Science of Happiness 4: Sidik Jari Kebahagiaan Setiap Individu?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
Science of Happiness 4: Sidik Jari Kebahagiaan Setiap Individu?

The Science of Happiness (4)

Sidik Jari Kebahagiaan Setiap Individu?
Denny JA

Apakah setiap individu itu terlahir dengan "bakat" untuk berbahagia atau tidak berbahagia? Apakah ada sesuatu dalam gene yang membuat setiap individu itu punya tendensi bahagia atau menderita yang unik seperti sidik jari?

Pertanyaan ini adalah kelanjutan dari hasil riset yang agaknya sudah diterima oleh komunitas akademis bahwa ada 50 persen dari tendensi bahagia atau tak bahagia kita ditentukan oleh sesuatu yg kita bawa secara lahir.

Setiap individu dianggap memiliki set point atau base- line level kebahagiannya. Karena pengaruh lingkungan, bisa saja suatu ketika level kebahagiannya menaik atau menurun. Namun melalui waktu, level kebahagiaan individu itu kembali ke basis awalnya.

Apakah level kebahagian setiap individu itu statik dan warisan seperti sidik jari?

-000-

Pernah dilakukan riset yang kemudian dikenal dengan nama Brickman Study (1978). Riset ini dikerjakan bersama oleh Philips Brickman, Dan Coates dari Northwestern University serta Ronnie Janoff-Bulman dari Universiry of Maschacusetts. Riset ini cukup mempengaruhi cara kita memahami daya tahan level kebahagiaan setiap individu.

Mereka meneliti 22 pemenang lotere dan 29 korban yang seketika berpenyakit lumpuh (paraplegics). Ingin diketahui apa efek peristiwa yang mengubah hidup itu bagi level kebahagiaan.

Ada yang bisa diduga dan ada pula yang tak terduga dari hasil riset itu. Mereka yang menang lotere tentu saja mengalami kejutan lonjakan kebahagiaan saat menerima hadiah. Dana yang mereka dapatkan dari lotere itu dapat dibelikan aneka hal yang selama ini menjadi idaman.

Lotere mengubah gaya hidup, juga prilaku mereka. Di awal menerima hadiah lotere, hidup mereka penuh keceriaan yang tak biasa.

Namun melalui waktu; sekitar 6 bulan sampai 2 tahun, lonjakan kebahagiaan itu kembali normal. Individu bersangkutan yang menang lotere, setelah melalui waktu, kembali ke level kebahagiaan yang menjadi baseline/set point awal sang individu.

Katakanlah sebelum mendapatkan lotere, level kebahagiaan individu itu berada di skala 7. Ini level baseline dan set pointnya. Ketika menerima uang lotere sampai beberapa saat, level kebahagian individu itu melonjak ke level 9 atau bahkan 10.

Setelah sekian waktu, level kebahagiaan individu itu beradaptasi, mengalami rutinitas, dan kembali ke set point semula di level 7.

Hal yang sama terjadi dengan mereka yang terkena musibah, menjadi lumpuh seumur hidup. Musibah ini seketika membuat level kebahagiannya anjlok.

Di awal, kehidupan korban ini seolah gelap. Hambatan fisik menjadi lumpuh membuat banyak kegiatan yang dulu bisa mereka lakukan secara mandiri, kita tak lagi bisa.

Yang menarik, setelah sekian waktu, 6 bulan sampai 2 tahun, mereka mengalami adaptasi dan rutinitas. Hal yang tadinya tak biasa lama kelamaan menjadi biasa. Level kebahagian individu terkena musibah ini menaik lagi ke set point semula, sebelum terkena musibah. Ini terjadi walau mereka secara fisik tetap lumpuh.

Katakanlah level kebahagian individu itu awalnya ada di skala 7. Ketika terkena musibah menjadi lumpuh permanen, level kebahagiannya anjlok ke skala 5, atau 4 atau bahkan 1. Namun setelah sekian waktu, level kebahagian individu terkena musibah itu kembali naik ke set point awal di level 7.

Keberuntungan dan musibah ternyata hanya memberikan efek sementara saja. Setelah melalui waktu, rutinitas dan adaptasi, level kebahagian itu cenderung kembali ke set point/baseline semula.

-000-

Untuk itulah kemudian kita mendengar istilah hedonic treadmill. Level kebahagian itu seperti kita berjalan atau berlari di treadmill (mesin berjalan yang digunakan untuk jogging atau lari).

Dengan treadmill itu, seolah kita berlari atau berjalan. Namun sebenarnya kita hanya berjalan dan berlari di tempat saja. Posisi kita tetap di ruangan itu, di koordinat itu, walau seolah berjalan atau berlari bermenit-menit.

Peristiwa, keberuntungan dan kemalangan seolah hanya seperti berlari di mesin treadmill itu. Terkesan kita mengalami perubahan. Namun itu hanya up and down yang sifatnya persepsional dan temporary saja.

Namun benarkah level kebahagian individu itu statik, tetap, dan warisan belaka seperti sidik jari? Apakah tak ada ruang kebebasan dan kreativitas untuk meningkatkan level kebahagian setiap individu?

Riset yang lebih mutakhir memberikan ruang adanya perubahan set point dan level kebahagian, baik menurun permanen atau menaik permanen.

Esterlin (2005) membuat studi pengalaman traumatik yang bisa membuat level happines dan set point itu anjlok permanen. Misalnya seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Kematian anaknya, apalagi jika terjadi bukan karena penyakit, dapat membekas hingga sang ibu wafat.

Bagi sang ibu, segala hal sudah berubah. Pengaruh dropnya level itu tak akan pernah naik lagi, sejauh sang ibu itu sendiri memang tak berupaya meriangkan gairah hidupnya kembali.

Sebaliknya, Sonja Lyubomirsky (2008) juga melakukan riset yang menunjukkan level of happiness itu bisa menaik secara permanen. Yaitu jika individu itu mengadopsi cara hidup baru yang lebih positif dan kemudian menjadi habit.

Seseorang yang pesimis misalnya, dengan perenungan mendalam, bertekad mengubah hidupnya, mengubah persepsinya tentang dunia yang lebih positif, mengubah mindsetnya lebih optimis, dan berkomiten tentang itu.

Jika komitmen itu mengejawantah dalam peilaku dan kegiatan yang lebih generous, lebih pro-sosial, lebih membangun relasi yang akrab, lebih bersyukur, dan dilakukan terus menerus, sehingga menjadi kebutuhan dan "automatic habit," set point atau base line level kebahagiaan itu bisa melonjak permanen.

Balik ke pertanyaan semula: apakah set point kebahagiaan itu sudah tercetak dan statis seperti sidik jari bagi setiap individu? Bagi individu yang kreatif dan berikhtiar, riset menunjukkan ia bisa MEMILIH dan membuat level kebahagiannya berubah, melonjak secara lebih permanen.

Pilihan yang paling sederhana dan penting adalah memilih untuk hidup lebih berbahagia.***

Saur Hari Keempat, 9 Juni 2016

  • view 3.8 K