The Science of Happiness (14): Yang Bersahabat, Yang Bahagia

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (14): Yang Bersahabat, Yang Bahagia

The Science of Happiness (14)

Yang Bersahabat, Yang Berbahagia
Denny JA

Apa yang membedakan 10 persen individu paling bahagia dan 10 persen individu paling tak bahagia? Salah satu penyebabnya berdasarkan riset akademik: jalinan persahabatan dan komunitas.

Mereka yang paling bahagia dikelilingi para sahabat, dan hidup dalam komunitas yang akrab. Mereka yang paling tidak bahagia hidup menyendiri, atau sulit bersahabat dan tidak hidup akrab dalam komunitas.

Sebagian kita masih ingat lirik lagu itu:

Keep smiling, keep shining
knowing you can always count on me, for sure.
That's what friends are for

For good times, for bad times
I 'll be on your side forever more
That's what friends are for

Ini lagu dipopulerkan oleh Dionne Warwick tahun 1985. Namun yang pertama kali menyanyikannya Rod Steward di tahun 1982, untuk sound track film Night Shift.

Lagu ini ditulis oleh Burt Barcharach dan Carole Bayer Sager. Liriknya melukiskan indahnya persahabatan sejati yang saling membagi, menemani di kala musim baik atau musim buruk.

Barcharach dan Sager mengekspresikan saja apa yang dirasakannya sebagai persahabatan. Mereka tak menduga jika kini soal itu menjadi kajian riset empirik yang populer menghubungkan persahabatan dengan level kebahagiaan.

-000-

Dua riset soal itu banyak dikutip. Pertama riset dari sosiolog di tahun 1970: Mark Granovetter. Ia meneliti pengaruh hidup dalam komunitas yang akrab dan yang biasa saja (strong ties and weak ties).

Komunitas yang akrab (strong ties) adalah interaksi dengan keluarga, para sahabat dan teman kerja yang dekat. Mereka lingkungan individu yang memiliki pertautan emosional yang sudah kuat dan panjang.

Komunitas yang biasa saja (weak ties) interaksi dengan orang sekitar yang kita kenal tak terlalu akrab, tidak memiliki rekam kebersamaan yang personal dan panjang.

Riset ini kemudian dikembangkan oleh Gillian Sandstrom dan Elizabeth Dunn di tahun 2014 untuk melihat koneksinya dengan level kebahagiaan.

Dua kelompok dipilih untuk diteliti. Pertama sejumlah 53 orang dewasa berusia di atas 25 tahun. Dan kedua, 58 mahasiswa tahun pertama universitas.

Setiap individu dalam dua kelompok ini diminta berkomunikasi setiap hari baik dengan orang-orang yang dekat dan akrab (strong ties), ataupun yang hanya kenal baru saja atau kenal lama namun tak punya ikatan emosional yang kuat (weak ties).

Setiap kali berinteraksi, mereka diminta memberikan penilaian dalam skala: apa efeknya bagi emosi responden.

Rata-rata dalam sehari, responden berjumpa dengan 6-7 orang yang akrab (strong ties) dan 11-12 orang yang kenal biasa (weak ties).

Riset menyimpulkan semakin sering kita berjumpa dengan siapapun, baik yang akrab ataupun yang kenal begitu saja, semakin kita merasakan bagian dari hidup berkomunitas yang lebih besar.

Namun emosi positif, level kebahagian jauh lebih besar terbangun jika kita lebih sering kontak dengan mereka yang akrab (strong ties). Perjumpaan yang lebih intens dengan yang akrab, memberikan keceriaan dan level kebahagiaan yang bertambah.

-000-

Ed Diener dan Martin memperkaya nuansa itu dalam riset yang dipublikasi di tahun 2002. Mereka meneliti 222 responden mahasiswa undergradute. Sejumlah responden itu disaring terlebih dahulu dalam riset untuk mengklasifikasi level kebahagiannya.

Peneliti memilih 10 persen responden yang paling bahagia, 10 persen yang paling tidak bahagia dan 27 persen yang berada di level rata-rata saja. Diteliti dengan cermat variabel apakah yang membedakan level kebahagian responden ini.

Kesimpulannya, disamping tipe personality dan karakter bawaan, hubungan sosial yang akrab adalah penyebabnya.

Sejumlah 10 persen individu yang paling bahagia adalah mereka yang dikelilingi para sahabat, keluarga, teman kerja yang punya hubungan positif emosional yang kuat. Mereka berhubungan secara intens.

Sebaliknya 10 persen individu yang paling tak bahagia lebih terisolasi dan memiliki hubungan sosial yang buruk dibandingkan yang level bahagianya rata-rata.

Persahabatan, keluarga yang hangat dan memiliki teman sekerja yang akrab hal besar untuk mencapai hidup bahagia.

-000-

Riset lain mencoba memberikan aneka nuansa persahabatan.

Berapa jumlah sahabat yang dimiliki oleh individu yang level kebahagiaannya tinggi? Riset menemukan jumlah sahabat dari individu yang bahagia berkisar 5-10 orang saja.

Jumlah sahabat memang tak bisa terlalu banyak karena membagi hati dan waktu tak bisa dilakukan pada terlalu banyak orang.

Bagaimanana jika hanya memiliki satu sahabat saja? Ini jumlah yang riskan karena jika satu sahabat itu hilang (wafat, pindah ke lain kota, berubah menjadi musuh), individu yang bersangkutan hidup tanpa sahabat. Membangun persahabatan tak bisa terbentuk cepat. Ia butuh pengalaman bersama tahunan.

Apa yang membedakan sahabat dan teman biasa? Sahabat adalah mereka yang kita bisa lepas bercerita diri apa adanya, termasuk masalah pribadi, dan tak takut dihakimi. Kita pun bersedia mendengar, menyediakan waktu untuk masalah pribadinya.

Kualitas percakapan yang masuk ke dimensi paling personal, berbagi masalah, mendapatkan dukungan, apalagi ada pengalaman bersama mengatasi persoalan, itu yang berpengaruh pada level kebahagiaan, life-satisfaction dan subjective well-being.

Individu yang bahagia cenderung juga memiliki sahabat yang bahagia. Seperti virus, kebahagiaan juga menular dan menyebar. Mereka yang dikelilingi oleh orang yang bahagia cenderung ikut terpengaruh memiliki postive mood.

Umumnya sahabat terbentuk dengan teman bermain yang seusia. Namun sahabat juga bisa terjalin dalam hubungan keluarga, dan dalam hubungan kerja. Hal yang biasa juga jika persahabatan terbangun antara individu yang usianya berbeda jauh.

Suara Dionne Worwick terus mengalun

For good times, for bad times
i 'll be on your side forever more
That's what friends are for

Sahabat memang buah terlezat yang disediakan pohon kehidupan.

Saur hari ke 14, 19 Juni 2016

 

  • view 10.8 K