The Science of Happpiness (23): Lebih Tua, Lebih Bahagia?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 28 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happpiness (23): Lebih Tua, Lebih Bahagia?

The Science of Happines (23)

Yang Tua, Yang Lebih Bahagia
Denny JA

Di usianya yang senja, apakah Joan Baez lebih bahagia? Bagaimana dengan umumnya kita jika usia semakin senja?

Tahun 2012, usia penyanyi aktivis Joan Baez sudah 71 tahun. Ia masih tampil di panggung, di White House. Audiencenya sangat khusus: Presiden AS Barack Obama dan keluarga, serta lingkaran istana.

We shall overcome
O, deep in my heart
I do belive we shall overcome someday

Di White House 2012, Lagu We Shall Overcome dinyanyikan kembali oleh Joan Baez. Dulu lagu ini ia nyanyikan sambil pawai berjalan kaki bersama Martin Luther King di tahun 1960an.

Di masa tersebut, usia Joan Baez baru 20an tahun. Dengan lagu itu ia memberikan semangat kepada para pejuang civil right movement. Suatu masa kita akan menang dalam perjuangan menuntut persamaan hak kulit hitam dan putih. We shall overcome.

Kini buahnya nyata: dihadapannya duduk Barrack Obama, presiden pertama kulit hitam dalam sejarah Amerika. "We shall overcome" terbukti.

-000-


Ketika usia 20an, Joan Baez tampak lebih garang dan bebas. Di usia 70-an, ia lebih tenang, nampak lebih bijaksana sebagai refleksi asam dan garam hidupnya.

Tak ada data yang bisa dieksplor untuk tahu di usia mana Joan Baez lebih bahagia. Di usianya kini yang 70-an tahun? Atau ketika ia menjadi aktivis jalanan di usia 20an, dalam dekade pancaroba 1960an?

Namun jika mengikuti studi umum, inilah hasilnya.

Pada tahun 2012/2013 European Sosial Suvei melakukan riset di 21 negara. Jumlah respondennya tak tanggung-tanggung sebanyak 29,901.

Usia responden beragam dari belasan tahun hingga sembilan puluhan tahun. Statusnya juga beragam mulai dari tidak/belum menikah, menikah, janda/duda.

Kepada mereka diajukan pertanyaan yang sama: apakah mereka merasa hidup saat ini sangat tidak bahagia, biasa saja atau sangat bahagia. Skalanya 0 untuk sangat tidak bahagia, dan 10 untuk sangat bahagia.

Mereka bisa memberi nilai (self claim), 0.1,2,5,8,10, dan sebagainya sesuai penilaian jujur mereka atas hidupnya.

Hasilnya cukup mencengangkan. Betapa umur memainkan peran penting dalam level kebahagiaan. Mereka yang belum menikah, sedang dalam pernikahan, sudah cerai dan belum menikah, mempunyai pola yang sama.

Di usia sekitar 16-29, level kebahagian umumnya individu nomor dua paling tinggi. Ketika usia meningkat 30-39, level kebahagian menurun. Usia 40-49 adalah usia krisis. Level kebahagiaan di usia itu paling rendah.

Yang tak terduga, usia 65 tahun ke atas adalah usia paling bahagia dalam siklus umur seorang iindividu. Tak peduli apakah ia menikah, belum menikah, sudah cerai, usia 65 tahun ke atas umumnya adalah puncak kebahagian individu.

Survei serupa diulang dengan responden berbeda dan oleh lembaga yang berlainan. Namun pola umur dan level kebahagiaannya tak berubah.

Dikenal teori U-curve untuk menggambarkan siklus umur terhadap kebahagiaan. Usia remaja ada di puncak kurva bahagia. Kurva menurun drastis di usia 50an. Kurvanya menaik lagi ke puncak di usia 65 tahun ke atas. Bahkan lebih tinggi dibandingkan usia remaja.

-000-

Bagaimana menjelaskannya? Mengapa usia remaja dan awal kedewasaan adalah momen kebahagiaan nomor dua? Mengapa di usia 50an justru titik nadir terendah kebahagian individu? Ada apa pula dengan usia 65 tahun ke atas? Mengapa di usia menua itu kebahagiaan menjadi puncak?

Aneka riset mengajukan berbagai variabel. Namun dua variabel ini yang paling menjelaskan: relasi sosial dan beban hidup (termasuk ekonomi).

Di usia belasan dan dua puluhan masa awal kehidupan sosial individu tumbuh. Relasi sosial masih dipenuhi oleh idealisme, trust dan keakraban. Beban hidup umumnya belum terasa karena mereka dalam tanggungan keluarga.

Setelah itu, di usia 30-an beban hidup mulai datang. Mereka semakin mandiri terpisah dari orang tua. Bahkan mereka menjadi orangtua yang menanggung beban keluarga yang lebih muda.

Kegetiran dalam relasi sosial mulai banyak. Mereka merasakan luka, trauma yang membuat trust dan keakraban dalam relasi sosial tak seperti dulu.

Usia 30an tahun, apalagi usia 40an dan puncaknya 50an adalah puncak beban hidup. Anak mereka, misalnya jika punya, entah anak kandung, tiri atau adopsi sedang membutuhkan biaya besar.

Apalagi usia 50an juga usia menjelang pensiun. Enerji tak sebanyak di masa muda. Ingin mencoba hal baru sudah terasa tua. Tak heran usia 50an adalah usia umumnya individu paling tidak bahagia.

Namun ketika individu itu mencapai usia 65 tahun, banyak hal berubah. Di usia itu, umumnya anak-anak sudah mandiri dan tak lagi menjadi beban orangtua.

Pengalaman hidup dan kearifan di usia 65 tahun ke atas berada pada puncaknya. Hubungan yang dipenuhi dengan trust dan keakraban muncul lagi.

Walhasil, berdasarkan riset yang sudah diulang-diuji, usia 65 tahun puncak kebahagiaan individu dalam siklus hidupnya.

-000-

Jika Joan Baez termasuk dalam tendensi umum, bukan perkecualian, Joan Baez di usia saat ini, di atas 70 tahun adalah momen hidupnya paling bahagia.

Apalagi jika ia menghayati lagu balada yang sering dinyanyikan olehnya dengan Bob Dyland.

How many roads has a man walk down
Before you call him a man
The answer my friend is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind.

Liirik lagu ini menggambarkan suasana hidup yang filosofis, tapi rileks saja karena semuanya tertiup angin. Suasana hidup ini lebih banyak ditemukan pada individu yang sudah arif di usia 65 tahun ke atas.

Riset ini mengubah pandangan kita tentang jalan hidup menjadi tua. Ternyata tiada yang perlu dikwatirkan ketika usia membawa kita menjadi tua.

Berdasarkan riset, menjadi tua di usia 65 tahun ke atas, justru periode yang paling bahagia.***

Saur hari ke 23, 28 Juni 2016

  • view 10.9 K