka measurement di bidang ekonomi, ilmu sosial, politik, psikologi, dikumpulkan dan disusun menjadi satu kesatuan untuk sebuah platform yang berbeda.

Ekonomi satu negara misalnya diukur dari GDP yang datanya memang sudah tersedia. Penghargaan atas hak asasi warga negara diukur dengan indeks Freedom to make life choice.

Dipenuhinya basis need masyarakat diukur melalui Social Support Index. Pemerintahan yang bersih diukur melalui index korupsi. Dan sebagainya dan sebagainya.

Sampai era sekarang, inilah index yang paling lengkap dan terukur yang pernah dibuat untuk mengukur kualitas hidup masyarakat di sebuah negara.

Di tahun 2016, kita dapat melihat dan memperbandingkan data 157 negara. Top 10 World Happiness Index tertinggi adalah Denmark, Switzerland, Iceland, Norwegia, Finlandia, Kanada, Netherland, New Zealand, Australia dan Swedia.

10 negara yang world happines indexnya terendah adalah Burundi, Syiria, Tongo, Aghanistan, Benin, Ruwanda, Guinea, Liberia, Tanzania, Madagaskar, Yemen.

Amerika Serikat yang merupakan negara super power di dunia hanya ada di rangking ke 13. Qatar yang merupakan negara paling kaya dari sisi GDP per kapita hanya ada di rangking 36. Dan Indonesia berada di rangking ke 79 dari 157 negara.

Dari 10 negara yang kualitas hidup dan rata-rata warganya disebut paling bahagia, umumnya adalah negara yang ekonominya sudah kaya. Negara itu mengadopsi sistem politik demokrasi. Mereka menghargai keberagaman. Di negara itu diterapkan pula sistem ekonomi pasar yang dikombinasi dengan besarnya peran pemerintah memberikan welfare program kepada rakyatnya.

-000-

Kitapun mendapat gambaran dan peta variabel apa saja yang dibutuhkan secara sosial jika kita ingin ikut sebisanya memperbaiki kualitas hidup masyatakat, dan level kebahagian individu di dalamnya.

Ikut memajukan ekonomi, menumbuhkan demokrasi, mengkampanyekan toleransi dan keberagaman, kerja sosial membantu yang terpinggirkan, adalah sesuatu yang signifikan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Pada waktunya, hal ini 50 persen mempengaruhi level kebahagian individu yang hidup di dalamnya.

Puncak dari pengaruh lingkungan sosial memang lingkungan sosial yang inspiring mengubah mindset seperti dialami Malcom X.

Tentu kita mengerjakannya sesuai dengan kemampuan. Yang besar, pengaruhnya atas lingkungan bisa berskala nasional. Yang kecil, cukup punya pengaruh di lingkungan komunitasnya sendiri.

Lingkungan sosial itu kumpulan relasi personal kita dengan dunia luar yang paling makro. Sangat bermakna jika kita ikut menciptakan lingkungan sosial yang membuat kita nyaman hidup di dalamnya, sekecil apapun ikhtiar kita.***

  • view 415