Pak Djohan di Makam Istrinya

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Puisi
dipublikasikan 29 April 2016
Pak Djohan di Makam Istrinya

Pak Djohan di Makam Istrinya

Denny JA

Istriku,
Kata tak kunjung terucap
Entah apa menyumbat

Di atas kursi roda
Kupegang mikrophone
Di depan makammu
Terakhir kali kuingin berkata
Namun tak bisa bicara

Tiga menit sudah
Tiada kata
Mikrophone diambil dari tanganku


Air matakupun menetes
Mengubah makammu menjadi samudra
Kita berdua terhanyut di gelombang besar
Kupeluk sekuatnya badanmu
Tak ingin kulepas
Namun gelombang membawa dirimu pergi
Terpisah dariku

Aku tenggelam sendirian
Melihatmu dari kejauhan menghilang
Hanya ada diam
Dan bunyi air mata yang terus menetes

Suara anak-anak kita
Dan para sahabat yang mengantarmu
Menyadarkanku
Kulihat makammu
Kuminta kembali mikrophone
Aku ingin bicara
Namun kembali tiada kata terucap

Nampak wajahmu tersenyum
Saat pertama kulamar dirimu
Puluhan tahun lalu
Kujanjikan
Hanya niat baik seorang suami
Aku tak ahli dan tak suka
Mengumpulkan aneka benda

Kau berucap dengan ikhlas
"Kebaikan dalam hidup sederhana
itulah harta yang sebenarnya"

Bukan hidup tenang pula
Yang kau terima
Tak semua setuju
Pada apa yang kuperjuangkan
Pada agama yang ramah
Hujatan kerap menghadang
Cacian kerap datang

Kau berucap dengan ikhlas
"Hidup yang berjuang
Adalah hidup yang bermakna"

Bukan keluarga yang lazim
Yang bisa kuberikan
Aku milik orang banyak
Orang banyak memilikiku

Kau berucap dengan iklhas
"Mereka juga keluargamu
Mereka juga anak-anakmu"

Aku sakit terlebih dahulu
IKhlas kau menyiapkan makamku
Hidup tak terduga
Kini aku yang melihat makammu

Masa tuaku berubah
Belum kutahu apa
Hanya luka menganga

Mikropohone itu masih di tanganku
Mataku menembus makammu
Kau tertidur sambil senyum
Dan berkata:
Kau memahami segala
Tanpa perlu lewat kata
Teruskan berjuang
Menjaga anak-anak
Menjaga komunitas
Menjaga Indonesia


Mikrophone kembali diambil dari tanganku
Aku nyaman dan melepaskan
Justru dirimu yang berkata
Tidak lewat kata

(Ini ekpresi yang mencoba menafsir lima menit pak Djohan Effendi memegang mikrophone di makam istrinya namun tiada keluar kata sepatahpun, kecuali air mata)

April 2016