Puisi dan Lilin untuk #SOS (Save Our Sisters)

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Mei 2016
Puisi dan Lilin untuk #SOS (Save Our Sisters)

Puisi dan Lilin untuk #SOS (Save Our Sisters)

Denny JA

Data dari Komnas Perempuan: sepanjang tahun 2015 terjadi 16.217 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk pemerkosaan.

Dari tahun 2001-2012, setiap dua jam terdapat tiga perempuan, termasuk anak-anak di bawah umur, menjadi korban kekerasan seksual.

Seorang bupati Aceh Barat, Ramli Mansur menyatakan wanita yang tak memakai pakaian sesuai dengan syariat Islam di Aceh Barat memang layak diperkosa.

Dipicu kembali oleh kasus Yuyun, seorang gadis usia 14 tahun, yang diperkosa 14 pria hingga tewas di bulan April 2016, dan tetap diperkosa lagi dan lagi walau sudah tewas, lalu jazadnya dibuang ke jurang, para aktivis berkumpul.

Sebuah respon kolektif saatnya digaungkan. Jika tidak sekarang, lalu kapan? Jika tidak oleh mereka yang peduli, lalu oleh siapa?

Di Tugu proklamasi Jakarta, Jumat 13 mei 2016, malam hari, dihadiri beberapa menteri, para aktivis, dan publik yang peduli, dalam acara orasi dan talk show, puisi dan lilin dinyalakan untuk #SOS (Save Our Sisters).

Rasa prihatin dan kekecewaan atas perpektif perkosaan yang malah merugikan korban, melahirkan kebutuhan sebuah framework baru untuk kekerasan seksual. Cara pandang baru ini agar efektif harus diwujudkan dalam sebuah undang undang Penghapusan Kekerasan Seksual (UU PKS)

Saatnya kekerasan seksual terhadap perempuan dianggap tidak sebagai kriminal biasa, tapi sebagai kejahatan atas kemanusiaan. Efek perkosaan bagi psikologis sang korban sepanjang hidupnya adalah teror berkepanjangan.

Perspekstif dan sanksi harus kembali dirumuskan dengan lebih berpihak kepada korban.


Malam itu juga menjadi doa bersama karena bertepatan dengan 40 hari kematian Yuyun, gadis cilik yang kini menjadi simbol keganasan perkosaan.

Sebagai bentuk solidaritas, saya tuliskan kembali puisi untuk Yuyun.


Tangis Yuyun Kepada Ibunya

Denny JA

Ibu, sempat terdengarkah suaraku?
Kupanggil berkali-kali namamu
Saat belasan orang memperkosaku
yang ingin kulihat hanya wajahmu

"Ibu, tolong aku.."
"Ibuuuuuuu, ibuuuuuuu...."
Kuteriakkan lagi dan lagi
Saat aku takut
Saat aku sakit
Saat aku menjerit
Saat aku menangis sejadi-jadinya

Bulan ditusuk samurai
Melati putih disiram lumpur
Ranting muda patah
Tak kuasa dideru angin

Siang itu
2 April hari sabtu
Dari sekolah kubawa bendera
Tugasku mencucinya di rumah
Untuk hari senin upacara

Tiada istimewa
Kulewati kebun karet biasa
aku pulang sendiri
berjalan kaki
Seperti saban hari

Sambil berjalan selalu
Kubayangkan cita-citaku
menjadi guru
14 tahun sudah usiaku
Kuingin sekali membuatmu bangga ibu

Di dahan pohon itu
Kulihat seekor burung berkicau selalu
Tak pernah kulihat sebelumnya
Kicauannya kudengar tiada pernah

Aku terdiam berhenti
Menyimaknya dengan teliti
Entah mengapa
Hatiku tiba tiba hampa
Seperti luka
Yang menganga

Aku terus saja berjalan
Kujumpa remaja bergerombol belasan
Kukenali yang ini dan itu
Mereka kakak kelasku

Tapi aku mulai was-was
Karena mereka bau minum keras
Mata mereka ganas
Menjelma menjadi harimau buas

Tapi ibu
Cepat sekali mereka menerkamku
Dengan paksa ingin menciumku
Astaga, mereka merobek bajuku

Aku takut, ibu
Kupanggil namamu
Aku melawan sebisaku
Sekuat tenagaku
Aku meronta
Aku berteriak
Aku menangis keras

Tapi mereka lebih kuat, ibu
Mereka pukul kepalaku
keras sekali dengan kayu
Mereka ikat tanganku
Mereka cekik leherku

Aku mereka bawa paksa
Menjauh ke semak-semak sana
Tempat itu sepi sekali
Tambah membuatku ngeri

Astaga ibuuuuu..
Mereka memperkosaku
Belasan mereka bergiliran
Lagi dan lagi bergantian
Ampuuuunnnn...
Aku menangis
Aku terjang
Melawan yang aku bisa
Berkali- kali ibu
Kupanggil namamu
Hingga tiada lagi rasa
Tiada suara
Tiada warna
Tiada apa

Bunga segar jatuh ke tanah
Tak berdaya dan punah

Ibu, tak kuduga aku mati muda
kini aku di alam berbeda
Kulihat jazadku merana
Mereka tutupi dengan daun
Seolah tanaman yang rimbun

Burung yang aku lihat di kebun karet itu
Kulihat lagi di alamku yang baru
Ia terus berkicau
Kini bisa kulihat suaranya
Di hati banyak orang bergema
Membangunkan nurani sebuah negeri

Kulihat para sahabat di banyak tempat
Menyalakan lilin untukku
Agar tiada lagi kekerasan
Bagi perempuan
Bagi bocah ingusan

Ibu, burung itu berbisik teduh
Ia berkata padaku
Jangan lagi aku bersedih
Kematianku tidak sia-sia
para pejuang di seluruh negeri
Menjadikan deritaku
Sebagai derita mereka

Aku menangis ibu
Terharu
Kukatakan pada burung itu
Jangan lagi ada seperti aku

Jakarta, Mei 2016

 

 

 

  • view 867