The Science of Happiness (16): Mereka yang Sampai di Pucuk Diri

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (16): Mereka yang Sampai di Pucuk Diri

The Science of Happiness (16)

Mereka yang Sampai di Pucuk Diri
Denny JA

Mereka yang sudah menemukan makna hidup (meaning of life) akan tahan segala derita. Demikian acapkali dinyatakan VIctor Frankl, seorang psikiatris terkemuka.

Yang membuat ucapannya kredibel, karena pernyataan itu tak hanya dilahirkannya sebagai kerja renungan seorang psikiatris. Victor Frankl adalah survivor, orang yang selamat dan sehat ketika dibebaskan dari camp Holoucost era Hitler.

Di tahun 1942, Victor Frankl beserta istri dan kedua orang tuanya dikerangkeng dalam camp konsentrasi Nazisme. Mereka keturunan Yahudi. Turut serta bersama mereka aneka penduduk termasuk banyak ilmuwan Yahudi.

Frankl menjadi saksi betapa kerasnya siksaan terhadap mereka. Ia melihat beberapa kenalannya bunuh diri di dalam camp karena tak tahan siksaan. Istri dan kedua orang tuanya juga mati di dalam camp itu.

Namun Victor Frankl sejak awal memang berniat untuk survive. Bahkan ketika ia punya kesempatan lari ke Amerika sebelum ditahan, ia memilih untuk tinggal, menjaga orang tua mereka, beresiko untuk disiksa bersama.

Bagi Victor Frankl ada yang lebih besar dalam hidup dari sekedar takut disiksa. Yaitu hidup yang punya makna. Ini hidup yang mengambil resiko derita jangka pendek demi sebuah nilai yang lebih besar.

Hidup dengan sebuah tujuan yang bermakna membuat Victor Frankl bisa keluar dari siksaan dalam kondisi psikologis yang lebih sehat. Bahkan ia kemudian mengarang sebuah buku yang dianggap salah satu paling berpengaruh abad ini: Man's Search for Meaning.

Buku ini ia tulis di tahun 1946, menceritakan pengalamannya di camp Auswitscz. Di buku itu ia narasikan metode psikoterapi menyembuhkan aneka persoalan psikologis dengan cara mencari meaning of life

-000-

Karya Victor Frankl ini bahkan mempengaruhi secara mendalam studi mengenai Happiness. Hidup yang sekedar bahagia belum tentu hidup yang bermakna. Sebaliknya hidup yang bermakna belum tentu juga hidup yang bahagia dalam jangka pendeknya.

Adalah Roy F Baumeister di tahun 2013 mempublikasikan riset soal itu. Ia mensurvei 400 responden selama tiga kali dalam waktu selang beberapa minggu.

Responden dieksplor aneka kegiatan dan pilihan hidup. Lalu respon mereka dikorelasikan dengan level of happiness dan derajat hidup yang bermakna.

Hasilnya: memang ada korelasi positif antara hidup bermakna dan hidup bahagia. Namun ditemukan pula banyak kegiatan yang membuat hidup bahagia tapi ternyata dianggap kurang bermakna. Sebaliknya, ditemukan kegiatan yang bermakna walau kurang membuat bahagia.

Aneka kegiatan yang umumnya hanya memberi kesenangan jangka pendek dianggap kurang bermakna. Pesta kesana- kemari setiap minggu misalnya dianggap cukup membuat bahagia. Namun kegiatan itu dianggap tidak bermakna.

Membesarkan anak terutama ketika mereka remaja dianggap kurang membahagiakan orang tua. Namun tindakan membesarkan anak itu dianggap sangat bermakna.

-000-

Berdasarkan sumbangan ini kemudian para ahli dengan aneka versi membedakan dua jenis kebahagiaan.

Pertama adalah hedonic happiness. Ini jenis kebahagiaan paling dangkal, jangka pendek. Ia diperoleh hanya dengan memenuhi kebutuhan bersenang-senang dan lepas dari tekanan.

Kedua adalah meaningful happiness. Ini jenis kebahagiaan yang paling otentik dan jangka panjang. Kebahagiaan ini lahir karena individu yang bersangkutan terlebih dahulu memiliki sense of purpose, meaning of life dalam hidupnya.

Kebahagiaan jenis kedua ini bahkan mungkin saja dilalui dengan penderitaan terlebih dahulu karena perjuangan gagasannya. Namun perjuangan itu membuatnya harum. Ia dianggap menyumbang sesuatu bagi lingkungan.

Victor Frankl adalah contoh nyata. Tahunan berada di camp Auswitsz adalah neraka. Namun ia bertahan dan memberikannya makna sebagai bagian nilai yang lebih penting.

-000-

Frederick Nietszhe suatu hari membuat kutipan dengan bahasa tinggi: He who has a why to live can bear almost any how. Siapapun yang sudah menemukan alasan untuk hidup, sense of purpose, dapat menanggung aneka beban dunia.

Dengan kata lain, mereka yang sudah sampai di pucuk diri, yang sudah memilih alasan untuk hidup, bukan saja akan tahan lebih banyak derita. Mereka juga akan potensial bahagia secara lebih otentik.***

Saur hari ke 16, 21 Juni 2016