Science of Happiness (3): Dengan Uang Membeli Kebahagiaan?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

254.5 K Hak Cipta Terlindungi
Science of Happiness (3): Dengan Uang Membeli Kebahagiaan?

The Science of Happiness (3)

Dengan Uang Membeli Kebahagiaan?
Denny JA

Dalam the World Happiness Report 2016 update, terbaca dengan jelas: negara yang paling kaya bukanlah negara yang paling bahagia.

Negara paling kaya berdasarkan GDP per kapita di tahun 2016 adalah Qatar. GDP per kapita Qatar yang diukur dari Purchasing Parity Power (PPP) sudah di atas 146 ribu usd. Namun dalam laporan negara yang penduduknya paling bahagia, Qatar hanya menduduki rangking Ke 36 saja.

Denmark adalah negara yang paling bahagia rangking 1. Namun dilihat dari penghasilan ekonomi per kapita, Denmark hanya rangking 21, dengan GDP per kapita hanya 45 ribu USD.

Jelas pula negara paling miskin sudah pasti bukan paling bahagia. Tak ada negara miskin yang masuk dalam top 30 negara yang paling bahagia. Umumnya negara Afrika adalah negara paling miskin dan sekaligus paling tak bahagia pula.

Bagaimana sebenarnya hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan? Apakah kekurangan ekonomi bisa membuat orang bahagia? Mengapa kelimpahan ekonomi tak juga berarti kelimpahan bahagia.

-000-

Sampai pada level income tertentu, penambahan kekayaan memiliki implikasi sangat signifikan bagi penambahan level kebahagian. Namun setelah level income itu terlampaui, penambahan income tak lagi banyak berimplikasi bagi penambahan level kebahagiaan.

Inilah kesimpulan pertama dari riset hubungan kekayaan dan kebahagiaan. Riset topik ini dilakukan oleh banyak pihak dengan kesimpulan kurang lebih sama. Satu diantaranya riset itu dikerjakan oleh Princeton University tahun 2008-2009, yang dipimpin oleh psikolog pemenang Nobel Daniel Kahnam bekerja dengan ekonom Angus Deaton.

Common sense dari kesimpulan itu dapat dipahami. Bagaimana mungkin kita bisa bahagia jika secara ekonomi serba kekurangan. Tak ada manusia bisa bahagia jika kebutuhan basic neednya tak terpenuhi. Untuk mendapatkan basic need itu secara memadai dibutuhkan minimal income.

Namun setelah basic need terpenuhi, penambahan income berikutnya tak lagi banyak berarti bagi penambahan level kebahagiaan.

Mereka yang tak punya rumah sebagai misal, tentu akan jauh lebih berbahagia jika kemudian memiliki rumah sendiri untuk berteduh. Namun setelah ia punya katakanlah 3 rumah pribadi, penambahan kepemilikan rumah keempat, kelima, keenam, dan seterusnya, tak lagi banyak memberikan efek kebahagiaan.

Apalagi bertambahnya income dapat pula berimplikasi bertambahnya kebutuhan dan komplesitas gaya hidup. Tekanan baru ia peroleh akibat tambahan income itu, persoalan yang selama ini tak dialaminya.

Tapi berapakah level income yang menjadi garis pembatas itu? Jika belum melampaui level income itu, penambahan income memberi efek sangat signifikan. Namun setelah melampaui level income itu, penambahan kekayaan tak lagi punya arti signifikan bagi kebahagiaan.

Riset Pricenton University menemukan level itu di Amerika Serikat adalah sebesar 75 ribu USD setahun, yang setara kurang lebih 1 milyar rupiah setahun. Atau rata-rata income 80 juta sebulan.

Mereka yang pengangguran lalu punya penghasilan 10 juta sebulan tentu punya efek sangat besar bagi level kebahagiannya. Penghasilan itu menambah kemampuannya memenuhi aneka basic need seperti makanan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Penambahan income dari 10 juta sebulan menjadi 20 juta, atau 30 juta, lalu 40 juta dan seterusnya sampai 80 juta sebulan, efek bagi meningkatnya kebahagiaan juga signifikan.

Namun menurut riset itu, setelah seseorang memiliki income 80 juta sebulan, dan bertambah menjadi 90 juta hingga katakanlah 1 milyar sebulan, tak lagi memiliki efek signifikan bagi naiknya level kebahagiaan.

Untuk itu berlaku prinsip uang adalah "necessary but not suficient" untuk mencapai kebahagiaan. Uang punya efek untuk mengurangi penderitaan akibat belum cukup terpenuhinya basic need. Namun uang saja tak cukup untuk membuat kita menyentuh surga bahagia.

-000-

Riset Princeton University adalah riset jenis pertama soal hubungan antara uang dan kebahagiaan.

Namun ada riset jenis lain yang lebih detail. Menurut riset kedua, setelah level income minimal terpenuhi, penambahan income bisa juga tetap signifikan bagi penambahan kebahagiaan.

Siapa bilang uang tak bisa membeli kebahagian? Uang tetap bisa membeli kebahagiaan jika digunakan dengan tujuan sosial.

Ini mirip dengan anekdot Bo Derek yang mengatakan: Money can't buy happiness simply because you dont know where to go shopping. Ujar Bo Derek, yang menyatakan uang tak bisa membeli kebahagiaan hanya karena ia tak tahu saja tempat belanja yang asyik di seluruh dunia.

Kini riset menyatakan anekdot Bo Derek secara berbeda. Jika uang yang ada dibelanjakan untuk tujuan sosial, justru penambahan income itu berimplikasi bagi penamban kebahagiaan secara signifikan.

Riset ini dilakukan oleh Dunn, Aknin dan Norton (2008) melalui dua metode. Pertama, mereka melakukan survei nasional dan meminta responden menilai level kebahagiannya sendiri (self judgement).

Pada saat yang sama mereka juga meminta responden membuat list mengenai pola belanjanya, dalam dua kategori. Yaitu belanja untuk keperluan pribadi (personal spending), atau mengeluarkan uang untuk tujuan sosial: memberi hadiah kepada orang lain hingga berderma (pro-social spending).

Kedua, mereka juga melakukan eksperimen dengan 600 mahasiswa di universitas Kanada dan Uganda. Masing masing diberikan uang untuk melakukan dua kegiatan. Uang itu dibelanjakan untuk keperluan pribadi (personal spending). Dan uang itu dibelanjakan untuk memberikan hadiah kepada orang lain atau didermakan menolong orang (pro-social spending).

Lalu masing-masing diminta menilai efek kebahagiaan bagi diri mereka setelah melakukan dua jenis belanja yang ditugaskan.

Hasil riset dua metode itu menunjukkan perbedaan yang signifikan. Jika uang digunakan hanya untuk belanja keperluan pribadi, tak banyak efek uang itu bagi kebahagian. Namun jika uang itu digunakan untuk memberi hadiah kepada orang lain, atau untuk berderma, efeknya pada kebahagiaan sangat signifikan.

Risetpun berkesimpulan, money can buy happines! Uang dapat membeli kebahagiaan jika uang itu digunakan untuk menolong orang lain.

-000-

Tak heran jika kini banyak orang kaya yang mendermakan kekayaannya hingga 50 persen, 90 persen, bahkan 99 persen. Mendermakan kekayaan itu justru memberilan kebahagian bagi yang memberi.

Bahkan tak harus kaya raya. Dalam level apapun, walau level ekonomi berkecukupan saja, mendermakan uang sebagaimana yang diajarkan banyak agama juga memberikan efek kebahagiaan.

Riset empirik yang dikerjakan aneka pihak kredibel di atas membuat kita optimis dengan masa depan peradaban. Kegiatan berderma tak hanya membahagiakan yang menerima tapi juga yang memberi.

Inilah mungkin blue print dan hasil evolusi manusia agar terus survive dan berkembang. Setiap zaman tak pernah kekurang hadirnya orang-orang yang rajin berderma untuk menjaga keseimbangan.***

Hari ke 3 Saur, 8 Juni 2016.

  • view 3.3 K

  • ular hijau
    ular hijau
    1 tahun yang lalu.
    Dengan berderma, ego sebagai manusia terlaksana. Secara tak sadar melihat orang kekurangan, kita bahagia karena masih dicukupkan.

    Bahasa prokemnya, ketawa gak sengaja liat orang lain masih ada yang lbh susah dan menderita. Bahasa manusiawi nya, kita diajar untuk bersyukur, karena ada yang lebih daripada kita. )