The Science of Happiness (15) Kerjakan Sepenuh Hati

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 20 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.1 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (15) Kerjakan Sepenuh Hati

The Science of Happiness (15)

Kerjakan dengan Sepenuh Hati
Denny JA

Apa yang terjadi dengan mereka? Pele yang begitu total bermain bola. Bobby Fisher berjam-jam latihan catur. Mozart lupa waktu dan tempat ketika asyik bermain piano. Leonardo da Vinci bahkan lupa makan ketika begitu intens melukis.

Para ahli kemudian hari menamakannya: FLOW. Pele, Fisher, Mozart dan Da Vinci berada dalam the state of flow: fokus dan hidup total dalam momen itu, seolah waktu berhenti, lupa hal lain, sepenuh hati hanya ada dalam suasana "kini dan disini."

itulah suasana puncak yang bisa memberikan "ecstasy": buncah kegembiraan yang teramat sangat.

Berdasarkan survei di Amerika dan Jerman, sebanyak 15-20 persen populasi tak pernah mengalami situasi flow seperti itu. Sebanyak 15-20 persen lainnya merasakan Flow sangat sering bahkan dalam aneka momen setiap hari. Sisanya 60-70 persen pernah merasakan flow namun sangat jarang.

Anda termasuk yang mana?

Hidup terasa lebih indah dan bahagia jika ada satu atau beberapa kegiatan yang sangat kita sukai. Kita melakukan kegiatan itu secara reguler, yang membangkitkan antusias emosi positif paling puncak.

-000-

Sebuah riset dikembangkan bernama Experience Sample Method (ESM). University of Chicago di tahun 1970an menerapkan EDM ini kepada sekitar 2300 responden dalam serial riset yang panjang.

Responden diberikan guide line untuk membuat jurnal kegiatannya sendiri. Peneliti memilihkan waktu sekitar 2 jam saja setiap harinya untuk dilaporkan responden. Waktu 2 jam itu dipilihkan peneliti secara random. Bisa saja terpilih waktu 2 jam di pagi hari, atau siang, sore, malam, dan sebagainya.

Untuk 2 jam waktu yang terpilih, responden saat itu juga mencatatkan apa kegiatan yang sedang ia lakukan? Ia sedang dimana bersama siapa? Responden diminta menuliskan saat itu juga suasana hatinya dalam skala, secara real-time.

Laporan dibuat berhari- hari. Total terkumpul lebih dari 70 ribu halaman jurnal laporan kegiatan dan skala emosinya.

Dari jurnal itu, peneliti membuat klasifikasi dan mencari skala emosi yang berada dalam tahap Flow itu: emosi positif yang puncak.

Di antara aneka temuan, ini yang penting. Pertama, suasana flow itu dapat lahir dari aneka kegiatan; mulai dari ketika melakukan aktivitas hobi seperti fotography, sport, kegiatan seni.

Namun flow bisa lahir juga dari kegiatan di tempat kerja atau di sekolah. Flow dapat muncul juga dalam suasana pergaulan dan percakapan.

Kedua, suasana flow lebih sering muncul dalam kegiatan yang aktif dibandingkan yang pasif.

Duduk santai bermalasan sambil beristirahat, atau menghabiskan waktu menonton TV adalah kegiatan yang pasif. Namun bekerja, berolahraga, beraktivitas adalah kegiatan yang aktif.

Flow yang merupakan puncak emosi positif lebih mudah distimulasi dengan kegiatan yang aktif.

Ketiga, ini kuncinya; flow hanya muncul untuk kegiatan yang disukai responden. Yang melahirkan flow bukan kegiatannya, tapi tingkat kesukaan reponden pada kegiatan itu.

Misalnya photography bagi responden yang sangat menyukainya dapat menciptakan suasana flow. Tapi bagi responden yang tak menyukainya, efeknya biasa saja.

Namun bisa juga responden yang sama untuk kegiatan yang sama memberikan skala emosi yang berbeda. Ia yang suka photography di suatu saat merasakan skala emosi positif yang tinggi. Namun di saat lain, skala emosinya pada photography jauh lebih rendah.

Apa yang membedakannya? Responden berada di tahap flow jika ia mengerjakan apa yang disukainya dengan sepenuh hati, fokus dalam momen saat itu saja. Jika ia sedang bad mood, tak mengerjakan aktivitas itu sepenuh hati, walau ia sangat suka kegiatan itu, ia tak akan sampai di level flow.

 

-000-

Adakah tips paling mudah agar kita termasuk golongan 15-20 persen yang dapat merasakan suasana flow, kebahagaian yang puncak, setiap hari, atau setidaknya setiap minggu?

Di bawah ini TIPs tiga jenis kegiatan yang dapat kita tumbuhkan secara sadar.

Pertama, carilah satu hobi dan buatlah diri kita begitu menyukainya. Lakukan kegiatan itu kapanpun ada waktu senggang, setidaknya seminggu sekali.

Setiap individu selalu mungkin memilih kegiatan yang berbeda. Ada yang senang bersama teman untuk gowes mengayuh sepeda. Atau memilih sendirian untuk jogging. Atau bersama keluarga menonton film. Atau melewatkan waktu berjam-jam bermain catur, bermain gitar, dan sebagainya.

Kedua, ciptakan sense of purpose, bahwa dalam hidup ini kita tak hanya bekerja, bangun, makan dan tidur. Ada yang ingin ikut kita perjuangkan sekecil apapun.

Terlibatlah dalam kegiatan itu sebagai bagian dari sense of duty. Misalnya kita aktiv dalam kerja sosial sukarela untuk menolong orang yang lemah. Atau ikut memperjuangkan sebuah gagasan lingkungan hidup, hak asasi, ajaran cinta kasih, dan sebagainya.

Ketiga, niatkan sejak awal dalam satu hari ada kegiatan yang ingin kita kerjakan untuk orang lain, dan menikmatinya. Kegiatan itu bisa dipilih secara random, yang berbeda dari hari ke hari. Para ahli menyebutnya dengan random acts of kindness.

Bisa saja kegiatan yang dipilih adalah hal yang seolah remeh temeh sampai yang memang penting. Misalnya ingin mentraktir lunch teman kerja dan mencoba mengakrabkan diri. Atau ingin menemani seorang sahabat yang hari itu sedang bersusah hati. Atau ingin merawat bunga di halaman.

Tiga jenis kegiatan di atas dapat dengan mudah melahirkan suasana flow: emosi positif yang puncak secara regular. Kuncinya: libatkan diri sepenuh hati, secara total.

-000-

Dalam lakon Sang Nabi karya Kahlil Gibran, seorang guru didampingi Almitra, muridnya yang terkasih, memberikan wejangan terakhir kepada rakyat Orphalese yang mengantarkannya untuk pergi:

"Jangan biarkan hidupmu seperti dunia tanpa musim. Kau bisa tertawa namun tak seluruh gelak tawamu. Kau bisa menangis namun tak seluruh air matamu."

Saya menafsir Kahlil Gibran sedang bercerita tentang manusia yang tidak berkelana sampai kepada puncak emosi positif yang tertinggi. Mereka yang tak sering merasakan flow, seperti dunia tanpa musim.

Padahal ada cara yang sangat mudah untuk berada di puncak emosi. Apapun yang kita anggap penting, kerjakanlah sepenuh hati. Berikanlah seluruh diri. Nikmati prosesnya. ***

Saur hari ke-15, 20 Juni 2016

 

 

 

 

 

 

 

  • view 11 K