Bab 1: Personal Relationship

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

9.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 1:  Personal Relationship

Habit dan Mindset Bahagia (1): Personal Relationship

Awalnya adalah mindset dan habit.  Apa jadinya jika anak elang dibesarkan oleh induk ayam? Secara lahiriah ia sebenarnya anak elang. Tapi mindset dan habitnya sejak lahir ia diperlakukakan dan meyakini ia anak ayam.

Anthony de Mello seorang  pastur Jesuit dan guru spiritual lahir di India. Ia ikut mengisahkan anak elang yang dibesarkan oleh induk ayam, dalam bukunya The Song of Bird (1982). Ini sebenarnya kisah rakyat yang diceritakan turun temurun di banyak wilayah dalam rangka pengajaran filsafat hidup.

Ketika induk ayam mengeram banyak telur, petani menyelipkan telur elang diantara telur ayam. Pada suatu hari  semua telur itu menetas, termasuk telur elang. Semua yang menetas berperilaku yang sama mengikuti sang induk ayam. Semua anak ayam, termasuk anak elang, makan dan minum yang sama. Mereka berebut anak cacing.  Mereka berjalan  di sawah.  Mereka bermain  di parit.

Suatu ketika anak elang itu menjadi tua. Ia melihat elang terbang di angkasa. Anak elang itu berpikir betapa gagahnya burung itu, terbang mengangkasa, menembus langit. Ia bertanya kepada induknya, induk ayam, burung apakah itu? Induk ayam menjawab itu burung raja langit dari dunia yang jauh.

Kata induk ayam, elang itu ditakdirkan untuk menguasai langit. Sementara tempat kita semua di parit dan di sawah.

Sampai mati si anak elang itu berpikir ia hanyalah anak ayam. Sudah nasibnya tak bisa terbang mengangkasa. Hanya sampai di darat saja takdir hidupku, ujar si anak elang itu. Walau ia anak elang, apa daya akibat mindset dan habitnya, ia hidup dan matinya sebagai anak ayam.

Begitu besar pengaruh yang dilahirkan  oleh sebuah habit dan mindset.   Habit yang berbeda, mindset yang berbeda, melahirkan prilaku yang berbeda. Prilaku yang berbeda menghasilkan produk dan karakter yang juga berbeda.

Habit dan mindset yang melahirkan orang sukses pasti berbeda dengan habit dan mindset yang melahirkan orang gagal. Habit  dan mindset  yang membuat orang bahagia, juga berbeda dengan habit dan mindset yang membuat seseorang  menderita.

-000-

Habit istilah untuk pola prilaku otomatik yang dilakukan individu. Habit ini terbentuk karena prilaku yang berulang-ulang terjadi.  Mindset kata kunci untuk kerangka  berpikir yang membenarkan dan menghasilkan sebuah habit.

Mereka yang punya habit merokok setiap pagi sebagai misal, prilakunya akan terjadi otomatis saja. Bangun tidur, tanpa berpikir lagi ia langsung mencari rokok dan menyalakannya. 

Mereka yang punya habit berdoa setiap pagi juga melakukannya secara otomatis belaka. Ketika mata terbuka, tak berpikir apa-apa lagi ia segera berdoa.

Habit merokok dan berdoa itu sangat sulit diubah jika individu bersangkutan mengembangkan mindset dan kerangka berpikir melegitimasi habit itu.

Sebagaimana merokok dan berdoa rutin, bahagia  juga buah dari habit dan mindset.  Bagaimanakah habit dan mindset yang membuahkan hidup bahagia dan bermakna?

Riset lebih dari 30 tahun sudah dilakukan banyak pakar, mulai dari positive psychology, sosiologi, ekonomi, politik bahkan neuro-science. Aneka isu sudah dieksplorasi oleh aneka peneliti, universitas atau lembaga riset lainnya. Ribuan publikasi soal Happiness sudah diterbitkan. Begitu banyak kasus sudah distudi-bandingkan.

Saya   merangkum ribuan riset ini dalam parameter yang sederhana. Saya menamakannya Lima Habit  dan Mindset Bahagia.  

Agar mudah diingat,  lima habit dan mindset itu saya ringkas dalam formula  3P+2S: Personal relation, Positivity, Passion (3P) + Small Winning dan Spiritual Life (2S). Formula 3P+ 2S sudah mengandung aneka dimensi untuk hidup bahagia dan bermakna.

Jika  prinsip ini menjadi habit dan mindset  seseorang, niscaya ia  akan merasakan hidup yang bahagia dan bermakna.

Dalam bab ini kita mulai dengan P yang pertama: Personal relation. Yang kita maksud dengan pesonal relation adalah hubungan pribadi, hubungan interpesonal seseorang dengan orang lain dalam keluarga dan lingkungan sosial lainnya.

Dimanapun, kapanpun, dengan siapapun dirimu berada, tumbuhkan semangat untuk bersahabat. Yaitu sikap yang memang diniatkan untuk mengakrabkan diri, menikmati hubungan sosial, mendengar, membantu, melewati kebersamaan dengan orang lain.

Pemikir Sartre menyatakan Hell is other people! Banyak interpretasi atas ungkapan ini yang dianggap kurang positif terhadap eksitensi orang lain. Mindset dan habit bahagia justru sebaliknya: orang lain itu adalah kegembiraan sejauh terbina hubungan yang personal, yang akrab.

Akan jauh lebih meaningful  jika kita bersahabat dalam aneka lingkungan:  dengan individu dalam keluarga, individu di  tempat kerja/sekolah, komunitas dan teman bermain, bersahabat dengan kekasih, dengan individu dalam lingkingan profesional, dan sebagainya. Semakin beragam lingkungan persahabatan, semakin kaya nuansa relasi personal.

Suatu ketika Thomas Aquinas berkata: pemberian hidup paling berharga  adalah persahabatan sejati. Tiada mengalahkannya. Kini aneka riset akademik  membuktikan betapa persahabatan menjadi variabel paling utama membuat hidup seseorang bermakna dan bahagia.

Nuansa lebih detail mengena personal relation akan kita kisahkan  dalam bab ini.

A) Tumbuhkan Habit dan Mindset bersahabat (Personal Relationship)

Apa yang membedakan 10 persen individu paling bahagia dan 10 persen individu paling tak bahagia? Salah satu penyebabnya berdasarkan riset akademik: jalinan persahabatan dan komunitas.

Mereka yang paling bahagia dikelilingi para sahabat, dan hidup dalam komunitas yang akrab. Mereka yang paling tidak bahagia hidup menyendiri, atau sulit bersahabat dan tidak hidup akrab dalam komunitas.

Sebagian kita masih ingat lirik lagu itu:

Keep smiling, keep shining
knowing you can always count on me, for sure.
That's what friends are for

For good times, for bad times
I 'll be on your side forever more
That's what friends are for

Ini lagu dipopulerkan oleh Dionne Warwick tahun 1985. Namun yang pertama kali menyanyikannya Rod Steward di tahun 1982, untuk sound track film Night Shift.

Lagu ini ditulis oleh Burt Barcharach dan Carole Bayer Sager. Liriknya melukiskan indahnya persahabatan sejati yang saling membagi, menemani di kala musim baik atau musim buruk.

Barcharach dan Sager mengekspresikan saja apa yang dirasakannya sebagai persahabatan. Mereka tak menduga jika kini soal itu menjadi kajian riset empirik yang populer menghubungkan persahabatan dengan level kebahagiaan.

-000-

Dua riset soal itu banyak dikutip. Pertama riset dari sosiolog di tahun 1970: Mark Granovetter. Ia meneliti pengaruh hidup dalam komunitas yang akrab dan yang biasa saja (strong ties and weak ties).

Komunitas yang akrab (strong ties) adalah interaksi dengan keluarga, para sahabat dan teman kerja yang dekat. Mereka lingkungan individu yang memiliki pertautan emosional yang sudah kuat dan panjang.

Komunitas yang biasa saja (weak ties) interaksi dengan orang sekitar yang kita kenal tak terlalu akrab, tidak memiliki rekam kebersamaan yang personal dan panjang.

Riset ini kemudian dikembangkan oleh Gillian Sandstrom dan Elizabeth Dunn di tahun 2014 untuk melihat koneksinya dengan level kebahagiaan.

Dua kelompok dipilih untuk diteliti. Pertama sejumlah 53 orang dewasa berusia di atas 25 tahun. Dan kedua, 58 mahasiswa tahun pertama universitas.

Setiap individu dalam dua kelompok ini diminta berkomunikasi setiap hari baik dengan orang-orang yang dekat dan akrab (strong ties), ataupun yang hanya kenal baru saja atau kenal lama namun tak punya ikatan emosional yang kuat (weak ties).

Setiap kali berinteraksi, mereka diminta memberikan penilaian dalam skala: apa efeknya bagi emosi responden.

Rata-rata dalam sehari, responden berjumpa dengan 6-7 orang yang akrab (strong ties) dan 11-12 orang yang kenal biasa (weak ties).

Riset menyimpulkan semakin sering kita berjumpa dengan siapapun, baik yang akrab ataupun yang kenal begitu saja, semakin kita merasakan bagian dari hidup berkomunitas yang lebih besar.

Namun emosi positif, level kebahagian jauh lebih besar terbangun jika kita lebih sering kontak dengan mereka yang akrab (strong ties). Perjumpaan yang lebih intens dengan yang akrab, memberikan keceriaan dan level kebahagiaan yang bertambah.

-000-

Ed Diener dan Martin memperkaya nuansa itu dalam riset yang dipublikasi di tahun 2002. Mereka meneliti 222 responden mahasiswa undergradute. Sejumlah responden itu disaring terlebih dahulu dalam riset untuk mengklasifikasi level kebahagiannya.

Peneliti memilih 10 persen responden yang paling bahagia, 10 persen yang paling tidak bahagia dan 27 persen yang berada di level rata-rata saja. Diteliti dengan cermat variabel apakah yang membedakan level kebahagian responden ini.

Kesimpulannya, disamping tipe personality dan karakter bawaan, hubungan sosial yang akrab adalah penyebabnya.

Sejumlah 10 persen individu yang paling bahagia adalah mereka yang dikelilingi para sahabat, keluarga, teman kerja yang punya hubungan positif emosional yang kuat. Mereka berhubungan secara intens.

Sebaliknya 10 persen individu yang paling tak bahagia lebih terisolasi dan memiliki hubungan sosial yang buruk dibandingkan yang level bahagianya rata-rata.

Persahabatan, keluarga yang hangat dan memiliki teman sekerja yang akrab hal besar untuk mencapai hidup bahagia.

-000-

Riset lain mencoba memberikan aneka nuansa persahabatan.

Berapa jumlah sahabat yang dimiliki oleh individu yang level kebahagiaannya tinggi? Riset menemukan jumlah sahabat dari individu yang bahagia berkisar 5-10 orang saja.

Jumlah sahabat memang tak bisa terlalu banyak karena membagi hati dan waktu tak bisa dilakukan pada terlalu banyak orang.

Bagaimanana jika hanya memiliki satu sahabat saja? Ini jumlah yang riskan karena jika satu sahabat itu hilang (wafat, pindah ke lain kota, berubah menjadi musuh), individu yang bersangkutan hidup tanpa sahabat. Membangun persahabatan tak bisa terbentuk cepat. Ia butuh pengalaman bersama tahunan.

Apa yang membedakan sahabat dan teman biasa? Sahabat adalah mereka yang kita bisa lepas bercerita diri apa adanya, termasuk masalah pribadi, dan tak takut dihakimi. Dan kitapun bersedia mendengar, menyediakan waktu untuk masalah pribadinya.

Kualitas percakapan yang masuk ke dimensi paling personal, berbagi masalah, mendapatkan dukungan, apalagi ada pengalaman bersama mengatasi persoalan, itu yang berpengaruh pada level kebahagiaan, life-satisfaction dan subjective well-being.

Individu yang bahagia cenderung juga memiliki sahabat yang bahagia. Seperti virus, kebahagiaan juga menular dan menyebar. Mereka yang dikelilingi oleh orang yang bahagia cenderung ikut terpengaruh memiliki postive mood.

Umumnya sahabat terbentuk dengan teman bermain yang seusia. Namun sahabat juga bisa terjalin dalam hubungan keluarga, dan dalam hubungan kerja. Hal yang biasa juga jika persahabatan terbangun antara individu yang usianya berbeda jauh.

Suara Dionne Worwick terus mengalun

For good times, for bad times
i 'll be on your side forever more
That's what friends are for

Sahabat memang buah terlezat yang disediakan pohon kehidupan.  Kembangkanlah habit dan mindset yang menikmati persahabatan. 

  • view 366