The Science of Happiness (22): Kitab Suci Kekayaan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 27 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (22): Kitab Suci Kekayaan

The Science of Happiness (22)

Kitab Suci Kekayaan
Denny JA

Bisakah kita seperti Andrew Carnegie? Suatu ketika ia berkata: "Carilah kekayaan sebesar-besarnya untuk membantu orang lain sebanyak-sebanyaknya."

Andrew Carnegie (1835-1919) salah satu orang terkaya di dunia di zamannya. Kekayaannya seperti Bill Gates atau Warren Buffet masa kini. Namun pandangan radikalnya soal kekayaan yang membuat namanya harum.

Juni 1889, artikelnya dimuat di North American Review berjudul the Gospel of Wealth: kitab suci kekayaan. Ia meletakkan perspektif baru soal derma sosial, philantropy yang kini semakin dimatangkan oleh generasi Bill Gates.

Dua isu membuatnya berbeda.

Pertama, kekayaan yang diperoleh siapapun harus digunakan sebanyak-banyaknya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Adalah kesalahan besar jika kekayaan itu diwariskan kepada anak cucunya sendiri yang segelintir.

Anda boleh dan bagus saja jika kaya raya. Namun tiada terpuji jika anda mati sebagai orang kaya. Anda harus mati dengan harta yang sudah disalurkan membantu orang banyak.

Carnegie sendiri dalam hidupnya menyerahkan 90 persen kekayaan untuk derma sosial. Keluarga yang ditinggalkan tak boleh mendapat lebih dari 10 persen.

Ujarnya, sebuah keburukan bagi anak-anak dan masyarakat, jika kita melimpahi anak-anak begitu banyak kekayaan yang bukan hasil keringatnya sendiri.

Kedua, derma sosial harus diberikan dengan cara baru agar mereka yang dibantu menolong dirinya sendiri. Jangan memberikan derma yang membuat mereka selalu bergantung seumur hidup.

Kepada yang lapar, jangan berikan hanya ikan, tapi berikan juga pancingnya. Mereka dibantu mampu menggunakan pancing untuk mencari ikan sendiri, pada waktunya.

Saat itu Carnegie berpandangan derma yang paling membantu pertumbuhan komunitas adalah pendidikan dan pengetahuan. Ia banyak membuat perpustakaan komunitas dan universitas. Di perpustakaannya, masyarakat dapat mencerdaskan dirinya dengan membaca secara gratis.

Tak lengkap menjadi orang kaya jika anda tidak mendermakan mayoritas kekayaan sebelum mati.

Begitu baru dan segar pandangan Carnegie soal kekayaan. Perspektif ini menjungkir balikkan persepsi kekayaan yang dominan saat itu.

Tidaklah heran jika Andrew Carnegie dianggap sebagai bapak charity modern, philantropy dan penderma sosial yang radikal.

-000-

Bill Gates membaca Andrew Canegie. Ia mengambil spiritnya dan mengembangkan secara lebih canggih.

Bersama Warren Buffet, ia mendirikan the Giving Pledge pada tahun 2010. Organisasi membujuk orang kaya di seluruh dunia untuk mengumumkan kepada publik komitmen mendermakan minimal 50 persen dari kekayaan.

Bill Gates dan Warren Buffet keliling dunia, ke India, China, bertemu para super kaya. Gates dan Buffet mengajak mereka bergabung menjadi satu kekuatan baru untuk membantu mereka yang terpinggirkan.

Di tahun 2012, sudah 139 orang superkaya bergabung. Total asset mereka yang bergabung sebesar 339 miliar USD atau 40 ribu trilyun rupiah. Ini kumpulan orang kaya dengan komitmen derma sosial yang terbesar sepanjang sejarah.

Yang bergabung dalam the Giving Pledge antara lain: Mark Zuckerberg, pendiri facebook. Juga terdapat nama Bloombergh, Elon Musk, David Rockefeller, Ted Turner, orang Asia dari Indonesia: Dato Sri Tahir. 

Bill Gates sendiri mengikuti Andrew Carnegie hanya menyisakan warisan kepada ketiga anaknya masing- masing 10 juta USD saja. Sebanyak 99, 6 persen kekayaannya ia niatkan untuk amal. Warisan untuk ketiga anaknya, hanya kurang dari 0,5 persen dari total kekayaannya.

Menurut Gates ia menjadi kaya juga merangkak dari bawah, dan bukan warisan orang tua. Itu tak bagus untuk anak-anak jika berlimpah warisan yang bukan karena kerjanya sendiri.

Seperti Andrew Carnegie, Bill Gates juga mendermakan kekayaannya dengan cara yang baru, dan terukur. Ia pilah penggunaannya untuk membantu kesehatan, pertumbuhan masyarakat (community development) dan untuk mempengaruhi kebijakan publik.

Yayasan charity yang didirikan Bill Gates dan istri (Bill and Melinda Gates Fondation) kini di tahun 2016 mempekerjakan 1376 orang. Yayasan ini sudah menyumbangkan dana sebanyak 36,7 milyar USD. Atau sekitar 400 trilyiun rupiah.

Setiap tahun lebih dari 500 ribu orang di Afrika saja yang mati karena malaria. Yayasan Bill dan Melinda Gates mengorganisir terapi ilmiah yang dapat mengurangi kematian secara signifikan.

-000-

Power of giving, charity, pilantrophy berderma memberikan kebahagian dan makna hidup yang signifikan kepada pemberi.

Banyak riset dilakukan untuk meneliti kegiatan amal dan level of happiness bagi sang pemberi. Salah satunya dipublikasi oleh Live Science, Key to Happiness: Give Away Money.

Riset berulang-ulang dilakukan kepada dua kelompok mahasiswa untuk berbelanja. Masing-masing mereka diberikan pecahan uang: 5-20 US dollar.

Satu kelompok diminta membelanjakan uang untuk kebutuhannya sendiri. Responden diberikan kebebasan membeli apapun dengan uang itu namun untuk keperluannya sendiri.

Kelompok kedua sebaliknya. Mereka diminta membelanjakan uang untuk menolong orang lain. Mereka juga dibebaskan apakah membelikan hadiah atau hanya memberikan uang tunai saja. Syaratnya uang itu jangan dibelanjakan untuk kebutuhannya pribadi.

Melalui uji statistik didapatkan perbedaan signifikan. Uang yang dibelanjakan untuk membantu orang lain lebih membahagiakan responden, ketimbang uang yang dbelanjakan untuk keperluan diri sendiri.

Secara empirik berulang-ulang dibuktikan melalui riset ilmiah, betapa power of giving secara signifikan memberikan kebahagiaan, dan makna hidup bagi sang pemberi.

Umumnya agama besar sudah mengajarkan kekayaan yang kita peroleh itu hanyalah titipan. Ada hak orang lain di sana. Sisihkan dari kekayaan itu untuk membantu orang lain.

Kita tak perlu menjadi trilyuner seperti Andrew Carnegie atau Bill Gates dulu agar bisa memberi. Berita bagusnya, bukan jumlah dana itu yang membuat pemberi bahagia, tapi keikhlasan dan kasih di balik pemberian itu.

Dengan dana seadanya, juga dengan derma seadanya, kita tetap bisa mempraktekkan apa yang disebut Andrew Carnegie dengan prinsip the Gospel of Wealth: Kitab Suci Kekayaan.

Di situlah letak keindahannya. Dalam posisi ekonomi seperti apapun, selalu tersedia ruang bagi kita untuk berderma, semampunya.

Derma adalah pupuk yang membuat bunga di hati semakin mekar.***

Saur Hari Ke 22, 27 juni 2016

 

 

 

  • view 11.3 K