The Science of Happiness (8): Lebih Religius, Lebih Bahagia?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juni 2016
The Science of Happiness (8): Lebih Religius, Lebih Bahagia?

The Science of Happiness (8)

Lebih Religius, Lebih Bahagia?
Denny JA

Mereka yang terafiliasi dengan agama lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang tak lagi terafiliasi dengan agama. Mereka yang aktif dalam kegiatan agama lebih berbahagia dibandingkan mereka yang tak aktif dalam kegiatan agama.

Demikianlah kesimpulan puluhan riset yang mencoba mencari hubungan antara kehidupan beragama dan level kebahagiaan. Ini riset empirik. Kesimpulan itu tetap bertahan walau diuji berkali- kali dengan riset kredibel lainnya.

Koneksi antara agama dan kebahagiaan termasuk satu topik yang paling populer dalam studi happiness.

Kapita selekta hubungan agama dan kebahagian melibatkan begitu banyak peneliti dari pakar psikologi sampai pakar ilmu politik. Metode riset juga beragam, dari studi kasus hingga survei global. Terlibat di dalam kajian ini aneka nama besar dan raksasa akademik seperti Robert D Putnam dan Ronald F Inglehart

Mata kitapun terbuka memahami mengapa agama bertahan ribuan tahun. Aneka temuan ilmiah yang mencoba membongkar "kesadaran palsu" dibalik kisah dan doktrin agama tetap tak mampu melenyapkan agama. Yang terjadi, agama tetap hidup lagi dengan interpretasi baru.

Efek kebahagian yang diberikan agama kepada pemeluknya itu salah satu energi agama, yang membuatnya survive menghadapi aneka gempuran rasional. Bagi umumnya individu, meaning of life lebih kuat pesonanya dibandingkan "dekonstruksi rasional" yang mencoba menihilkan agama.

Riset kemudian hari mencoba mengeksplorasi lebih detail, sisi apa dari agama membuat pemeluknya lebih bahagia? Dan sisi apa pula dari praktek agama yang menyebabkan negara agama seperti Afganistan dan Syiria justru masuk dalam list negara yang indeks kebahagiaan paling rendah?

-000-

Riset yang menjadi fondasi hubungan agama dan kebahagiaan, salah satunya dikerjakan oleh General Sosial Survey.

Tak nangung-nanggung, survei ini dikerjakan selama 18 tahun dari tahun 1972-1990. Survei ini juga melibatkan total 20.000 responden.

Survei mengeksplor dua jenis responden. Pertama responden yang sampai usia 16 tahun masih mengikatkan diri pada agama. Namun ketika survei dilakukan, responden itu tak lagi mengikatkan diri pada agama.

Kedua sampel yang sampai usia 16 tahun sudah/tetap mengikatkan diri dengan agama. Ketika survei dilakukan, responden itu masih mengikatkan diri pada agama.

Survei mendapatkan dua komunitas yang kontras: yang masih beragama dan yang tak lagi memerlukan agama dalam hidupnya.

Kebahagiaan juga dioperasionalkan dalam tiga kategori: sangat bahagia, bahagia, kurang bahagia. Level kebahagian disimpulkan berdasarkan self-claim: pengakuan dari responden sendiri.

Dari data yang terkumpul dan dibuat uji statistik, kesimpulannnya menjadi terang benderang. Mereka yang berafiliasi dengan agama lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak berafiliasi dengan agama.

Aneka studi lanjutan mencoba mengulang riset ini dengan responden, dan metode yang berbeda. Namun secara garis umum, riset lanjutan itu tiada yang bisa mematahkan kesimpulan: adanya korelasi positif antara kehidupan beragama dengan kebahagiaan, life satisfaction, subyective well-being.

-000-

Sisi apa dari kehidupan agama yang secara langsung menyebabkan penganutnya lebih bahagia?

Studi dari Diener dan Seligman menemukan jawabannya ada pada social network antara penganut agama itu. Ketika variabel social network ditiadakan, mereka yang beragama dan tidak beragama tak lagi berbeda.

Studi itu menyimpulan, kehidupan agama lebih mampu melahirkan social network antar pengikutnya yang lebih meaningful dan akrab. Dalam relasi social network itu, penganut agama saling berbagi, saling peduli, saling membantu. Social network ini yang membuat penganut agama lebih berbahagia.

Social network dengan motiv agama itu belum tertandingi oleh social network budaya yang lebih sekuler.

Studi dari Salsman dan Carlson menemukan bahwa kunci penting dalam kehidupan beragama adalah social support. Mereka yang berkomunitas dalam agama merasakan saling membantu, saling mengasihi selaku saudara seiman. Rasa saling mendukung dalam keluarga seiman ini yang membuat penganut agama lebih aman, kuat dan bahagia.

Social support jenis ini tetap lebih powerful dibandingkan social support kultur yang lebih sekuler.

Okulizc-Kozaryn mendetailkan temuan soal hubungan agama dengan kebahagian. Data yang ia punya menunjukkan nuansa lain. Bahwa penganut agama yang hidup dalam negara yang kental agamanya lebih bahagia dibandingkan yang hidup dalam negara yang lebih sekuler.

Sebaliknya, mereka yang kurang beragama lebih bahagia hidup di negara yang sekuler ketimbang di negara yang kental agamanya.

Peneliti ini memberikan tambahan insight bahwa norma sosial yang dominan di sebuah negara juga mempengaruhi level kebahagiaan mereka yang bergama ataupun yang tidak beragama.

Tapi bagaimana menjelaskan fenomena yang bertentangan? Mengapa di negara yang secara formal menjadikan agama sebagai dasar negara seperti Afganistan dan Syria justru termasuk masyarakat yang paling tidak bahagia?

Tak ada individu yang bahagia hidup di negara yang penuh kekerasan. Pemerintahnya tak enggan menteror warga. Masyarakatnya tidak toleran dengan perbedaan. Terlepas apakah individu itu beragama atau tidak, lingkungan sosial yang keras dan penuh pemaksaan tak akan pernah menyediakan lingkungan yang kondusif bagi warganya untuk bahagia.

-000-

Jika seseorang tidak berafiiasi pada satupun agama yang ada, apakah ia tak bisa bahagia? Ada banyak jalan menuju Roma. Jalan agama salah satu jalan saja yang sudah mapan tersedia.

Mereka yang tidak berafiliasi pada agama tetap bisa bahagia. sejauh melakukan hukum besi jalan kebahagiaan. Salah satunya melalui model PERMA (Positivity, Enggagement, Relationship, Meaning of Life dan Achievement). Hal ini sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya.

Sebut saja model PERMA (dan lainnya) adalah jalan non-agama untuk bahagia.

-000-

Willam Daniel Philips (1948- ) dan Arthur Leonard Schawlow dua peneliti yang menerima hadiah nobel di bidang fisika. Mereka sangat terlatih mengeksplorasi tertib berpikir. Itu yang membuat mereka menghasilkan temuan ilmiah berkelas Nobel.

Kedua peneliti ini juga aktivis agama yang sangat mempercayai Tuhan. Ujar Arthur: "diriku dan alam semesta ini memerlukan Tuhan."

Di samping memberikan kebahagian ekstra kepada penganutnya, agamapun tetap bisa mempesona dan membuat bahagia para cerdik pandai, termasuk penerima hadiah Nobel dunia ilmu.

Itu sebabnya mengapa agama tetap saja hadir di era super digital. ***

Saur hari ke delapan, 13 Juni 2016.

  • view 10.9 K