The Science of Happiness (20): Menghirup Flavour Muhammad Ali

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (20): Menghirup Flavour Muhammad Ali

The Science of Happiness (20):

Menghirup Flavour Muhammad Ali
Denny JA

Untuk hidup yang bermakna, apa yang bisa kita renungkan dari Muhammad Ali, dari "float like a butterfly, and sting like a bee?"

28 April 1967, Muhammad Ali menjadi headline. Ini pernyataannya yang akan mrmbuatnya abadi, tidak sebagai petinju, tapi sebagai manusia.

"Mengapa saya harus ikut wajib militer? Mengapa saya harus pergi 10 ribu miles dari rumah saya, menjatuhkan bom dan membunuh vietkong? Sementara jutaan kulit hitam di negara saya diperlakukan seperti anjing. Hak asasi manusia mereka diingkari."

"Jika saya percaya perang Vietnam ini akan membawa kebebasan dan kesamaan bagi 22 juta kulit hitam di Amerika, saya tak perlu diwajibkan. Dengan kesadaran sendiri saya akan pergi berperang besok."

"Tapi ini melawan keyakinan saya selaku penganut agama yang anti kekerasan. Jika karena keyakinan ini, saya harus masuk penjara, silahkan cemplungkan saya ke penjara. Bukankah kulit hitam sudah dipenjara sejak ratusan tahun lalu?"

Pengadilan memutuskan Ali bersalah. Ia dihukum 5 tahun penjara. Gelar tinjunya dicopot. Ia bahkan dilarang lagi bertinju selama status hukumnya diproses. Ia juga diharuskan membayar denda 10 ribu US dollar.

Ali menerima semua konsekwensi itu. Di masa kejayaannya, karena keyakinannya ia tak boleh bertinju.

Ali tak padam. Dari petinju, ia pun berubah sebagai celebrity activist. Ikon olahraga ikut mempengaruhi opini publik. Selama masa tunggu hukuman, ia berkampanye anti perang Vietnam. Ia keliling sekitar 200 kampus di Amerika.

Pengacaranya naik banding. empat tahun kemudian, Juni 1971, Mahkamah Agung menyatakan sulit menganggap Ali melanggar kewajiban negara karena keyakinan agamanya. Ali dibebaskan dan dibolehkan bertinju lagi.

Tahun 1966, gallup poll mensurvei hanya 26 persen populasi amerika menyatakan perang vietnam itu keliru. Ketika Ali menolak wajib militer di VIetnam, ia tak hanya melawan hukum negara. Ia juga melawan opini mayoritas publik.

Ali terus saja berkampanye mengikuti suara hatinya. Berbulan-bulan ia menyuarakan apa yang benar menurutnya. Gallup Poll kembali melakukan survei yg sama di tahun 1973. Opini publikpun berubah. Mayoritas publik Amerika, sekitar 60 persen menyatakan, keterlibatan Amerika terhadap perang Vietnam itu keliru.

Tentu banyak variabel yang mengubah opini publik Amerika soal perang Vietnam. Sebagai celebrity yang menonjol dan aktif, Ali adalah bagian dari agen perubahan tersebut.

-000-

Itu yang membuat Muhammad Ali dianggap the great sport personality who change the world. Sebagai petinju, kiprahnya melampaui dunia tinju.

Semua passion, militansi dan keberaniannya menolak terlibat perang, menolak membunuh orang yang tak mengganggu hidupnya, walau ia harus dipenjara, dilarang melakukan apa yang sangat cintainya seperti bertinju, selalu mengkomunikasikan suara hatinya, semua itu hanya lahir dari pribadi dan karakter yang kuat (character strength).

Aneka riset dilakukan untuk mencari tahu apa hubungan karakter yang kuat dengan hidup yang bermakna, life satisfaction, subjective well being, level of happiness?

Via Institute on Character Strength melakukan riset sendiri, seraya juga mengumpulkan riset lembaga lain, khusus untuk isu character strength. Mereka sudah melibatkan 3 juta responden survei untuk memahami korelasi character strength dengan aneka isu.

Apa itu character strength, kepribadian yang kuat? Ini adalah tipe personality yang antara lain ditandai oleh sikap hidup yang independen, berani berbeda untuk sebuah isu. Ia juga tegas dan tak mudah goyah (decisive) tentang apa yang diyakini. Tipe ini juga berani dan ikhlas mengambil resiko atas apa yang ia pilih (determinant).

Di sisi lain, ia juga supportive: menerima pihak lain yang berbeda dengannya. Dalam suasana tertekanpun, ia tetap antusias dengan apa yang ia yakini. Iapun ekspresive, mampu mengkomunikasikan pilihan hidup dan sikapnya.

Di tahun 2011, sekelompok akademisi antara lain A.M Wood dan R. Harling mempublikasikan hasil riset mereka dengan menggunakan questionaire dalam serial studi yang sangat panjang (longitudinal study).

Hasilnya, serial studi itu mengkonfirmasi betapa karakter yang kuat seorang individu menjadi unsur penting bagi makna hidup. Dengan kepribadian yang kuat, aneka tekanan dan derita , justru dianggap sebagai bagian aroma perjuangan, yang ikhlas diterima dan konsekwensi yang dianggapnya wajar, bahkan dianggap sebagai bumbu penyedap.

Hidup yang bermakna lebih mudah diraih oleh individu dengan karakter dan personality yang kuat.

Bagaimana jika karakter yang kuat itu meyakini ideologi yang merusak? atau ia mengamalkan tafsir agama yang salah? Apalagi jika ia berani melawan hukum negara?

Di sinilah sisi kritisnya. Seorang pribadi dan karakter yang kuat selalu mungkin menjalankan gagasan yang justru bisa merusak masyarakatnya.

Dalam rentang sejarah yang panjang, bukankah apa yang salah dan benar bisa berubah? Dulu, perempuan yang diperlakukan sebagai warga kelas dua oke-oke saja. Tapi sekarang itu pelanggaran hukum.

Dulu melarang kaum gay menikah adalah kebaikan. Kini di Amerika Serikat hal itu dianggap kejahatan. Dulu menikah dengan anak di bawah umur hal yang wajar. Kini itu adalah kriminal. Pernikahan antar agama di beberapa agama dilarang. Tapi di negara lain, pernikahan antar agama dibolehkan.

Muhammad Ali berani melawan hukum negara, menolak wajib militer, apakah itu salah atau benar?

Banyak nilai salah dan benar berubah melalui waktu karena berubahnya mindset sebuah zaman. Evolusi prinsip hak asasi manusia merekam dan mengakomodasi perubahan mindset itu.

Tips paling mudah, untuk mengetahui apakah kita sedang mengamalkan sebuah paham yang salah atau benar, diukur saja apakah ia sejalan dengan evolusi terakhir pinsip hak asasi manusia yang dideklarasi PBB.

-000-

Suatu ketika Muhammad Ali berkata: "Saya tahu apa yang benar dan apa yang saya perjuangkan. Saya tak harus menjadi orang lain seperti yang anda inginkan. Saya bebas menentukan jati diri saya sendiri."

Dengan prinsip ini, Muhammad Alipun tak sepenuhnya tunduk pada guru spiritualnya Elijah Muhammad. Sang guru ini memberinya nama Muhammad Ali, menggantikan nama aslinya: Cassius Clay.

Ketika ia menyadari ada yang salah dengan ajaran gurunya soal supremasi kulit hitam, Ali pun memisahkan diri dari ajaran gurunya. Ia keluar dari Nation of Islam, dan menjadi Sunni Islam.

Kita bukanlah Muhammad Ali dan mengapa pula harus menjadi Muhammad Ali? Namun kepribadian Muhammad Ali yang teguh dengan pendirian, memperjuangkan apa yang diyakini benar, sejauh sejalan dengan prinsip hak asasi manusia, mengkomunikasikan keyakinan kepada khalayak, tahan penderitaan akibat keyakinan, itu yang penting.

Ibarat diri kita kopi, personality seperti Muhammad Ali itu adalah flavour, yang perlu kita racik dalam kopi kita, agar lebih harum diendus, dan sedap dihirup.***

Saur hari ke 20, 25 Juni 2016

 

 

 

  • view 10.9 K