Bab ID: Relasi Tatap Muka bukan Virtual

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bab ID: Relasi Tatap Muka bukan Virtual

Bab ID: Relasi Tatap Muka bukan Virtual

Yang penting bukan populer dalam social media, banyak teman dunia virtual. Dunia social media, komunitas virtual hanya menjadi gerbang untuk relasi pribadi tatap muka yang akrab. Hubungan tatap muka yang utama.

Jangan pula  sebaliknya. Heboh dalam social media  justru mengganggu hubungan pribadi.

Siapa yang bisa menduga? Kekerasan verbal melalui dunia virtual ikut menyebabkan remaja 18 tahun, Tyler Clementi, bunuh diri.

Tanggal 22 September 2010, tiada yang bisa menduga apa yang berguncang di benak Tyler Clementi. Ia berdiri saja di jembatan George Washington, New Jersey. Ia kemudian melompat.

Dompetnya ditemukan di area sungai. Namun jasadnya baru ditemukan seminggu kemudian. Tyler Clementi segera menjadi berita nasional kekerasan dunia virtual.

Clementi anak yang halus dan berbakat. Ia berkembang menjadi musikus sebagai concert master. Ia aktif dalam Bergen Youth Orchestra. Tapi hidupnya agak terganggu karena ia seorang gay. Ibunya tak menerima dan malu jika komunitas gereja tahu anaknya seorang gay.

Clementi kemudian terteror ketika temannya, Ravi sempat merekam ia sedang mencium kekasih gay. Ravi memberitakan kisah gay Clementi di social media: twitter. Clementi segera dibully oleh aneka follower. Berita Clementy yang tertangkap mencium kekasih gay menyebar di social media.

Tiada yang bisa menghadang menyebarnya berita melalui social media.

-000-

Seberapa besar pengaruh social media dalam kehidupan modern terutama remaja masa kini?

Facebook hari ini menjelma menjadi "negara terbesar." Jika jumlah usersnya dalam sebulan disamakan dengan jumlah penduduk satu negara, Facebook sudah lebih besar dibandingkan Republic Rakyat Cina.

Kini jumlah penduduk Cina terbesar di dunia dengan total 1, 36 milyar manusia. Ia lebih besar dibandingkan India (1, 24 milyar) dan Amerika (319 juta), apalagi Indonesia (250 juta).

Namun di tahun 2016, penduduk Cina sudah dikalahkan oleh "penduduk" Facebook sebesar 1,5 milyar users.

Social media kini mengubah peradaban. Di tahun 1960an, kita mengenal Liberation Theology: Teologi Pembebasan yang menginterpretasi ulang agama menjadi gerakan pembebasan di level politik praktis, bahkan dengan angkat senjata.

Kini di dekade 2010an, kita mengenal Liberation Technology: Teknologi Pembebasan yang memperkuat individu melalui aneka teknologi baru.

Berkembangnya handphone, dengan aneka social media di dalamnya, membuat individu semakin bisa mengkomunikasikan gagasannya. Tiada lagi kekuatan "Big Brother" yang bisa mengontrol berkembangnya isu melalui social media. Siapa yang mampu menahan isu populer yang disebar oleh Netizens?

Teknologi baru kini melahirkan aneka komunikasi internet melalui Facebook, Twitter, Instagram, WA, Yotube, Linkedln, dan sebagainya.

Ini jumlah masing-masing "penduduk negara" aplikasi tersebut di tahun 2016. WhatsApp berjumlah 1 Milyar users, hampir menyamai penduduk India. Instagram berjumlah 400 juta users, melampaui penduduk Amerika Serikat. Twitter berjumlah 320 juta users melampaui penduduk Indonesia.

Masing- masing aplikasi itu memiliki komunitas yang saling terjalin. Satu berita dalam hitungan menit bisa bergaung bahkan melampaui batas negara.

Namun benarkah terlalu intens di dunia social media bisa mengurangi level kebahagiaan Individu? Benarkah terlalu banyak surfing di internet mengisolasi individu itu dari kehidupan sosialnya?

Individu yang mengambil jeda, mengurangi aktivitasnya di Facebook ternyata bisa membuat hidupnya lebih bahagia? Demikianlah judul
aneka berita mengenai riset yang dilakukan oleh Happiness Research Institute di tahun 2015. Benarkah?

-000-

Di tahun 2015, Happiness Research Institute melalukan riset mengenai facebook dalam hubungannya dengan studi happiness. Respondennya sejumlah 1095 penduduk yang berasal dari Denmark, negara yang ditasbihkan oleh SDSN 2016 sebagai paling bahagia di seluruh dunia.

Inilah karakter responden yang diteliti: 94 persen menggunakan facebook sebagai kegiatan rutin sehari-hari. 86 persen mengeksplor fasilitas newsfeed di Facebook sangat sering dan sering. 78 persen menggunakan Facebook paling sedikit 30 menit setiap harinya. 61 persen memilih memposting sisi baik dirinya saja di Facebook. 69 persen memposting gambar dan foto pengalaman baiknya saja di facebook.

Sejumlah 1095 responden itu dibagi ke dalam dua kelompok: satu yang ditreatment (diberikan eksperimen), satu yang dikontrol (control grup). Responden yang dikontrol diminta tetap mengerjakan rutinitas seperti biasa.

Sebelum ditreatment, kedua kelompok itu ditest. Mereka dicatat level kebahagiannya.

Setelah itu, kelompok yang ditreatment diminta untuk tidak menggunakan facebook selama seminggu saja. Mereka sama sekali dilarang membuka apapun fitur di facebook. Sementara kelompok satunya diminta untuk tetap bermain facebook seperti biasa.

Apa hasilnya? Seminggu kemudian kedua kelompok itu kembali ditest. Mereka yang menghentikan kegiatan facebook seminggu saja mengalami kenaikan level kebahagiaan secara signifikan. Sedangkan yang tetap menggunakan facebook seperti biasa tak mengalami perubahan signifikan.

Disimpulkan bahwa mengurangi intensitas bermain facebook justru membuat individu lebih bahagia. Terlalu sering bermain facebook bisa mengurangi level kebahagian individu.

Sayangnya memang belum banyak riset serupa yang dlakukan lembaga lain untuk tema itu. Hubungan social media dan happiness belum banyak dikaji, belum dilezatkan oleh aneka riset yang mengambil sampel dan metode yang berbeda. Semakin banyak riset akan semakin tergambar aneka nuansa yang lebih detail.

Namun "one snapshot" ini dapat memberikan insight awal yang berguna untuk dieksplor lebih mendalam.

-000-

Apa yang salah dengan intensitas penggunaan Facebook? Lebih umum lagi apa yang menjadi soal dengan social media, yang dapat mengurangi level kebahagiaan individu?

Tiga variabel di bawah ini cukup menjadi alasan.

Pertama, Intensitas bermain facebook mengurangi intensitas individu untuk terkoneksi face to face dengan lingkungannya. Komunitas virtual tak sehangat komunitas face to face.

Dalam aneka riset, itu sudah menjadi pandangan umum, relasi yang hangat dengan keluarga, teman dan komunitas adalah hal yang utama untuk melahirkan kebahagiaan. Relasi itu adalah hubungan face-to-face, bukan hubungan virtual.

Dunia virtual tetap bisa menjalin komunikasi, bertukar pesan. Namun kehangatan relasi face-to face, saling melihat, menyentuh, kontak mata dalam ruangan yang sama, tak bisa digantikan oleh komunikasi virtual.

Kedua, fokus mengerjakan aktivitas, hidup dalam momen ke momen dengan intensitas tinggi, dalam waktu yang cukup, tanpa terinterupsi, itu juga fondasi kebahagiaan. Intensitas bersilancar dalam facebook justru acapkali membuat individu sulit fokus, terganggu oleh aneka distorsi.

Mereka yang seminggu lepas dari facebook umumnya melaporkan lebih intens dengan pekerjaan dan aktivitasnya, dibandingkan ketika selalu menggunakan facebook di sela-sela waktu.

Flow atau kenikmatan intensitas mengerjakan suatu kegiatan yang disukai memang memerlukan waktu yang cukup tanpa ada gangguan. Memainkan Facebook on and off mengganggu tersedianya intensitas perhatian individu pada satu pekerjaan.

Ketiga, mereka yang lepas dari facebook merasakan lebih memanfaatkan waktu untuk hal yang lebih penting dalam hidupnya. Bermain facebook dianggap terlalu banyak membuang waktu, ternyata. Terlalu banyak remeh-temeh di Facebook.

Dengan sendirinya, perasaan (self-perception) mengerjakan hal yang lebih berarti bagi hidup memiliki konsekwensi signifikan bagi naiknya level kebahagiaan individu itu.

-000-

Apakah riset ini merekomendasikan jangan bermain facebook atau lupakan social media jika ingin berbahagia?

Tidak sama sekali. Kitapun bisa menginterpretasikan temuan itu secara lebih positif. Rekomendasi riset itu hanya masalah porsi manajemen waktu saja dalam bersilancar di dunia social media.

Relasi face-to-face jangan dikalahkan oleh komunitas virtual. Justru bisa sebaliknya, social media yang ada kita gunakan untuk membuat kita lebih terhubung dengan kawan lama/baru dan grup lama/baru. Social media menjadi perantara, simulasi saja untuk tetap menjalin hubungan face-to-face.

Banyak kawan lama yang dulu akrab bersama dan menghilang justru bisa terhubung kembali melalui social media.

Kitapun bisa mengatur waktu pemakaian social media. Perkejaan utama yang membutuhkan intensitas dan fokus tetap didahulukan, dinikmati dan dituntaskan. Perlu dibuat habit untuk fokus di satu pekerjaan, tanpa terganggu oleh "sedikit-sedikit" surfing di social media.

Memamg yang perlu dihindari pemandangan umum banyak hubungan keluarga saat ini. Ayah, ibu dan kedua anak duduk di satu meja makan yang sama di rumah ataupun sebuah restoran. Namun mereka tidak menikmati kebersamaan untuk saling share cerita.

Mereka tidak memanfaatkan waktu untuk membangun kualitas komunikasi antar anggota keluarga. Masing-masing seolah terpisah, berjarak, dan sibuk dengan handphone dan social medianya.

Mereka bersama secara fisik, bahkan satu meja. Namun mereka saat itu tidak menikmati kebersamaan itu karena dipisahkan oleh handphone dan dunia social media masing-masing.

Dengan kemampuan kita mengontrol waktu penggunaaan social media, dan lebih banyak membaca serta mengisi content yang meaningful di sana, justru social media dan handphone menjadi teknologi pembebasan untuk memperkuat individu.

Tak harus punya TV sendiri atau koran sendiri, seorang Individu yang kreatif justru bisa menggunakan social media menyebarkan gagasannya secara sangat murah dan mudah. Top 30 individu paling berpengaruh di dunia internet yang dipilih Majalah TIME 2015, misalnya, justru didominasi bukan politisi atau selebriti dunia. Sebagian besar mereka adalah rakyat biasa.

Social media bisa menjadi bagian public service yang justru meningkatkan level kebahagiaan aneka individu kreatif.

Dalam hubungannya dengan hidup bahagia, yang penting memang bukan relasi virtual, tapi relasi yang lebih bertatap muka. Dunia virtual hanya jembatan untuk mengakrabkan diri dalam relasi tatap muka.***

 

 

 

  • view 249