The Science of Happiness (7): Berbahagiakah Masyarakat Kita?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Juni 2016
The Science of Happiness (7):  Berbahagiakah Masyarakat Kita?

The Science of Happiness (7)

Berbahagiakah Masyakarat Kita?
Denny JA

Apakah lingkungan kita didiami oleh lebih banyak orang yang bahagia? Ataukah kita tinggal di negara yang membuat penduduknya tertekan?

Dapatkah sebuah negara dikatakan maju jika masyarakatnya kurang bahagia walau secara ekonomi negara itu kaya raya?

Seberapa besar pengaruh lingkungan bagi kebahagian individu? Bisakah kita membuat index kebahagian secara nasional? Dapatkah kita menyusun index yang terukur, agar mudah memperbandingkan satu negara dari waktu ke waktu, atau membandingkan aneka negara dalam satu waktu?

PBB (Perserikatan Bangsa- Bangsa) juga peduli dengan pertanyaan itu. Di tahun 2011, PBB mengundang aneka negara anggotanya untuk mencari solusi. Sebuah lembaga kemudian menindak lanjutinya, bernama Sustainable Development Solution Network (SDSN).

Para ahli dilibatkan menyusun rekomendasi, mulai dari pakar ekonomi, politik, ahli ilmu sosial sampai pakar psikologi.

-000-

Di tahun 2012, lahirlah untuk pertama kali sebuah report yang diberi nama World Happines Index. Ini sebuah terminologi yang terukur dengan data tentang perspektif baru kualitas hidup masyarakat.

Index ini memperkaya dua hal sekaligus. Pertama, index ini memperbaiki cara mengukur kemajuan sebuah negara. Hanya mengukur ekonomi sebuah negara melalui GDP, GNP, walau dipercanggih dengan daya beli masyarakat (Purchasing Parity Power) dan naiknya inflasi, dirasakan tak lagi memadai.

Manusia tak hanya hidup dari roti. Ia tak bisa hanya direduksi dan diukur dari satu dimensi saja: ekonomi. Kualitas hidup di luar ekonomi sangatlah penting. Apalagi kini ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju untuk juga bisa mengkuantifikasi aneka dimensi kualitas hidup.

Kedua, index ini juga memperkaya literatur kajian Happiness. Awalnya studi kebahagiaan didominasi oleh pendekatan psikologis. Unit analisanya individu. Ini pendekatan yang dianggap terlalu sederhana.

World Happiness Index mengakumulasi aneka studi yang menunjukkan besarnya pengaruh lingkungan sosial bagi level kebahagiaan individu.

Jika diformulasikan dengan angka: level kebahagiaan individu dipengaruhi 50 persen oleh bawaan lahir.

Sebesar 50 persen bawaan lahir itu berasal dari studi mengenai ratusan orang kembar yang hidup terpisah sejak kecil. Betapa level kebahagiaan orang kembar itu nyaris sama walau mereka hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda.

Di luar bawaan lahir, 50 persen lainnya adalah pengaruh lingkungan. Ini prosentase yang sangat besar dan perlu selalu dieksplor.

Secara common sense saja, ini mudah kita pahami. Seseorang lebih mudah berbahagia jika ia hidup di lingkungan yang menghargai hak asasinya, dengan sistem pemerintahan yang mensupport welfare program, yang menghargai kebebasan dan keberagaman, yang memiliki asuransi kesehatan, dalam lingkungan ekonomi yang maju, dan sebagainya.

Sebaliknya, seseorang lebih sulit bahagia jika ia hidup dalam lingkungan negara yang sangat miskin, yang pemerintahnya tak enggan meneror warga, yang masyarakatnya tidak toleran kepada keberagaman, tak ada asuransi kesehatan, tak ada support bagi mereka yang marginal, dan sebagainya.

Selanjutnya bagaimana membuat judgment yang terukur untuk mengkuantifikasi aneka common sense di atas.

-000-

Berangkat dari perspektif baru itu, data statistik diolah kembali. Aneka measurement di bidang ekonomi, ilmu sosial, politik, psikologi, dikumpulkan dan disusun menjadi satu kesatuan untuk sebuah platform yang berbeda.

Ekonomi satu negara misalnya diukur dari GDP yang datanya memang sudah tersedia. Penghargaan atas hak asasi warga negara diukur dengan indeks Freedom to make life choice.

Dipenuhinya basis need masyarakat diukur melalui Social Support Index. Pemerintahan yang bersih diukur melalui index korupsi. Dan sebagainya dan sebagainya.

Sampai era sekarang, inilah index yang paling lengkap dan terukur yang pernah dibuat untuk mengukur kualitas hidup masyarakat di sebuah negara.

Di tahun 2016, kita dapat melihat dan memperbandingkan data 157 negara. Top 10 World Happiness Index tertinggi adalah Denmark, Switzerland, Iceland, Norwegia, Finlandia, Kanada, Netherland, New Zealand, Australia dan Swedia.

10 negara yang world happines indexnya terendah adalah Burundi, Syiria, Tongo, Aghanistan, Benin, Ruwanda, Guinea, Liberia, Tanzania, Madagaskar, Yemen.

Amerika Serikat yang merupakan negara super power di dunia hanya ada di rangking ke 13. Qatar yang merupakan negara paling kaya dari sisi GDP per kapita hanya ada di rangking 36. Dan Indonesia berada di rangking ke 79 dari 157 negara.

Dari 10 negara yang kualitas hidup dan rata-rata warganya disebut paling bahagia, umumnya adalah negara yang ekonominya sudah kaya. Negara itu mengadopsi sistem politik demokrasi. Mereka menghargai keberagaman. Di negara itu diterapkan pula sistem ekonomi pasar yang dikombinasi dengan besarnya peran pemerintah memberikan welfare program kepada rakyatnya.

-000-

Kitapun mendapat gambaran dan peta variabel apa saja yang dibutuhkan secara sosial jika kita ingin ikut sebisanya memperbaiki kualitas hidup masyatakat, dan level kebahagian individu di dalamnya.

Ikut memajukan ekonomi, menumbuhkan demokrasi, mengkampanyekan toleransi dan keberagaman, kerja sosial membantu yang terpinggirkan, adalah sesuatu yang signifikan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Pada waktunya, hal ini 50 persen mempengaruhi level kebahagian individu yang hidup di dalamnya.

Tentu kita mengerjakannya sesuai dengan kemampuan. Yang besar, pengaruhnya bisa di skala nasional. Yang kecil, cukup di lingkungan komunitasnya sendiri.

Hidup akan lebih berbahagia dan bermakna jika kita semampunya ikut membuat lingkungan kita semakin banyak didiami oleh orang-orang yang bahagia.***

Saur Hari ke 7, 12 Juni 2016

 

  • view 10.8 K