Mindset dan Habit Hidup Bahagia: Pengantar

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.5 K Hak Cipta Terlindungi
Mindset dan Habit Hidup Bahagia: Pengantar

Mindset dan Habit Bahagia

(Pengantar Bahagia  itu Mudah dan Ilmiah)

Denny JA

Walau tidak hidup di negeri dongeng seperti kisah Cinderella, dengan semua keterbatasan yang ada, bisakah saya hidup sangat bahagia? Saya bukanlah orang yang kaya (super rich), bukan orang berkuasa, juga bukang jenius. Saya bukan pula individu dengan bakat seni menghasilkan karya gemilang. Namun bisakah saya menjalani hidup yang penuh makna?

Pertanyaan di atas lazim diajukan setiap individu ketika berada di puncak perenungan diri. Di antara kesibukan dan rutinitas, kadang terbesit pula pertanyaan eksistensial itu: apakah hidup yang saya tempuh saat ini akan membuat saya bahagia?

Berita baiknya, ilmu pengetahuan memberi kabar kini setiap individu, termasuk anda dan saya, bisa hidup bahagia dengan cara yang mudah dan ilmiah. Dengan satu syaratnya, kita harus hidup dengan mindset dan habit bahagia seperti yang dirangkum dalam buku kecil ini.

Umumnya kita semua ingin hidup seperti yang diimajinasikan kisah dongeng. "Dan mereka akhirnya hidup bahagia selamanya. Live happily ever after." Itulah kalimat penutup Kisah Cinderella. Putri miskin yang baik hati dan Sang Pangeran akhirnya hidup bersama dengan bahagia.

Happy ending ini menjadi standard aneka kisah dongeng lainnya. Itu ada dalam kisah Aladddin, Ali Baba dan 40 Pencuri, Alice's Adventure in Wonderland, The Ant and the Grashopper, I dream of Jennie, dan sebagainya.

Kisah dongeng itu narasi keinginan kolektif terdalam dan terkuat manusia. Para pencipta dongeng sudah menyelami detak terhalus batin manusia. Bagaimanapun bentuk perjuangannya, siapapun orang itu, dimanapun ia berada, kapanpun peristiwanya, pada akhirnya kita semua ingin hidup berbahagia. Jika bisa, bahagia selamanya.


-000-

Sekitar 2500 tahun lalu, di India, di era kerajaan Mahajanapada, Siddhartha Gautama duduk termenung. Berhari-hari ia di sana, dibawah pohon yang kini disebut Bodhi Tree. Intens direnungkannya mengapa hidup penuh derita. Mendalam dieksplorasinya cara membebaskan diri dari derita.

Ia sudah melewati hidup dalam dua lingkungan yang berbeda ekstrem. Sejak masa kecil hingga muda, ia menikmati puncak kemewahan dunia. Selaku anak bangsawan, ia punya banyak istana. Orangtuanya sengaja mengasingkannya dari aneka kekurangan dan kemiskinan yang ada di luar istana.

Suatu ketika ia keluar istana, melihat dunia yang berbeda. Ia terpana dengan aneka penyakit, kemiskinan dan kekumuhan di luar sana. Siddhartha pergi meninggalkan istana, mencoba hidup dalam lingkungan ektrem lainnya: jalan asketisme.

Ia tapa brata, meninggalkan keluarga, hidup secara miskin, menolak kemewahan dunia. Kini disadarinya, dua lingkungan itu, baik yang mewah ataupun yang miskin, bukan jawaban.

Di bawah pohon itu, Siddhartha kemudian mendapatkan pencerahan. Pembebasan diri dari penderitaan, menuju kebahagian sejati pertama-tama bukan karena lingkungan. Ia bersumber dari pikiran yang benar, perbuatan yang benar, jalan hidup yang benar.

Siddhartha menjadi Buddha. Ia menuliskan filsafat yang sangat intens mengenai penderitaan dan cara mengakhirinya. Lahirlah aneka perenungan yang kemudian disucikan menjadi doktrin agama.

Setelah Buddha, lahir aneka agama besar lain. Dengan nuansa dan ritus berbeda, wahyu dari langit ini juga mewartakan jalan mencapai bahagia sejati.

Kini 2500 tahun setelah Buddha, peradaban sudah bergerak maju. Spekulasi filsafat digantikan oleh riset ilmiah. Pertanyaan yang sama dijawab tak lagi melalui renungan dan kontemplasi belaka, tapi dengan labolatorium, scanning otak manusia, survei opini publik, studi kasus, uji statistik, riset eksperimental dan aneka teknik riset lainnya.

Positif psikologi, ekonomi, sosiologi, hingga neuro-science kini menggantikan posisi Siddhartha Gautama mencari jawab atas pertanyaan yang sama: apa akar penderitaan? Bagaimana cara bebas darinya, menuju bahagia sejati?

-000-

Pohon peradaban kini sudah tumbuh dengan buah yang sangat unggul. Itu buah pengetahuan bagi setiap individu untuk hidup bahagia dengan mudah dan ilmiah.

Pelajaran berharga datang dari 200 ribu-300 ribu usia umat manusia (homo sapiens) di bumi. Tiada lengkap semua pencapaian, semua perjuangan, dan panjangnya hidup manusia jika ia tidak berbahagia.

Bahkan bisa dikatakan rasa bahagia yang sejati pertanda seseorang sudah menjalankan hidup yang benar sesuai dengan situasinya. Rasa bahagia itu sejenis alarm. Jika kita tak bahagia, berarti ada "wake up call," ada yang salah dengan hidup kita, terlepas dari aneka ikhtiar yang sudah dikerjakan.

Peradaban masa kini sudah memungkinkan manusia mencapainya dengan mudah. Ia mudah karena tak memerlukan guru sakti atau pendidikan panjang untuk memahami caranya. Aneka tips dan persepsi mengenai cara bahagia dapat dilakukan oleh setiap individu, tanpa perlu persyaratan yang tak mungkin dikuasainya.

Peradaban juga melahirkan buah pengetahuan bahagia itu melalui aneka riset akademik. Tips bahagia menjadi sejenis spiritualitas di era Google yang bersandar pada ilmu pengetahuan.

Selama ini pedoman untuk bahagia datang dari spekulasi filsafat atau wahyu dari langit. Kini untuk pertama kalinya, pedoman itu dirumuskan berdasarkan hasil riset akademik.

Spiritualitas kebahagiaan bersandarkan ilmu ini tidak menjadi pengganti agama atau filsafat hidup. Ia menjadi partner yang memperkaya dan filter yang menyeleksi aneka wisdom masa lalu. Riset menunjukkan memang tersedia kearifan lama yang  membuat bahagia. Namun ada pula wisdom lama  yang ternyata hanya ilusi.

Spritualitas baru  kebahagiaan kini sepenuhnya bersandar pada riset ilmu pengetahuan.  Ia bisa dipraktekkan melalui jalur agama, atapun melalui jalur lainnya. Bisa dipraktekkan oleh mereka yang meyakini agama, ataupun yang tak lagi meyakini agama. Bisa dipraktekkan oleh mereka yang meyakini Tuhan ataupun yang punya konsep lain mengenai sumber kebaikan.

-000-

Karena riset ilmu pengetahuan, kini kita bisa membuat formula dan kuantifikasi. Ternyata 50 persen level kebahagian kita itu bawaan lahir yang tercetak dalam otak setiap individu. Namun masih ada 50 persen sisa yang berada dalam kontrol manusia.

Karena riset ilmu pengetahuan, kitapun membedakan dua jenis kebahagiaan.  Ada pleasant happiness: hidup bahagia yang sekedar absennya emosi negatif dan rintangan, serta hidup yang terasa mudah dengan aneka kesenangannya.

Ada pula meaningful happiness: hidup yang bermakna, yang berjuang, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekedar kepentingan pribadi. Dalam maqom meaningful happiness, aneka kesulitan dan penderitaan kadang tak terhindarkan. Namun aneka kesulitan dan tekanan hidup mendapatkan maknanya yang baru.

Buku kecil ini merangkum aneka hasil riset soal happiness selama puluhan tahun dari aneka disiplin ilmu pengetahuan: psikologi, sosiologi, ekonomi, politik hingga neuro-science. Hasil riset itu diperkaya dengan kisah dan hikmah. Ditambah dengan riset dan pengalaman hidup pribadi, saya meraciknya ke dalam bahasa populer berupa lima mindset dan habit kebahagiaan.

Lima habit kebahagiaan? Habit adalah prilaku yang dilakukan berulang kali sehingga melahirkan respon yang terpola. Mereka yang berbahagia dan yang tidak dapat terlihat dari mindset dan habitnya. Dengan mempraktekkan lima habit yang dirangkum di buku kecil ini, hidup potensial berubah lebih bahagia, dan lebih bermakna.

Lima habit itu adalah 3P + 2S: Personal relation, Positivity, Passion (3P), Small Winning, dan Spiritual Life (2S). Detail lima habit dan mindset bahagia itu akan diurai dalam buku kecil ini.

Setelah Siddhartha menjadi Buddha, muridnya bertanya, jalan apakah yang harus ditempuh menuju kebahagiaan? Siddhartha menjawab: "Tak ada jalan menuju kebahagiaan. Kebahagiaan itu adalah jalan."

Jawaban Siddharta menggunakan bahasa tinggi. Kini ilmu pengetahuan menguraikannya dalam mindset, habit dan  tips  dengan bahasa mudah dan ilmiah.***


Juli 2016

 

 

 

  • view 938