The Science of Happiness (13): Mulailah dengan Memberi

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (13): Mulailah dengan Memberi

The Science of Happiness (13)

Mulailah dengan Memberi
Denny JA

Sebuah pepatah Cina kini sering dikutip sebagai pembuka diskusi mengenai kebahagiaan.

"Jika engkau ingin berbahagia dalam waktu satu jam, tidurlah di siang hari.
Jika ingin berbahagia dalam waktu satu hari, pergilah memancing.
Jika ingin berbahagia dalam waktu satu bulan, segeralah menikah.
Jika ingin berbahagia dalam waktu satu tahun, percepatlah memperoleh warisan.
Namun jika ingin berbahagia seumur hidupmu, jadikanlah menolong orang lain sebagai prinsip hidupmu."

Tak diketahui siapa yang pertama kali mrmbuat pepatah di atas. Tak juga jelas apakah pepatah ini setua ajaran Lao Tse atau Kong Hu Chu.

Namun spekulasi pepatah ini semakin mendapatkan pembenarannya dalam ilmu pengetahuan mutakhir berdasarkan kajian empirik. Terutama kalimat terakhir: the power of giving, menolong orang lain:

Semakin banyak kutipan yang indah di era modern yang bernada sama. Salah satunya dari Winston Churcill: "Kita hidup dari mengambil. Namun kita bahagia dari memberi."

-000-

Tiga ilmuwan: Sonja Libyumorsky, Tkatch dan Yelverton, di tahun 2004 mempublikasikan riset ekspermimental menguji efek dari the power of giving. Apakah benar seruan : jadikanlah menolong orang lain sebagai prinsip" menuntun pada kebahagiaan otentik.

Mereka menamakan risetnya "The Random Acts of Kindness" dan hubungannya dengan level kebahagiaan atau subjective well-being.

Para peneliti ini membagi responden dalam dua kelompok besar: responden yang diterapi dan responden yang dikontrol. Langkah pertama, mereka melakukan pre-test, menguji level kebahagiaan masing-masing kelompok sebelum eksperimen dilakukan.

Lalu kelompok yang diterapi diminta melakukan random act of kindness, kebaikan apa saja yang menolong orang lain. Dalam satu minggu mereka diminta melakukan lima tindakan kebaikan. Riset dilakukan selama enam minggu.

Dalam prakteknya, beragam random act of kindness yang dipilih responden. Ada yang melakukan hal yang terkesan remeh temeh, seperti menolong seorang ibu tua tak dikenal di super-market untuk mengangkat belanjaannya.

Ada yang menghabiskan waktu merawat nenek yang dicintainya. Ada yang memberikan gift kepada tetangga. Ada yang mendermakan uang seadanya. Dan lain sebagainya.

Sementara kelompok yang dikontrol tidak diminta melakukan apapun. Mereka diharap mengerjakan hal yang sudah biasa dikerjakan sehari-hari.

Enam minggu berlalu dan riset selesai. Dua kelompok itu kembali diuji level kebahagiannya. Hasilnya sangat signifikan.

Responden yang berada dalam kelompok terapi, yang melakukan setidaknya lima kegiatan membantu orang lain setiap minggu, mengalami lonjakan level kebahagiaan. Mereka lebih ceria, merasakan hidup lebih bermakna dibandingkan sebelum riset dilakukan.

Sementara kelompok yang dikontrol, yang mengerjakan rutinitas sehari-hari seperti biasa, tak mengalami lonjakan level kebahagiaan.

Riset menyimpulkan bahwa power of giving, atau prilaku menolong orang lain, termasuk yang tak dikenal sekalipun, memang sesuatu yang positif bagi melonjaknya kualitas hidup bahagia.

-000-

Kajian lebih detail mengenai power of giving juga dilakukan oleh periset lain. Power of giving termasuk topik yang populer untuk terus menerus diuji dengan aneka kasus, metode dan responden yang berbeda.

Di antaranya adalah Jenny Shanti. Ia menuliskannya dalam buku The Giving Way of Happiness: Stories and Scienve behind the life-changing power of giving.

Aneka nuansa yang lebih detail diberikan. Bahwa tak semua tindakan yang terkesan menolong orang atau yang memberi itu menghasilkan tindakan yang membahagiakan. Bahkan bisa jadi, tindakan itu dirasakan sebagai beban dan penderitaan jika dipaksa dari luar. Pemberi misalnya merasa diperalat saja (being taken adventage of).

Agar tindakan menolong dan memberi itu membahagiakan pelaku, tindakan itu harus otentik lahir dari keikhlasan pelaku. Sang pemberi harus memiliki passion dan hati dalam pemberian atau bantuan itu.

Yang membuahkan kebahagiaan juga bukan kuantitas jumlah pemberian. Mereka yang memberi sejuta rupiah misalnya belum tentu lebih berbahagia dibandingkan mereka yang memberikan hanya seratus rupiah.

Yang menentukan kebahagiaan adalah bobot kasih sayang dari tindakan pemberiannya. Misalnya seorang pelaku yang mendoakan kebahagiaan temannya dengan cinta yang mendalam, sangat mungkin jauh lebih bahagia dibandingkan seorang politisi yang menolong korban banjir satu miliar rupiah tapi dalam rangka show-off di televisi.

Suatu pemberian yang orientasinya karena sikap kasih dan pro sosial selalu jauh lebih bermakna bagi sang pemberi sendiri, dibandingkan tetap kental sisi self-interest dan reward publikasi atas pemberian itu.

Memberi dan menolong untuk bidang yang kita sukai juga lebih meaningful dibandingkan pemberian itu untuk bidang yang pihak lain memilihkannya untuk kita.

Misalnya seseorang memberikan charity lewat sebuah organisasi. ia sangat suka dengan sastra namun tak suka dengan olahraga kekerasan seperti tinju. Jika bantuannya disalurkan untuk menumbuhkan apresiasi sastra, itu akan lebih berarti bagi sang pemberi, ketimbang bantuan itu untuk membina karir para petinju amatiran.

Power of giving juga jangan direduksi hanya dalam bentuk material belaka. Persepsi ini memberikan kesan seolah seseorang harus kaya terlebih dahulu sebelum ia layak memberi.

Pemberian yang tak kalah pentingnya juga dalam bentuk non-material, seperti: perhatian yang ekstra, menyediakan waktu yang esktra, bahkan hanya dalam bentuk mengirimkan doa yang tulus.

-000-

Para artis, penyanyi dan selebriti dunia pernah menghimbau bersama dalam lagu We are the World. Ada Michael Jackson, Lionel Ritchie, dan lain- lain terlibat penuh. Ini lagu untuk menolong Afrika.

Lagu ini diaransemen oleh Michael Ormatian dan dikomandani oleh Quincy Jones. Diproduksi tahun 1985, lagu ini terpilih sebagai Song of the Year. Ia menjadi bagian dari sedikit saja album musik dalam sejarah yang terjual di atas 10 juta kopi.

Liriknya antara lain: "We are the world, we are the children. We are the one who make a brighter day. So let's start for giving. We must lend a helping hand."

Memberi dengan ikhlas dan cinta memang lebih membahagiakan dibandingkan dengan menerima. ***

Saur hari ke 13, 18 Juni 2016

 

 

  • view 11.1 K