The Science of Happiness (18): Bumbu Mother Teresa

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 23 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (18): Bumbu Mother Teresa

The Science of Happiness (18)

Bumbu Mother Teresa
Denny JA

Suatu ketika Mother Teresa memberikan nasehat yang kemudian menjadi kutipan abad ini (Quote of the Century) yang sering diulang pihak lain:

"Yang penting bukan apa yang kamu lakukan. Tapi seberapa besar cinta yang kamu letakkan di dalam tindakanmu. Yang penting bukan apa yang kamu berikan. Tapi seberapa besar cinta yang kamu ikhlaskan dalam pemberianmu."

Cinta kasih itulah yang utama, yang harus hadir melandasi perbuatan dan pemberian.

Mother Teresa melaksanakan nasehatnya sendiri. Ia mewakafkan dirinya yang membuatnya menjadi legenda abad ini. Ia menyebarkan kasih sayang dan hidup bersama dengan apa yang disebutnya "the poorest of the poor." Bukan hanya orang miskin, tapi yang termiskin dari orang miskin itu yang dilayani oleh kasihnya.

Bagi kita yang hidup secara normal, berkeluarga dan bekerja, tentu tak bisa dan tak perlu menjadi sepenuhnya seperti Mother Teresa.

Tapi tetap ada sesuatu yang indah dari Mother Teresa untuk kita jadikan bumbu bagi hidup kita.

-000-

Nama asli Mother Teresa Agnes Gonxha Bojaxhiu. Di usia 18 tahun, ia meninggalkan keluarga untuk sepenuhnya belajar menjadi seorang biarawati. Sampai usia 87 tahun, ia tak pernah lagi berjumpa dengan keluarganya.

Di tahun 1931, ketika ia berusia 21 tahun, ia mengambil sumpah sebagai biarawati, dan memilih nama Teresa. Nama itu ia pilih sebagai kekagumnya kepada orang suci Teresa of Livieux dan Teresa of Avira.

Di tahun 1946 ketika usianya 36 tahun, dalam satu retreat panjang, ia mendapatkan satu panggilan hidup (life calling). Ia merasakan Tuhan berbicara padanya, untuk meninggalkan segalanya. Ia meyakini diminta Tuhan untuk pergi ke tempat yang paling miskin, hidup miskin bersama mereka dan melayani mereka.

Itulah awal kepergian Mother Teresa ke Calcuta India. Ia mencari tempat paling kumuh di sana, bahkan banyak yang terkena penyakit kusta. Ia pun tinggal di sana melayani the poorest of the poor dengan cinta.

Dua tahun lamanya ia terombang-ombing untuk kembali ke dunia gereja yang hidupnya lebih nyaman. Awalnya ia juga merasa tak nyaman hidup dalam kemiskinan yang sangat. Namun ia merasa panggilan hidupnya ada di sana.

Berita Mother Teresa hidup bersama orang kumuh dan berpenyakit kusta, serta melayani mereka dengan cinta segera menjadi berita dunia. Bantuan dana akhirnya justru melimpah.

Ia pun mendirikan Mission of Charity untuk melayani orang-orang yang dianggap beban bagi lingkungannya: orang lapar, tak punya pakaian, terkena kusta, tak diinginkan, tak dicintai.

Begitu otentik pengabdian ibu Teresa dalam waktu yang lama. Ia pun dianugrahi banyak penghargaan. Antara lain Nobel Perdamaian di tahun 1979. Di tahun 2003, Gereja Katolik juga menganugrahkannya gelar the Blessed Mother Teresa. Selangkah lagi, ia akan dikeramatkan sebagai Santo, orang suci, pada bulan September 2016.

Yang menonjol dan unik dari ibu Teresa ia hidup langsung bersama the poorest of the poor itu, melayani mereka dengan cinta.

Mother Teresa dikenang sebagai tokoh yang sangat bahagia dalam hidupnya.

-000-

Apa yang membuat Mother Teresa bahagia? Apakah itu disebabkan oleh kerja sukarelanya?

Sebuah riset dilakukan untuk menguji secara empirik seberapa benar kerja suka rela yang melayani orang lain itu bisa menaikkan level of happiness?

The National Trust of Scotland pada bulan maret 2015 mempublikasi hasil risetnya. Mereka membandingkan 3800 pekerja sukarela. Mereka adalah volunteer aneka bidang, yang bekerja untuk melayani, tanpa mendapatkan honor komersial.

Para relawan ini dibandingkan dengan rata-rata penduduk setempat yang tidak menjadi relawan. Melalui uji statistik ditemukan perbedaan yang signifikan.

Mereka yang mendedikasikan diri secara sukarela (minimal 100 jam setiap tahun) ternyata hidupnya merasa lebih bahagia dan lebih bermakna. Apalagi jika dalam pengabdian itu mereka tambahkan ajaran Mother Teresa: ada aroma kasih sayang, cinta kasih di dalam kerja suka rela itu.

-000-

Kita rakyat biasa, yang punya keluarga, bekerja atau masih sekolah, tak perlu menjadi seperti Mother Teresa. Mustahil dan tak perlu pula kita beramai- ramai meninggalkan keluarga, pekerjaan atau sekolah, untuk melayani total orang miskin.

Namun kita bisa menambahkan "jalan mother Teresa" sebagai bumbu hidup.

Sesuai dengan kemampuan masing-masing kita bisa melayani dengan kasih mereka yang tak mampu dan memang perlu dibantu. Misalnya, ikut berderma ke rumah anak yatim secara rutin. Ikut membiayai sekolah anak asuh. Dan sebagainya.

Kita tak perlu (jika tak mampu) melakukan the great things. Tapi kita cukup melakukan apa yang dikatakan Mother Teresa: the small things with the great love. Mendedikasikan diri membantu orang lain dengan tindakan kecil tapi dengan beribu cinta***

Saur hari ke 17: 22 Juni 2016

 

  • view 11.5 K