The Science of Happiness (11): Olah Raga Berbuah Mood yang Ceria

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.7 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (11): Olah Raga Berbuah Mood yang Ceria

The Science of Happiness (11):

Olah Raga Berbuah Mood yang Ceria
Denny JA

Benarkah olah raga dapat menciptakan mood seseorang menjadi lebih ceria dan riang? Bagaimana kerja hormon yang dihasilkan oleh raga itu? Apakah hormon itu menjadi jembatan dan koneksi "mind and body?"

Di abad ke satu, 2000 tahun lalu, hidup seorang penyair di Roma bernama Juvenal. Ia menulis banyak puisi. Salah satunya dihimpun dalam buku berjudul Satire.

Banyak kalimat indah berbahasa latin di sana. Satu diantaranya berbunyi Mens Sano in Corpore Sano: a healthy mind in a healthy body. Dalam bahasa indonesianya; dalam badan yang kuat dan bugar, berdiamlah jiwa yang sehat dan ceria.

Juvenal mungkin tak pernah menyangka. Apa yang ia postulatkan 2000 tahun lalu kini menjadi obyek riset ilmu pengetahuan yang serius. Riset ingin membuktikan pernyataan itu: benarkah olahraga membuat kita lebih riang dan ceria? Benarkah ada koneksi yang erat antara "'mind and body?" Apa penyebabnya?

-000-

Aneka riset sudah dilakukan mendalami hubungan olah raga (exercise) dengan emosi positif, dan level kebahagiaan. Salah satunya dari Pen State University.

Riset Penn State University dilakukan di tahun 2012, dengan responden 190 mahasiswa. Mereka diteliti dengan cermat dari jam ke jam selama 8 hari.

Responden diminta mencatat kegiatan yang dikerjakan saat mereka punya waktu luang yang lebih dari 15 menit. Mereka juga diminta menilai sendiri kualitas tidurnya di hari itu. Tak lupa pula mereka menuliskan aneka emosi yang muncul di delapan hari yang diteliti.

Setiap hari responden membuat jurnal yang melaporkan aneka kegiatan dan emosinya. Dalam delapan hari, setiap responden total mengumpulkan delapan laporan.

Hasil laporan itu diolah. Dibedakan antara mereka yang mengisi waktu luangnya dengan olah raga, dan yang tidak berolah raga.

Melalui uji statistik, ditarik kesimpulan. Responden yang berolah raga mengalami perbedaan yang signifikan. Umumnya emosi mereka lebih positif. Hari- hari mereka lebih rileks, lebih ceria. Tidur mereka lebih nyenyak. Mereka lebih tahan dengan tekanan.

Riset tak berhenti di situ. Lebih detail lagi dieksplor bagaimana hubungan hormonal, mekanisme fisiknya, antara kegiatan olah raga dengan efek emosi yang lebih ceria. Apa yang menjadi koneksi antara "mind and body?"

Riset kali ini masuk dalam kajian neuro-science. Ditemukan sebuah zat bernama endhophine. Olah raga membuat manusia menghasilkan lebih banyak endhopine.

Hormon ini ternyata yang menciptakan suasana rileks dan ceria dalam tubuh manusia. Endorphine ini menghasilkan sejenis zat morfin dari dalam tubuh manusia.

Morfin yang selama ini kita kenal adalah drug. Ini obat untuk mematikan rasa nyeri. Obat ini juga punya fungsi penenang. Acapkali dengan resep dokter, morfin dipasok dari luar ke dalam tubuh manusia.

Ternyata dalam tubuh manusia sendiri bisa menghasilkan sejenis morfin karena simulasi olah raga itu. Hormon endophine menghasilkannya.


-000-

Namun jenis olah raga bagaimana yang dianjurkan? Apakah sebaiknya olah jenis raga yang individual? atau tipe olahraga yang bermain dengan team? Yang mana yang lebih efektif? Bagaimana dengan jadwal, dosis, jenis gerakan, dan lain sebagainya.

Yang efektif adalah olah raga yang disukai oleh individu bersangkutan supaya ada unsur fun. Pilihan individu tentu bisa berbeda. Apapun gerak olah raganya, sejauh ia bisa membuat kita berkeringat, itu sudah sesuatu.

Yang disarankan adalah mengubah prilaku olah raga itu menjadi automatic habit: berolah raga seminggu 2-4 kali. Setiap olah raga cukup menghabiskan waktu 20 menit- 60 menit saja.

Motif kita berolah raga memang bukan menjadi atlet profesional. Kita ingin menstimulasi horman endhorpin agar emosi kita lebih rileks dan ceria.

Saya sendiri menikmati joging di pagi hari, di taman. Agar jogging bertambah nikmat, saya sertai pula dengan berzikir. Berjoging sambil berdoa atau dalam posisi meditatif.

Kadang jika hari hujan atau tak sempat, olah raga cukup dengan bermain pimpong di garasi. Tak penting bola sering out, yang penting fun dan berkeringat.

Riset juga membuktikan olah raga 20 menit dapat mempengaruhi mood kita selama 12 jam.

Info apa lagi yang ditunggu? Mari menjadi riang dengan berolah raga secara rutin.***

Saur hari ke 11, 16 Juni 2016.

 

 

  • view 10.8 K