Kuharap Ayah Masih Hidup

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 Januari 2016
Puisi Agama dan Diskriminasi

Puisi Agama dan Diskriminasi


Kategori Puisi

18.4 K Tidak Diketahui
Kuharap Ayah Masih Hidup

Kuharap Ayah Masih Hidup

Denny JA

Tasbih yang kugenggam bersuara: Relakan, Relakan, Relakan.

Sajadah tempatku bersujud bergema: Ikhlaskan, Ikhlaskan, Ikhlaskan

Mukena yang aku pakai berbisik: Lepaskan, Lepaskan, Lepaskan.

Ayah, inikah pesanmu untukku?

Sampaikah doa malamku?

Aku terdiam

Sendiri

Bersama air mata

-000-

 

Beratus malam aku bersujud

Beribu tetes air mata membasahi sajadah.

Salahkah aku berharap Ayah masih hidup?

 

Baju ayah masih kurapihkan di almari

Buku ayah baca masih kusimpan dan kubaca

Foto Ayah tetap menghiasi kamarku

Salahkah aku berharap Ayah masih hidup?

 

Tapi kubenci,

hatiku selalu berkata lain.

mustahil ayah hidup.

Karena ayah pasti pulang mencariku,

mencari ibu, mencari kakek, mencari nenek

 

Hari itu di tahun 98

Ayah hilang begitu saja

AKu masih sangat kecil

Ibu selalu menangis setiap kali aku tanya:

Ayah dimana?

Mengapa ayah tak kunjung pulang, ibu?

Mengapa ayah tidak rindu padaku?

 

Aku menangis sejadi-jadinya

Ibu tak menjawab

Ikut menangis bersamaku

Kadang tangis ibu lebih kencang

Setelah dewasa nanti kau mengerti, ujar ibu.

 

Kini aku sudah dewasa, ayah

Kau masih belum juga pulang

16 tahun sudah berlalu

Aku hidup dalam ketidak pastian

 

Di sekolah, apa yang harus kutulis soalmu Ayah.

Haruskah kutulis ayah almarhum?

Tapi dimana kuburnya?

Haruskah kutulis ayah hidup?

Tapi dimana tinggalnya?

 

Kisahmu dan aktivis yang hilang

Kini kembali digali

Menjadi komoditi di Pemilu presiden

Pro dan kontra kembali menggema

Yang satu berkata

Ayah diculik oleh calon presiden

Ayah dihilangkan oleh kelompoknya

Yang lain membantah

Itu kampanye hitam

Itu Kebohongan politisi

 

Ayah, aku berjanji padamu

Akan kutaburkan mawar di makammu

jika kau memang dikubur

Atau kusebarkan melati di samudra

JIka memang kau dihilangkan di laut

 

Ya Allah, selamatkanlah negeri kami

Cerahkanlah pemimpin kami

Jangan ada lagi hambamu

Diculik atau dihilangkan

hanya karena perbedaan politik.

(Tasbih, sajadah, dan mukena yang kupakai

Kembali bersuara; saut menyaut:

relakan, ikhlaskan, lepaskan....)

 

 

Jakarta, 21 Juni 2014

 

  • view 351