The Science of Happiness (29): Cinta yang Bagaimana?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 04 Juli 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (29): Cinta yang Bagaimana?

The Science of Happiness (29):

Cinta Yang Bagaimana?
Denny JA

Apa yang rela dirimu korbankan untuk selalu bersama dengan kekasih tercinta? How low can you go?

Pertanyaan ini sangat mengganggu Erward VIII. Ia pangeran yang akan menjadi raja United Kingdom dan British Dominions.

Ayahnya baru saja mangkat, di bulan Januari 1936. Sebaga anak tertua dari Raja Inggris, George V, otomatis ia yang berikutnya menjadi raja: George VI.

Namun cintanya pada Wallis Simpson sudah terlalu dalam. Di puncak asmara, kadang ia menulis surat buat kekasihnya tiga kali sehari.

Protokol kerajaan melarangnya menikah dengan Wallis Simpson. Alasannya sangat sederhana. Kekasih hatinya adalah istri orang lain. Wallis juga seorang sosialita kelahiran Amerika, bukan darah biru inggris.

Sebagai raja inggris ia otomatis juga menjadi pimpinan gereja Inggris. Aturan gereja juga melarangnya menikahi wanita yang bercerai jika mantan suaminya masih hidup.

Ia harus memilih: tahta atau cinta? Jika ingin tetap menjadi raja, ia harus mengucapkan salam perpisahan kepada wanita pujaannya. Sebagai raja iapun akan didesak menikah dengan putri lain agar raja memiliki keturunan.

Jika ingin cinta, tetap bersama wanita pujaan, ia tak bisa menjadi raja. Kerajaan akan tercoreng karena raja melanggar aneka ketetapan yang sudah diwarisan turun temurun.

Kisah Edward VIII dan kekasihnya Wallis Simpson tak hanya meresahkan hatinya. Seluruh kerajaan, politisi, media dan rakyat Inggris membicarakannya.

Setelah lama menimbang. Edward mengambil keputusan. Saya, ujar Edward, tak bisa menjadi raja yang baik tanpa kehadiran wanita yang sangat saya cintai, Simpson Wallis.

Demi cinta, Edwardpun mundur sebagai raja Inggris. Ia menyerahkan tahta kepada adiknya: Albert. Edward memilih menepi, menghilang dari dunia hiruk pikuk, hidup bersama Wallis Simpson.

Untuk kasus Edward, jabatan raja ia tinggalkan demi kekasih tercinta.

Kisah Edward dan Wallis simpson dikenang sebagai kisah cinta paling dramatik abad 20. Aneka lagu, drama dan film dibuat soal kisah cinta ini.

-000-

Tapi berbahagiakah Edward dan Wallis setelah menyingkir dari hiruk pikuk kerajaan? Hubungan cinta bagaimana yang membuat pelakunya berbahagia?

Bianca Acevoda dari University California dan Arthur Aaron mereview 25 kasus riset hubungan cinta yang melibatkan 6.070 individu. Para responden dipilih yang terlibat asmara baik jangka pendek ataupun jangka panjang.

Secara khusus mereka menelaah 17 studi kasus asmara yang hanya bertahan kurang dari empat tahun. Responden umumnya berusia 17-23 tahun.

Mereka juga menganalisa 10 studi kasus asmara yang bertahan di atas 10 tahun. Responden kelompok ini berusia lebih beragam, yang umumnya berusia 50an tahun.

Peneliti mengkategorikan tiga jenis hubungan cinta: romantic love, obsessive love dan friendship- type love.

Obsessive love untuk hubungan cinta yang sangat passionate, kental emosi, salah satu atau keduanya saling mendominasi. Ini jenis cinta menggebu-gebu, penuh rasa cemburu, dan kuat rasa memiliki.

Romantic love untuk hubungan cinta yang sama passionatenya, namun tidak possesif, tidak obsessive. Katakanlah ini versi moderat dari Obsessive love.

Friendship-type love untuk hubungan cinta yang lebih datar, lebih seperti hubungan perkawanan atau persahabatan.

Tiga jenis cinta itu dikorelasikan dengan skala life satisfaction. Yang mana dari ketiga jenis cinta yang lebih membahagiakan pelakunya?

Riset menyimpulkan. Mereka yang mengembangkan obsessive love dalam hubungan cinta sulit bertahan lama. Ini jenis cinta yang kurang memberikan ruang kepada pelaku untuk juga memiliki keleluasan privacy sendiri.

Kau dan aku dalam obsessive love terlalu manunggal hingga tiada ruang bagi perbedaan. Ia tidak mengikuti petuah Kahlil Gibran: "bahkan dua senar gitar tetap memainkan nadanya sendiri, walau lagu yang sama sedang mereka dendangkan dengan harmoni."

Cinta yang obsessive menyebabkan dan tak jarang justru disebabkan oleh pelaku yang rendah tingkat life-satisfactionnya. Mereka yang bermasalah dengan problem psikologis, insecure, rendah level trustnya, acapkali mengembangkan hubungan cinta yang obssesive.

Jenis cinta ini hanya memuaskan pelaku dalam jangka pendek saja.

Friendship-type love hubungan cinta yang paling potensial bertahan lama. Pelakunya dapat berperan menjadi sahabat satu sama lain. Ini hubungan cinta pribadi yang matang.

Dalam satu atau dua tahun, gelora asmara umumnya menurun. Yang membuat hubungan cinta berlanjut adalah keindahan persahabatan para pelaku di dalamnya.

Ini cinta yang lebih mengedepankan companionship atau partnership. Tapi pada saat yang sama, ini jenis cinta yang datar saja, kurang menggairahkan, kurang memercikkan api.

Ini tipe cinta yang lebih rasional, namun kurang mampu menginspirasi pasangan untuk menuliskan puisi cinta bagi sang kekasih.

Romantic love yang lebih passionate berdasarkan riset menjadi hubungan cinta yang lebih berkesan dan membahagiakan pelakunya. Baik ketika hubungan cintanya pendek (di bawah 4 tahun) atau panjang (di atas 10 tahun), romantic love meninggalkan kesan lebih mendalam.

Dibandingkan friendship-type love, romantic love ini lebih memercikkan passion, gairah. Namun dibandingkan obssesive love, romantic love tidak possesive.

Di satu sisi, romantic love bisa seperti friendship-type love. Pelaku cinta mengembangkan hubungan yang bersahabat. Tapi gairah dan passion dalam romantic love lebih menyala, bertahan lama, lebih membuat rindu-dendam

Ini jenis cinta yang bisa mengubah kekasih tiba-tiba membuat puisi atau mengubah lagu, terlepas dari kualitas karyanya.

-000-

Yang manakah tipe cinta antara Edward dan Wallis? Aneka riset soal dua sejoli ini setelah meninggalkan istana tidak seindah kisah cinta Romeo dan Juliet.

Behind the Close Door: The Tragic, Untold Stories of Dutchess Winsor, ditulis oleh Hugo Vikers (2011) setelah kematian Edward (1972) dan Willis (1986). Buku ini justru mengungkapkan tiada cinta mendalam di hati Wallis Simpsom. Dan betapa Edward VIII punya banyak problem psikologis.

Perkawinan keduanya dilukiskan lebih karena sejenis "mental disorder" sang Raja. Sementara pihak wanita lebih terdesak oleh lingkungan. Dua sejoli ini lebih mengalami cinta jenis yang obsessive, yang daya jangkaunya pendek saja. Ini bukan romantic love, bukan pula friendship-type love.

Kisah cinta mereka heboh bukan karena ketulusan dan kedalaman dan "kenekatan" jiwa yang merindu. Namun itu lebih karena cinta yang terjadi pada seorang yang sangat powerful dan bermasalah secara kejiwaan.

Namun kita memang sedang tidak menjadikan kasus Edward-Wallis sebagai cinta ideal yang harus dicontoh. Kita hanya sedang window shopping belaka, mengambil hikmah aneka jenis cinta.

Tips berbahagia dalam cinta ternyata lebih sederhana. Tak perlu tindakan luar biasa sekelas "'memindahkan gunung" atau "membelah langit."

Cukup tumbuhkan dua hal dalam hubungan cintamu. Jadilah teman untuk mendengar, menolong, dan melewati kebersamaan. Nikmatilah persahabatan, dan partnership dengan kekasihmu.

Namun jangan biarkan hubungan cinta menjadi datar. Ketika segala hal terasa rutin, tambahkan bumbu romansa untuk membuatnya lebih bergairah. Banyak hal yg mudah dan murah dilakukan untuk memercikkan gairah kembali kepada hubungan cinta yang mulai datar dan rutin.

Beri ruang yang luas untuk tumbuhkan, dan hidup-hidupkan cinta di hatimu.

Sesungguhnya cinta erotik (kepada kekasih), ataupun cinta brotherhood/sisterhood (kepada sesama) membuat kita merasa hidup lebih dari sekedar kumpulan peristiwa, lebih dari sekedar kumpulan benda. ***

Saur hari ke 29, 4 Juli 2016