"Kamu jenius, Tapi Pribadimu Rusak"

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Januari 2016
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

61.8 K Wilayah Umum

"Kamu Jenius, Tapi Pribadimu Rusak"

Steve Jobs terdiam. Ia merenungkan pernyataan Co-Founder Apple Steve Wozniak yang mengumpat keras: "Kamu berbakat, tapi pribadimu rusak."

Dua jam saya tercekam menonton film terbaru yang memotet legenda dunia komputer berjudul Steve Jobs (2015). Film ini dibintangi oleh Michael Fassbender dan Kate Winslet. Keduanya baru saja diumumkan masuk nominasi pemeran aktor terbaik dan pembantu peran aktris terbaik Oscar 2016.

Film ini menampilkan sisi pribadi Steve Jobs yang belum banyak digali. Dunia mengenalnya sebagai inovator teknologi kelas wahid. Namun dibalik imajinasi dan kecerdasannya yang tinggi, tersimpan sisi pribadi yang kelam.

Ia pernah tak mau mengakui bahwa Lisa itu anaknya. Bahkan ketika test DNA membuktikan dengan margin of error, ia memberikan wawancara di TIME magazine bahwa secara statistik masih ada kemungkinan ayahnya Lisa adalah 28 persen dari populasi lelaki dewasa di Amerika.

Ketika assetnya di atas 5 Trilyun, ia tega dan membiarkan putrinya yang masih kecil hidup bersama mantan kekasihnya dengan tunjangan negara, melalui program welfare.

Ketika putrinya sekolah di Harvard, ia tak membiayainya, sehingga diam diam rekan sekerjanya yang mengirimkan cek untuk putrinya.

Begitu tinggi obsesinya pada inovasi teknologi yang ideal, beberapa kali ia terlibat pertengkaran dengan teman sekerjanya. Ia pernah mengancam akan mempermalukan teknisinya di publik jika tak kunjung bisa membuat Macintosh mengeluarkan suara "Halo," setengah jam sebelum launching.

Namun tak ada yang tak mengakui sumbangannya kepada peradaban melalui aneka inovasi komputer yang dibuatnya. Walau Wozniak berkali kali minta Steve Jobs menyatakan ke publik bahwa ibarat the Beatles adalah Wozniak yang menjadi John Lennonnya, bukan Steve Jobs.

Akibat tekanan sekretaris yang mencintainya, agar Ia juga menyadari punya tanggung jawab sebagai ayah, akhirnya Steve Jobs tersentuh. Dengan segala cara, Ia mencari cara agar dekat dengan Lisa anaknya. Di depan anaknya yang dewasa, ia mengaku terbuat dari bahan yang buruk.

Film ini menambah pengetahuan kita betapa dalam satu pribadi kadang tersimpan kecerdasan yang tinggi, namun dalam bungkus kepribadian yang ringkih, dan acapkali kesepian.***