The Science of Happiness (2): Persamaan Matematika untuk Bahagia

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

253.4 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (2): Persamaan Matematika untuk Bahagia

The Science of Happiness (2)

Persamaan Matematika untuk Kebahagiaan
Denny JA

Mengapa menurut riset banyak orang pintar tak bahagia? Namun banyak pula orang bodoh tak bahagia? Mengapa banyak orang kaya justru hidup penuh tekanan? Namun tak kalah banyak orang miskin menderita?

Variabel apa saja yang mempengaruhi kebahagian? Dapatkah kita membuat persamaan matematika untuk kebahagian? Berapa persen filsafat hidup kita, misalnya, berpengaruh terhadap kebahagian atau tertekannya jiwa? Apakah gene yang kita warisi sejak lahir ikut mempengaruhi level kebahagian?

Ini pertanyaan umum yang ingin diketahui siapapun yang secara sadar ingin memilih hidup bahagia.

Ketika kita tumbuh dengan pengalaman, kita menyadari semua pencapaian duniawi menjadi tak lengkap jika ternyata kita tak bahagia. Menjadi bahagia harus menjadi tujuan akhir apapun profesi, agama, etnis, jenis kelamin, dan persepsi hidup kita.

-000-

Sonja Lyubomirsky, seorang peneliti psikologi ekspemerintal mengajukan pertanyaan yang sama. Ia merumuskan persamaan matematika bagi kebahagian setelah melakukan serial riset yang panjang dan mendalam.

Berita baik dari hasil risetnya, 40 persen penyebab rasa bahagia berada sepenuhnya dalam kendali kita. Kita punya ruang yang luas menentukan makna hidup dan rasa bahagia.

Variabel lingkungan seperti kekayaan, jenis agama (Islam, Kristen, Budha, dll, ataupun tak beragama), tinggi atau rendah pendidikan, jabatan, laki atau perempuan, tua atau muda, dan sebagainya, total semuanya hanya mempengaruhi 10 persen saja dari kebahagian. Tak diduga begitu kecilnya pengaruh variasi lingkungan bagi tumbuhnya rasa bahagia.

Lebih tak terduga lagi, variabel genetis yang kita warisi sejak lahir ternyata mempengaruhi kebahagian dalam volume sangat besar: 50 persen.

Inilah persamaan matematikanya; H = 50 persen SP + 10 persen VL + 40 PA.

H: Hapiness
SP: Set Point/ base line yang kita warisi sejak lahir
VL: Variasi Lingkungan (status ekonomi, jenis agama, pendidikan, profesi, gender, usia, dll)
PA: Pilihan Aktivitas karena pandangan dan filsafat hidup yang bisa kita kontrol dan kendalikan.

Dalam bahasa Sonja sendiri, rumus matematikanya: Happiness ditentukan oleh 50 persen tendensi genetik (genetic tendencies), 10 persen situasi lingkungan (circumtances) dan 40 persen aktivitas pilihan hidup kita sendiri (intentional activities).

-000-

Dari manakah kesimpulan ini berasal? Mengapa genetic tendecies bawaan lahir itu menentukan hingga 50 persen?

Besarnya pengaruh genetic ini berasal dari riset yang sangat terkenal dengan sebutan the Minnesota Twin Family Study yang dilakukan selama 20 tahun, 1979-1999. Obyek studi sejumlah 137 anak kembar (baik kembar dari satu telur ataupun dua telur), yang hidup terpisah sejak kecil.

Aneka anak kembar ini masing masing tumbuh di tempat yang berbeda satu sama lain, dengan lingkungan yang bervariasi. Yang satu misalnya hidup dalam ekonomi sederhana, namun kembarannya hidup dalam kemewahan. Atau yang satu tumbuh dengan pendidikan rendah namun kembarannya tumbuh dalam pendidikan tinggi.

Yang mengagetkan, ketika diriset level kebahagiannya melalui serangkaian test, mereka yang kembar itu umumnya memiliki set point/ base line atau tingkat kebahagian yang nyaris sama. Padahal mereka hidup dalam lingkungan yang tak sama, dan sebagian bahkan bertolak belakang.

Sesuatu dalam gene masing- masing anak kembar itu menghasilkan level kebahagian yang sama, dan tak banyak dipengaruhi lingkungan. Serangkaian test itu akhirnya melahir prosentase 50 persen bagi gene bawaan lahir sebagai penentu rasa bahagia.

Mengapa pula kekayaan ekonomi, tingginya pendidikan, jenis agama, gender, usia, dan variasi lingkungan hanya berpengaruh 10 persen saja? Mengapa variabel variasi lingkungan itu kecil sekali?

Kesimpulan ini juga diambil dari uji statistik. Ratusan responden dipilih dari variasi lingkungan yang beragam. Kaya miskin, tua-muda, pendidikan S3 atau SD, agama Kristen, Islam bahkan atheis, laki dan perempuan, semua diuji. Ketika variasi itu dikuantifikasi, ternyata total semuanya memberikan perbedaan kurang lebih hanya 10 persen saja.

Sebanyak 40 persen lainnya adalah variabel sikap hidup kita yang tergambar dalam prilaku dan kegiatan yang kita pilih secara sengaja.

Terlalu kecilkah pandangan hidup dan aktivitas kita hanya mempengaruhi kebahagian 40 persen? Riset menunjukkan 40 persen itu ruang yang sangat besar yang bisa membedakan akhirnya hidup kita bahagia atau tertekan, walau kita punya gene tendecies dan variasi lingkungan yang sama.

-000-

Dari persamaan matematika itu, menjadi bahagia ataupun hidup susah sepenuhnya tetap berada dalam kontrol kita sendiri. Menjadi bahagia adalah pilihan bebas yang harus diikuti oleh prilaku dan habit.

Habit dan prilaku bagaimana yang membuat kita bahagia? Detailnya akan kita ekplor dalam tulisan berikutnya. Namun inti dari prilaku yang membuat bahagia adalah umumnya diajarkan oleh agama, local wisdom dan moralitas: melakukan kebaikan, hidup penuh syukur, pemaaf, membangun relasi yang hangat, bersifat penolong, dan sebagainya dan sebagainya.

Riset ilmiah kini menyediakan peta, formula dan persamaan matematika bagi hidup bahagia. Kesalahan besar jika hidup kita tetap tak bahagia.***

Saur Hari ke 2
7 Juni 2016

  • view 3.2 K