Bab 1B: Tumbuhkan Partnership

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

9.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 1B: Tumbuhkan Partnership

Bab 1B: Tumbuhkan Habit Partnership

Partnership itu tulang punggung dari persahabatan ataupun hubungan cinta yang erotis.


Foto kematian itu menyentuh banyak pembaca. Jeanette dan Alexander Toczco, suami-istri terbaring di tempat tidur dalam posisi mati berpelukan. Usia mereka 96 tahun dan 95 tahun.

Ujar anak dan cucu, mereka baru saja melewati hari pernikahan yang ke 75 tahun sebagai suami-istri.

Ayah wafat terlebih dahulu, ujar anaknya. Ibu yang juga sedang sakit, yang tidur di sebelahnya diberi tahu. Ibu menangis dan berkata sambil mengusap sang suami yang diam kaku: "Sayang, tercapai juga cita-citamu. Kau ingin mati dalam pelukanku. Aku segera menyusul."

Ibu meminta kami meninggalkan kamar. Ia ingin berdua saja dengan suaminya. Sehari setelah itu, ibu meninggal.

Kami sudah menduga, ibu akan menyusul ayah. Di samping kondisi ibu sudah sakit keras, mereka berdua sepasang kekasih yang selalu bersama sejak 75 tahun lalu. Yang satu tak akan tahan hidup tanpa kehadiran belahan jiwanya.

Apa penyebab suami-istri ini tetap mesra sebagai sepasang kekasih hingga ajal menjemput? Anak, cucu, dan anak dari cucu mereka selalu terharu setiap kali menceritakan kemesraan pasangan suami-istri Jeannette dan Alexander Toczko.

Tapi tak banyak perkawinan seperti mereka. Mengapa angka perceraian yang kini justru sangat tinggi? Bahkan di Amerika Serikat angka perceraian melampui 50 persen.

Mengapa banyak pasangan yang tidak menikah tak kalah romantis? Banyak pula pasangan menikah tak kalah buruknya dibandingkan pasangan yang tidak menikah?

-000-

Riset mengenai perkawinan, perceraian, pasangan yang tak menikah dalam hubungannya dengan level of happiness kini menjamur. Dalam studi kebahagiaan, topik soal ini termasuk yang paling populer.

Dari studi itu, kasus pasangan Jeanette dan Alexander Tocsko, suami-istri yang mesra sepanjang 75 tahun perkawinan adalah sebuah perkecualian. Kasus yang umum (general rule) dalam perkawinan sejalan dengan pepatah Cina: "Jika anda ingin berbahagia dalam waktu setahun, maka menikahlah."

Dengan kata lain, pernikahan dibandingkan tidak menikah perbedaanya hanya di tahun-tahun pertama belaka. Setelah tahap bulan madu dilewati, level kebahagian mereka yang menikah kembali turun seperti ketika sebelum menikah. Kebahagian karena pernikahan umumnya hanya semusim.

Perkecualian hanya terjadi untuk hubungan dengan kualitas khusus, seperti antara Jeanette dan Alexander Toczko. Dan itu tidaklah banyak.


Di tahun 2012, Cornell University menggunakan data yang dikumpulkan National Survey of Family and Household. Sampel survei sebanyak 2737 responden individu yang hidup sendiri.

Sebanyak 896 responden dari kumpulan itu kemudian menikah, atau kumpul bersama tanpa ikatan penikahan (cohabitation). Dalam studi ini pernikahan atau kumpul bersama diamati selama minimal enam tahun agar dapat dilihat efeknya dalam rentang yang panjang.

Aneka kondisi emosi responden diukur, mulai dari level kebahagiaan, relasi sosial, hubungan dengan orangtua, dan sebagainya.

Temuannya cukup menarik. Dibandingkan dengan responden yang tetap memilih hidup sendiri, mereka yang kemudian menikah atau yang kumpul bersama tanpa menikah, mengalami lonjakan kebahagiaan. Namun lonjakan itu hanya terjadi di tahun pertama sampai tahun ketiga.

Setelah setahun, dua tahun, atau tiga tahun pernikahan, level kebahagiaan mereka yang menikah dan kumpul bersama, kembali normal sama dengan yang hidup sendiri.

Bahkan pasangan yang kumpul tanpa ikatan pernikahan (cohabitation) secara umum lebih bahagia dibanding pasangan yang menikah secara resmi. Tanpa legalitas pernikahan, pasangan ini lebih terhindari dari "unwanted obligation," kewajiban tak diinginkan yang seringkali dipaksakan keluarga besar dan lingkungan kepada pasangan yang menikah.

Tanpa pernikahan, pasangan ini juga lebih fleksibel ketika mengalami up and down hubungan.

Namun pasangan yang menikah lebih stabil dalam menjaga hak dan kewajiban, terutama jika mempunyai anak. Legalitas dan lembaga perkawinan ikut mengokohkan kebersamaan mereka.

Apa yang membedakan pernikahan yang bahagia dan yang tidak bahagia? Apa yang membedakan kumpul bersama tanpa nikah yang berbahagia dan yang tidak?

Perasaan dag-dig-dug dan gelora asmara umumnya akan sirna di tahun ketiga. Yang membuat pasangan itu kemudian bahagia atau tidak adalah kualitas partnership. Ini berlaku baik yang menikah ataupun yang tidak menikah.

Kualitas partnership adalah kemampuan pasangan untuk bersahabat satu sama lain, saling berbagi suka dan duka, team-up, saling membantu. Kualitas partnership ini pula yang membuat mereka bisa bersama dalam waktu lama. Tak hanya bersama, namun juga merasakan kebahagian dalam kebersamaan itu.

Yang membedakan level kebahagiaan bukan ikatan resmi pernikahan. Semata ikatan resmi pernikahan tak banyak artinya tanpa partnership. Mereka bisa bercerai. Atau bisa hidup terpisah. Atau bisa tetap bersama namun hanya lebih untuk menjaga status sosial belaka.

-000-

Angka perceraian saat ini di semua negara beragam. Studi perceraian lebih dari seratus negara menunjukkan bahwa angka perceraian terendah terjadi di Chili (3 persen), Bahama (5 persen). Sebaliknya perceraian yang tertinggi terjadi di Portugal (68 persen), Hungaria (67 persen), Amerika Serikat (53 persen).

Memang perceraian secara umum menurun. Namun itu belum pasti karena membaiknya kualitas partnership mereka yang menikah. Itu terjadi sejak merebaknya alternatif lain dari pernikahan, cohabitation revolution: revolusi hidup bersama tanpa menikah.

Suzane M Bianchi melakukan studi di tahun 2000 untuk kasus Amerika Serikat. Kesimpulannya dua pertiga pasangan hidup umumnya pernah tinggal bersama sebelum menikah. Dalam tahap inilah mereka merasakan apakah ada kecocokan.

Jika merasa cocok, mereka bisa menikah. Bisa pula mereka tetap melanjutkan dengan ikatan tanpa pernikahan. Jika tak cocok, mereka berpisah tanpa perlu bercerai karena belum terikat perkawinan. "Uji coba" dalam kumpul bersama tanpa nikah ini ikut mengurangi prosentase perceraian di Amerika Serikat, belum tentu karena membaiknya kualitas partnership.


-000-

Jennete dan Alexander Toczko dalam usia 96 dan 95 tahun menghembuskan nafas terakhir di ranjang yang sama. Mereka tetap berpelukan dalam kematian, sebagaimana dalam kebersamaan selama 75 tahun.

Tips yang bisa diberikan jika ingin merasakan hubungan cinta yang panjang dan membahagiakan seperti Jennete dan Toczko, carilah kekasih yang dapat menjadi sahabatmu sekalian.

Partnership adalah kunci kebahagian dan stamina dalam kebersamaan sepasang kekasih, baik yang memilih menikah, ataupun yang memilih tidak menikah. Spirit dari partnership itu adalah persahabatan, merawat dan menikmati kebersaman.

Seperti yang ditulis Kahlil Gibran, dalam Sang Nabi:

Bersamalah kamu dalam hidup.
Bersamalah kamu menjemput maut.
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam suka cita
Bersama pula dalam ingatan sunyi Tuhan
Namun biarkan masing-masing menikmati ketunggalannya
Bukankah dua tali rebana mempunyai bunyinya sendiri, walau lagu yang sama sedang mereka mainkan

Kahlil Gibran memberikan tips yang sangat puitik bagi partnership sepasang kekasih, sepasang sahabat dalam cinta.

Apa itu partnership dalam tulisan ini?  Partnership adalah kualitas hubungan pribadi yang diwarnai kesediaan berbagi hati dalam suka dan duka untuk tumbuh bersama.  Kualitas ini yang membuat hubungan dengan orang lain menjadi nikmat, bermakna dan membuat bahagia.***

 

  • view 258