Bisakah Golkar Berjaya Kembali di 2019?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 18 Mei 2016
Bisakah Golkar Berjaya Kembali di 2019?

Paska  Munaslub:
Bisakah Golkar Juara Kembali?

*Denny JA

Bisakah dan apa yang perlu dilakukan jika Golkar ingin juara kembali dalam panggung politik nasional? Inilah pertanyaan penting setelah terpilihnya Setya Novanto sebagai ketum dan Aburizal Bakrie sebagai ketua Dewan Pembina.

Pertanyaan ini diajukan kepada pemilih di seluruh Indonesia melalui survei LSI (Lingkaran Survei Indonesia) menjelang Munaslub Golkar, awal Mei 2016.

Hasilnya menarik. Berdasarkan survei itu, 64. 5 persen publik menyatakan Golkar bisa berjaya kembali hanya jika muncul dengan branding baru. Yaitu citra baru Golkar dengan aneka gagasan, program, barisan elit baru yang muda dan segar serta menjanjikan.

Agar bangkit lagi, Golkar perlu yang lebih besar daripada sekedar pergantian kepengurusan saja!

Mayoritas yang mengharap Golkar tampil dengan branding baru merata di semua segmen pemilih.

Dibanding semua partai lain, Golkar adalah partai yang paling berpengalaman mengelola kekuasaan. Setelah jatuhnya Orde Baru di tahun 1998, Golkar sempat ikut terpuruk. Namun pengalamannya itu membuat Golkar mampu bangkit lagi menjadi juara pemilu legislatif 2004.

Pengalaman Golkar yang bisa bangkit dan juara lagi diyakini bisa pula membuat Golkar bangkit lagi di masa kini, sejauh ia muncul dengan branding dan kesan baru.

Di banding dengan umumnya partai lain, Golkar juga yang paling mendekati citra partai modern. Modern atau tidaknya organisasi, salah satunya ditandai dengan beralihnya otoritas tertinggi dari "Personal Orde" menuju "Impersonal Order."

Partai lain seperti PDIP, Gerindra, Demokrat, bahkan partai baru Nasdem, ditandai oleh masih dominannya "personal order", figur seorang pendiri atau ketum yang dominan menentukan bulat lonjongnya partai. Golkar semakin jauh dari kesan itu karena tak ada satu figur sangat dominan.

Partai lain bisa diibaratkan seperti sebuah PT dengan satu pemilik saham yang nyaris tunggal. Golkar adalah perusahaan terbuka yang pemiliknya orang banyak dan relatif merata. Ini sebuah keuntungan bagi Golkar untuk lebih dinamis dan terpisah dari kepentingan tokoh pribadi yang dominan.

*Efek Konflik Pengurus 2014-awal 2016

Setahun lebih konflik kepengurusan Golkar lumayan sudah memberikan kerusakan politik, terutama yang bersifat elektoral, seperti persepsi pemilih kepada Golkar.

Setidaknya tercatat efek negatif konflik Golkar tempo hari pada empat tatanan.

_Pertama_, dari dukungan publik: golkar masih nomor dua namun semakin berjarak dengan pemenang pemilu 2014: PDIP.

Di tahun 2014, PDIP memperoleh 18,95 pemilih. Sementara Golkar mendapatkan 14,75 persen, hanya terpaut 4 persen dari juara pertama

Hasil survei LSI (Lingkaran Survei Indonesia) Mei 2016, angka itu sudah bergeser. PDIP kini menaik dengan dukungan 21.5 persen. Golkar menurun dengan dukungan 10, 8 persen. Walau Golkar masih di posisi kedua, namun jaraknya dari PDIP melebar di atas 10 persen.

_Kedua_, dalam prosentase kemenangan pilkada 2015, Gollkar jauh menurun. Pada pilkada sebelum konflik pengurus, kemenangan Golkar umumnya unggul teratas dibanding kemenangan partai lain, bahkan di atas 50 persen.

Kini rekapitulasi hasil pilkada yg dikumpulkan team LSI 2015, Golkar terpuruk hanya di urutan 9 saja.

Perolehan kemenangan pilkada serentak di tahun 2015, PDIP memperoleh total kemenangan di 105 daerah (rangking 1). Kemenangan pilkada Gerindra di 87 daerah ( rangking 2). Demokrat menang di 68 daerah (rangking 6). Sedangkan Golkar 49 daerah (rangking 9). (Note: data LSI baru merekapitulasi 90 persen hasil pilkada 2015).

Kemenangan pilkada ini memang lebih banyak ditentukan oleh figur yang dicalonkan. Namun juga itu berarti cengkraman Golkar kepada kepala daerah di aneka wilayah Indonesia juga berkurang.

_Ketiga_, soal sikap politik, Golkar menunjukkan ambivilensi. Untuk pertama kalinya Golkar 2014- awal 2016 menjadi pemimpin oposisi (KMP). Namun sikap ini rentan di dalam, yang justru akhirnya menyeret Golkar dalam konflik berkepanjangan.

Sikap oposisi itu tidak didukung oleh mayoritas pemilih Golkar berdasarkan survei. LSI. Ketidak puasan sebagian elit Golkar atas hasil Munas Bali 2014, ditambah lagi upaya aktor pemerintah yang ingin menarik Golkar tidak beroposisi, membuat Golkar mudah sekali "diobok-obok." Hasilnya adalah stagnansi partai dalam konflik berkepanjangan. Situasi ini baru berakhir pada MUnaslub Mei 2016.

Akibat ambivelensi positioning ini, GOlkar tidak kokoh sebagai pemimpin oposisi. Di sisi lain, Golkar juga belum menjadi bagian penting pemerintahan Jokowi.

Hasil survei LSI Mei 2016 menunjukan 70, 5 persen pemilih golkar inginkan Golkar bergabung di pemerintahan. Hanya 18. 7 persen ingin golkar konsisten menjadi pemimpin oposisi.

_Keempat_, Golkar belum punya tokoh dengan dengan kelas pemimpin nasional untuk bersaing dalam pilpres 2019.

Agar maksimal sebagai partai pengatur kebijakan, sebuah partai tak hanya harus menang dalam pemilu legislatif. Ia juga harus menang dalam pemilu presiden.

Praktis kini hanya PDIP dan Gerindra yang punya stock kuat untuk capres: Jokowi dan Prabowo. Hasil survei LSI mei 2016, untuk capres jika pilpres hari ini, dengan pertanyaan banyak calon: Jokowi masih menjadi figur menonjol dipilih di atas 40 persen. Nomor dua Prabowo dipilih di atas 20 persen. Tokoh partai lain umumnya hanya di bawah 10 persen. (Note: SBY dan Megawati tak diikut sertakan dalam quesioner).

Golkar harus pula secara cepat menyiapkan tokoh pilihannya untuk bertarung dalam pilpres 2019, baik untuk calon presidennya, ataupun hanya untuk wakil presiden jika Jokowi masih sangat kuat.

*What Next

Untuk berjaya kembali, empat langkah ini harus secepatnya disiapkan Golkar dengan kepengurusan baru.

1) Melakukan lobi agar bergabung dengan pemerintahan Jokowi dan mendapatkan kursi kabinet. Golkar akan lebih kuat dan jelas positioningnya jika ada dalam kabinet Jokowi.

Bagi Jokowi, ini juga lebih memperkuat posisi politiknya. Dengan tambahan Golkar di kabinet, Jokowi tak hanya lebih kuat di parlemen, namun juga semakin tak tergantung dengan partai lain dengan membuat "balance of power" di kalangan partai pendukungnya.

2) Kembali berjaya di pilkada 2017 dan 2018 dengan kemenangan seperti sebelumnya, di atas 50 persen. Menang telak di pilkada 2017 adalah indikator pertama yang terukur yg bisa membangkitkan keyakinan publik dan kadernya bahwa Golkar sudah bangkit.

3) Menyiapkan calon presiden dan/atau calon wapres yang kuat dan segar. Calon tersebut secepatnya tampil ke publik, untuk menambah pesona Golkar, dengan aneka gagasan segar. Sebuah partai yang besar adalah partai yang otonom memiliki calon pemimpin nasionalnya sendiri.

Praktis tak ada kader resmi Golkar yang pernah menang menjadi presiden dalam pilpres langsung. Tanpa calon Golkar menjadi presiden, Golkar tak lengkap mengendalikan pemerintahan.

4) Menawarkan sebuah program/agenda nasional yang segar untuk menjadi branding baru Golkar. Politik Indonesia harus disegarkan kembali dengan hadirnya aneka gagasan kebijakan publik yang baru, dan munculnya elit partai baru, yang visioner.

Setya Novanto sebagai ketum justru dapat memulai tradisi pimpinan partai politik di Amerika Serikat. Tak perlu ketua partainya yang menjadi corong ke publik. Ketua partai hanya mengkonsolidasi partai bagi tampilnya kader partai lain sesuai dengan prinsip "the right person in the right place."

Publik sudah rindu dengan politik yang sarat dengan debat kebijakan publik dan arah politik yang visioner. Golkar punya kesempatan mengisi kerinduan itu jika banyak elit baru Golkar ditampilkan yang visioner.

Golkar sudah membuktikan kepiawaiannya bisa bangkit kembali di tahun 2004 menjadi juara pemilu legislatif.

Dibawah Setya Novanto dan Aburizal Bakrie, kini sekali lagi ditest oleh sejarah sebuah mission impossible (tantangan sulit tapi tak mustahil) bagi Golkar untuk kembali menjadi partai yang juara.

*Mei 2016

 


  • fatah yasin
    fatah yasin
    1 tahun yang lalu.
    Menurut saya, partai golkar dapat berjaya kembali apabila ketum setnov dapat merangkul semua kandidat yang kemarin kontes bersama di Nusa dua, Bali. Karena sejatinya persaingan dalam tubuh golkar merupakan salah satu bentuk frame yang tidak bisa lepas dari siapa yang ada dibelakangnya. Seperti Kosgoro 1957, Soksi, AMPG. dan beberapa badan gerakan lainnya yang bersama2 mendukung golkar. Tanpa komunikasi yang sinergitas dengan mereka, dan meskipun golkar sudah melegalkan untuk bergabung dg pemerintahan. Kecenderungan akan muncul blok baru akan terjadi.