The Science of Happiness (1): Apa yang Membuat Hidup Bahagia dan Sehat?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juni 2016
The Science of Happiness

The Science of Happiness


Riset Empiris mengenai Hidup Berbahagia dengan semua dimensinya

Kategori Acak

253.7 K Hak Cipta Terlindungi
The Science of Happiness (1): Apa yang Membuat Hidup Bahagia dan Sehat?

The Science of Happiness (1)

Apa yang Membuat Hidup Bahagia dan Sehat?

Denny JA

Setelah mendalami aneka dimensi manusia, setelah menyelami kompleksitas kehidupan, setelah merumuskan prinsip dasar banyak keilmuan, salah satu pemikir terbesar sepanjang sejarah, Aristoteles mengambil kesimpulan.

Kebahagian, ujarnya, adalah makna tertinggi yang bisa dicapai dalam kehidupan. Kebahagian adalah dasar dari eksitensi manusia. Happiness is the meaning and the purpose of life, the whole aim and end of human existence.” ? Aristotle.

Peradaban, agama, ideologi, negara umumnya dibangun untuk mencapai tujuan itu: memberikan kebahagian sejati kepada semakin banyak manusia.

Namun kini untuk pertama kalinya, bagaimana mencapai hidup bahagia diteliti melalui science. Resep dan tips untuk hidup bahagia dan sehat tak lagi hanya bersandar pada spekulasi filsafat atau "warta dari langit," namun dari riset dan penelitian empiris atas kehidupan kongkret manusia.

-000-

Inilah riset yang paling panjang yang pernah dibuat dalam sejarah manusia. Sebuah riset diberi nama Harvard Study of Adult Development dilakukan secara konsisten selama 75 tahun.

Sebanyak 724 manusia diteliti sejak 75 tahun lalu, ketika saat itu mereka masih remaja. Sebagian besar responden sudah wafat. Tersisa tinggal 60 responden yang kini usianya sudah 90an tahun.

Namun riset atas mereka terus berlanjut. Kini riset dilanjutkan kepada 2000an anak dan cucu responden tersebut. Sejak 75 tahun lalu kehidupan responden diteliti. Mereka tak hanya diwawancarai. Namun rekord kesehatan mereka juga dipelajari. Hubungan mereka dengan keluarga dan lingkungan direkam dalam video.

Riset dimulai pertama kali di tahun 1938. Robert Waldinger adalah direktur riset yang keempat. Karena begitu panjangnya riset, direkturnya pun berganti hingga empat kali dari generasi ke generasi.

Sebanyak 724 responden diambil dari dua komunitas yang kontras. Kumpulan responden pertama dari komunitas kalangan elit, para mahasiswa Harvard sendiri. Mereka secara ekonomi termasuk yang settled dengan way of life kalangan modern.

Kumpulan responden kedua diambil dari komunitas remaja yang paling miskin di Boston. Secara ekonomi, pendidikan dan way of life, mereka termasuk yang ada di kutub berbeda dengan komunitas pertama.

Salah satu tujuan riset mendalami apa yang membuat mereka tumbuh sehat dan bahagia? Atau sebaliknya, apa yang membuat mereka tumbuh tak bahagia dan tak sehat.

Yang istimewa, pengamatan atas kehidupan responden ini dicatat dan diteliti berturut-turut tanpa putus selama 75 tahun.

-000-

Riset menyimpulkan perbedaan antara ilusi dan fakta lapangan.

Survei paling muthakir soal keinginan terdalam manusia masa kini menunjukkan lebih dari 80 persen dari mereka ingin menjadi orang kaya. Lebih dari 50 persen menyatakan mereka ingin menjadi terkenal.

Keinginan ini membentuk pola hidup dan kegiatan mereka sehari-hari. Mereka ditekan untuk bekerja lebih keras, bersaing lebih ketat.

Ujung dari pola hidup itu umumnya justru berakhir dengan hidup yang tidak bahagia, tidak sehat dan tertekan.

Hidup yang sehat dan bahagia berdasarkan riset 75 tahun dari Harvard justru bersumber dari pola prilaku yang berbeda. Jika disederhanakan, mereka yang hidupnya bahagia dan sehat adalah responden yang memiliki hubungan pribadi (relationship) yang hangat, akrab dan saling menyayangi.

Relasi yang akrab dan hangat kepada keluarga, sahabat, istri/suami atau kekasih, dan komunitas adalah kunci hidup sehat dan bahagia.

Jika didetailkan, inilah jenis relasi yang memberikan efek kepada hidup yang sehat dan bahagia.

Pertama, hubungan dengan manusia lain yang akrab dan intens sangatlah penting. Mereka yang terisolasi, memilih hidup menyendiri justru berakhir buruk. Loneliness kills!

Mereka yang secara sosial lebih terkoneksi dan intens, akrab dengan keluarga, teman dan komunitas hidup lebih panjang dan lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang secara sosial kurang terkoneksi dan kurang akrab dengan keluarga, teman dan komunitas.

Kedua, bukan jumlah tapi kualitas relasi yang penting. Yang memberikan efek hidup sehat dan bahagia itu bukan banyaknya jumlah teman, keluarga atau komunitas yang kita terlibat. Tapi kualitasnya.

Lebih baik kita memiliki sedikit anggota keluarga, teman dan komunitas yang intens, akrab dan saling menumbuhkan daripada memiliki banyak keluarga, teman dan komunitas namun berhubungan yang tak akrab, tak intens dan konfliktual.

Tentu tak ada masalah dan baik- baik saja jika kita menjadi kaya atau terkenal. Namun jika ingin hidup bahagia, riset 75 tahun dari Havard menyarankan, bangunlah relasi yang akrab, intens dan saling menumbuhkan di kalangan keluarga, teman dan komunitas.

Relasi yang sehat bisa dicapai oleh semua orang yang secara sadar menumbuhkannya. Mencapai hidup bahagia dan sehat lebih sederhana daripada yang selama ini kita duga.***

Saur Pertama, 6 Juni 2016

  • view 3.8 K