Bab IC: Kualitas Bukan Kuantitas Relationship

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

7.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bab IC: Kualitas Bukan Kuantitas Relationship

Bab IC: Kualitas Bukan Kuantitas Relationship

Yang penting kualitas bukan kuantitas dari hubungan pribadi. Bukan jumlahnya, bukan banyaknya, tapi kedalaman, keakraban, dan kesediaan membagi hati kepada keluarga, sahabat, komunitas, walau dalam jumlah orang yang sedikit saja.

Di stasiun kereta api Shibuya Tokyo, sejak 21 Mei 1929, banyak penumpang terpana. Seekor anjing datang sebelum kereta sore tiba. Anjing itu terus menunggu sampai penumpang terakhir turun. Ketika stasiun sepi, Anjing itu pergi kembali.

Berulang-berulang Anjing itu melakulan hal yang sama, di setiap hari kerja. Menunggu kereta datang. Satu persatu diperhatikannya penumpang yang turun. Ketika stasiun sepi, anjing itu pergi lagi.

Enam tahun sudah sang Anjing mengerjakan hal sama. Hingga suatu hari ajal menjemput anjing itu di tanggal 8 maret 1935.

Diketahui luas kemudian, anjing itu selalu menunggu untuk menjemput tuannya pulang kerja. Sang tuan Eizaburo Euno seorang profesor agrikultur yang mengajar di Universitas Tokyo. Padahal tuannya sudah lama meninggal dunia.

Sebelumnya, sang profesor begitu bersahabat dengan anjingnya. Ia merawat anjing itu seperti merawat anaknya sendiri.

Sejak lama sang profesor menginginkan seekor anjing yang murni species Jepang jenis Akita Puppy. Mahasiswanya menyarankan profesor Ueno
mengadopsi seekor anjing yang menyerupai idamannya, yang kemudian diberi nama Hachiko.

Para tetangga menyaksikan betapa dalam persahabatan terjalin antara tuan dan anjingnya. Kemana-mana, mereka selalu berdua. Waktu special bagi Hachiko menunggu sang tuan pulang kerja di stasiun kereta Shibuya Tokyo.

Suatu hari di bulan Mei 1929, profesor Ueno tak kembali ke rumah karena sakit dan meninggal. Hachiko tak mengetahui sahabatnya dan majikannya itu meninggal.

Ia menunggu saban sore di tempat biasa. Mungkin anjing itu juga heran mengapa tuan dan sahabatnya tak pernah pulang. Mengapa tuannya tak lagi muncul seperti biasa.

Bertahun-tahun anjing itu tetap setia menunggu. Tak seharipun dilewatkan. Penduduk yang tersentuh berulang-ulang membicarakan Hachiko dengan rasa haru mendalam.

Hachiko menjadi berita utama koran terkenal Jepang Asashi Shimbun tahun 1932. Anjing ini perlahan menjadi simbol loyalitas yang dirindukan masyarakat Jepang.

Di tahun 1934, bulan April, patung Hachiko dibangun di stasiun Shibuya Tokyo. Ia menjadi simbol nasional bagi persahabatan yang setia, menyentuh dan bertahan lama. Para orang tua mengajarkan anak-anak agar mengembangkan persahabatan seperti hachiko dan profesor Ueno.

Kualitas dan bukan kuantitas persahabatan seperti Hachiko itu yang sangat menyehatkan.

-000-

Besarnya makna persahabatan bagi manusia sudah pula dibuktikan berkali-kali melalui riset akademik.

Inilah riset yang paling panjang yang pernah dibuat dalam sejarah manusia. Sebuah riset diberi nama Harvard Study of Adult Development dilakukan secara konsisten selama 75 tahun.

Sebanyak 724 manusia diteliti sejak 75 tahun lalu, ketika saat itu mereka masih remaja. Sebagian besar responden sudah wafat. Tersisa tinggal 60 responden yang kini usianya sudah 90an tahun.

Namun riset atas mereka terus berlanjut. Kini riset dilanjutkan kepada 2000an anak dan cucu responden tersebut. Sejak 75 tahun lalu kehidupan responden diteliti. Mereka tak hanya diwawancarai. Namun rekord kesehatan mereka juga dipelajari. Hubungan mereka dengan keluarga dan lingkungan direkam dalam video.

Riset dimulai pertama kali di tahun 1938. Robert Waldinger direktur riset yang keempat. Karena begitu panjangnya riset, direkturnya pun berganti hingga empat kali dari generasi ke generasi.

Sebanyak 724 responden diambil dari dua komunitas yang kontras. Kumpulan responden pertama dari komunitas kalangan elit, para mahasiswa Harvard sendiri. Mereka secara ekonomi termasuk yang settled dengan way of life kalangan modern.

Kumpulan responden kedua diambil dari komunitas remaja yang paling miskin di Boston. Secara ekonomi, pendidikan dan way of life, mereka termasuk yang ada di kutub berbeda dengan komunitas pertama.

Salah satu tujuan riset mendalami apa yang membuat mereka tumbuh sehat dan bahagia? Atau sebaliknya, apa yang membuat mereka tumbuh tak bahagia dan tak sehat.

Yang istimewa, pengamatan atas kehidupan responden ini dicatat dan diteliti berturut-turut tanpa putus selama 75 tahun.

-000-

Riset menyimpulkan perbedaan antara ilusi dan fakta lapangan.

Survei paling muthakir soal keinginan terdalam manusia masa kini menunjukkan lebih dari 80 persen dari mereka ingin menjadi orang kaya. Lebih dari 50 persen menyatakan mereka ingin menjadi terkenal.

Keinginan ini membentuk pola hidup dan kegiatan mereka sehari-hari. Mereka ditekan untuk bekerja lebih keras, bersaing lebih ketat.

Ujung dari pola hidup itu umumnya justru berakhir dengan hidup yang tidak bahagia, tidak sehat dan tertekan.

Hidup yang sehat dan bahagia berdasarkan riset 75 tahun dari Harvard justru bersumber dari pola prilaku yang berbeda. Jika disederhanakan, mereka yang hidupnya bahagia dan sehat adalah responden yang memiliki hubungan pribadi (relationship) yang hangat, akrab dan saling menyayangi.

Relasi yang akrab dan hangat kepada keluarga, sahabat, istri/suami atau kekasih, dan komunitas adalah kunci hidup sehat dan bahagia.

Jika didetailkan, inilah jenis relasi yang memberikan efek kepada hidup yang sehat dan bahagia.

Pertama, hubungan dengan manusia lain yang akrab dan intens sangatlah penting. Mereka yang terisolasi, memilih hidup menyendiri justru berakhir buruk. Loneliness kills!

Mereka yang secara sosial lebih terkoneksi dan intens, akrab dengan keluarga, teman dan komunitas hidup lebih panjang dan lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang secara sosial kurang terkoneksi dan kurang akrab dengan keluarga, teman dan komunitas.

Kedua, bukan jumlah tapi kualitas relasi yang penting. Yang memberikan efek hidup sehat dan bahagia itu bukan banyaknya jumlah teman, keluarga atau komunitas yang kita terlibat. Tapi kualitasnya.

Lebih baik kita memiliki sedikit anggota keluarga, teman dan komunitas yang intens, akrab dan saling menumbuhkan daripada memiliki banyak keluarga, teman dan komunitas namun berhubungan yang tak akrab, tak intens dan konfliktual.

Tentu tak ada masalah dan baik- baik saja jika kita menjadi kaya atau terkenal. Namun jika ingin hidup bahagia, riset 75 tahun dari Havard menyarankan, bangunlah relasi yang berkualitas dengan keluarga, teman dan komunitas.

Yang penting bukan kuantitas, tapi kualitas dari relasi itu. Persahabatan antara Hachiko dan profesor Ueno adalah confoh nyata relasi personal yang berkualitas tinggi. Jika dengan hewan saja, persahabatan bisa terjalin dalam, apalagi seharusnya dengan sesama manusia.***

 

 

 

Dilihat 215