Bu Djohan Effendi dan Sepetak Makam

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Lainnya
dipublikasikan 28 April 2016
Bu Djohan Effendi dan Sepetak Makam

Ibu Djohan Effendi dan Sepetak Makam

Denny JA

Sejak era mahasiswa tahun 80an, lebih dari tiga puluhan tahun lalu, saya sudah memendam keinginan membalas budi ibu Djohan. Tak diduga, melalui proses yang tak direncanakan, kesempatan yang ada hanya menyediakan sepetak makam untuknya.

Rabu 27 April 2016, Ibu Hajjah Solicah binti Dullah Ichwan wafat. Kami biasa memanggilnya ibu Djohan saja, karena ia adalah istri dari Djohan Effendi, seorang pemikir dan aktivis bagi keberagaman agama di Indonesia.

Saya mengenalnya sudah lebih dari tiga puluhan tahun lalu. Di era mahasiswa tahun 80an, saya termasuk aktivis yang gemar berdiskusi, mulai dari soal politik, agama hingga filsafat.

Namun sebagai aktivis yang kere, saya dan teman-teman tak punya tempat berkumpul. Rumah orang tua kami masing-masing terlalu kecil untuk itu. Belum ada dana pula untuk mengontrak atau menyewa tempat berkumpul.

Pak Djohan dan Ibu Djohan menyediakan tempat berkumpul untuk kami. Setiap hari minggu sejak tahun 1983 hingga 1989, kami berkumpul di rumahnya di jalan proklamasi. Dari sana bersama kami membuat kelompok studi, yang diberi nama Kelompok Studi Proklamasi.

Tak diduga, kelompok studi bagi kegiatan altenatif mahasiswa kemudian menjadi trend baru saat itu, ketika kampus sedang ramai melakukan depolitisasi.

Saya sendiri ikut mempopulerkan gerakan baru mahasiswa itu. Apalagi saya membaca di tahun 20-an, menghadapi kolonialisme Belanda yang agresif, para mahasiswa dan intelektual muda saat itu berhimpun dalam kelompok studi, termasuk Sutomo, Bung Karno dan Bung Hatta.

Karena tertekan dalam kegiatan politik praktis, Sutomo, Bung Karno, Hatta, dll menyibukkan diri dengan kajian ideologi politik, pemikiran, yang kemudian justru membantu mereka tumbuh sebagai negarawan yang visioner: pejuang -pemikir, pemikir-pejuang!

Saya menulis banyak soal konsep dan konteks politik kelompok studi mahasiswa. Pertama kali saya menuliskannya di harian Kompas 1986: Mahasiswa, Masyarakat dan Negara. Artikel itu ikut memicu Kompas kemudian membuat liputan tiga hari berturut-turut di halaman satu. Majalah Tempo pernah pula menjadikannya sebagai bagian dari Laporan Utama.

Sebagai mahasiswa saat itu betapa senangnya saya melihat foto saya terpampang di halaman satu Kompas. Saya ingat, koran itu saya gunting, saya kliping dan selalu saya tunjukkan kepada aneka handai taulan dengan penuh semangat.

Pak Djohan dan Ibu Djohan hampir selalu hadir dalam pertemuan hari minggu kami. Pak Djohan kadang memberikan pandangannya, atau memberikan kami buku untuk didiskusikan.

Namun bu Djohan lebih banyak hadir dalam diam. Ia hadir sebagai ibu bagi "mahasiswa-mahasiswi" di rumahnya, menyediakan makanan, minuman. JIka pada pertemuan sebelumnya ada yg tak datang, ia bertanya penuh perhatian apakah minggu lalu kabar yang absen itu baik baik saja? Tidak sakit atau ada masalah?

Hubungan kami dengan ibu Djohan berlangsung hampir setiap minggu selama enam tahun. Ketika selesai era mahasiswa, dan sebagian kami mulai ada yang bekerja di kantor, pertemuan tak seintens sebelumnya.

Sayapun sekolah ke Amerika dan hidup di sana sekitar tujuh tahun. Selama itu saya hampir tak pernah lagi jumpa dengan bapak dan ibu Djohan.


Setelah pulang ke Indonesia, sesekali saya jumpa ibu Djohan. Termasuk mengunjunginya ketika Pak Djohan menjadi menteri di era Presiden Gus Dur.

Pak Djohan dan ibu Djohan pun kemudian pindah sekeluarga ke Australia. Kami semakin jarang berkomunikasi.

Baru tiga tahun belakangan ini, hubungan kami dengan pak Djohan dan ibu Djohan intens kembali. Pak Djohan memilih tinggal di Indonesia karena menderita sejenis kanker darah. Walau di Australia treatment pengobatan lebih canggih dan sangat bersahabat, pak Djohan lebih memilih tinggal di Indonesia dikelilingi para sahabatnya.

Ibu Djohan selalu hadir di samping pak Djohan, menemani pak Djohan yang sedang sakit.

Dalam beberapa kesempatan saya mencari cara untuk membalas budi kepada ibu Djohan, yang dulu bersedia dengan ikhlas menjadi ibu bagi kami mahasiswa-i yang saat itu kere.

Berbeda dengan era mahasiswa, saat ini beberapa dari kami diberikan rejeki Tuhan yang berlebih. Namun ibu Djohan selalu saja menolak pemberian kami. Ia lebih senang kami seperti dulu: datang ke rumahnya, disediakan makanan dan minuman olehnya.

Suatu ketika pak Djohan memanggil kami untuk berdiskusi tema yang unik: menyiapkan pak Djohan menjemput ajalnya karena sakit kanker.

Kami berdiskusi mulai soal buku terakhir yang sedang disiapkan Pak Djohan; terjemahan puitik Quran, dan catatan harian dengan judul "Aku diambang Batas" yang merupakan refleksi hidup pak Djohan di era sakitnya.

Itu juga pengalaman unik bagi saya. Pak Djohan dengan santai saja mengajak diskusi lokasi kuburan jika nanti Tuhan memanggilnya.

Saat itu saya menawarkan satu petak makam di San Diego, tempat makam nuansa baru dengan konsep "parawisata spiritual." Di dalam kompleks itu, banyak tempat yang indah untuk merenung: telaga, padang rumput dan tempat duduk santai minum kopi.

Saya membayangkan banyak murid pak Djohan nanti akan berziarah. Di San Diego, mereka  bisa berdoa dan lanjut bertukar pikiran dalam area yang nyaman.

Saya sudah membeli beberapa petak di sana. Dan sudah memindahkan almarhum ayah dan kakak saya, dari makam lamanya ke makam San Diego.

Namun saat itu Pak Djohan lebih memilih untuk dimakamkan di dekat makam Sahabatnya Ahmad Wahib, yang menulis catatan Pergolakan Pemikiran Islam. Ia sudah meminta Elza Peldi Taher mencari makam di sebelah Ahmad Wahib.

Diskusi mengenai makampun tak lagi berlanjut. Apalagi ada berita ternyata kanker darah pak Djohan ada kemungkinan disembuhkan.

Yang tak terduga, justru ibu Djohan yang kemudian jatuh sakit. Awalnya ibu Djohan yang menemani pak Djohan yang sakit. Kini terbalik, pak Djohan yang menemani ibu Djohan yang sakit.

Proses sakitnya ibu Djohan sangat cepat. Berita dukapun tiba. Bu Djohan dipanggil Tuhan lebih dahulu.

Saya dan teman-teman yang dulu menjadi "anak-anak" pak dan ibu Djohan menemani dan membantu apa yang bisa. Namun anak-anak kandung pak dan bu Djohan selalu tak ingin merepotkan kami.

Mereka sudah berembuk mencarikan makam untuk ibu Djohan. Saya dan teman-teman mengikuti saja keputusan anak kandungnya. Tempat makam diputuskan di sebuah lokasi di Jakarta dan sudah diumumkan di social media.

Saya mencari celah hal apa lagi yang bisa saya dan teman-teman bantu. Tapi tetap membiarkan anak-anak kandungnya yang mengambil keputusan.

Sekitar jam 22.30 malam, keluarga pak Djohan bertanya dan berniat memindahkan lokasi makam. Nong dan Neng Dara membriefing saya ada kemungkinan pak Djohan ingin istrinya dimakam di San Diego. Apakah lokasi dan petak makam yang dulu saya tawarkan ke pak Djohan bisa digunakan untuk bu Djohan? Apakah petak makam itu bisa diurus dan dipindahkan dari untuk pak Djohan menjadi untuk istrinya?

Sayapun kaget. Makam sudah harus dilakukan esok harinya. Sementara sekarang sudah jam 22.30. Kantor sudah tutup sejak jam 17.00.

Namun berdetak di hati saya, mungkin ini momen yang sejak dulu saya tunggu, untuk membalas budi bu Djohan. Yang tak saya duga, momen itu adalah menyediakan petak makam bagi peristirahatannya yang terakhir.

Saya pun bergerak cepat melakukan apa yang bisa.

Selamat jalan bu Djohan ke pangkuanNya. Terima kasih bagi semua kebaikan yang kami terima sejak mahasiswa. Kebaikan itu tumbuh dari benih menjadi bunga, yang terus hidup bersama kami.

April 2016