Buku online 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Buku
dipublikasikan 22 Maret 2016
Buku online 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

(Kini buku itu sudah bisa dibaca gratis di online. Klik link di bawah ini)

Siapakah tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh? Apa sumbangan mereka dalam perkembangan sastra? Adakah tradisi baru yang mereka ciptakan dalam sastra Indonesia?

Delapan penggiat sastra yang tergabung dalam team 8 berembuk. Di antara mereka, terdapat kritikus dan akademisi sastra, sastrawan, pemimpin jurnal sastra, dan pengajar sastra.

Hasilnya adalah sebuah buku yang termasuk paling mendatangkan polemik dalam sejarah perbukuan di Indonesia. Buku itu dibakar, dan didemo di beberapa kota. Buku itu melahirkan gerakan petisi meminta pemerintah melarangnya. Sudah dibuat pula aneka diskusi merespon buku itu, mulai dari seminar serius di kampus, sampai happening art para aktivis sastra di pelataran.

Muncul pula facebook grup beranggota ribuan, dengan nama anti terhadap buku itu.

Awalnya adalah team 8. Mereka sudah belasan bahkan puluhan tahun malang melintang di dunia sastra. Antara lain Jamal D Rahman, Agus Sarjono, Maman S Mahayana (kemudian mengundurkan diri), Berthold Damhauser, Acep Zamzam Noer.

Merekapun melakukan riset, berdiskusi, dan memberikan pertanggung jawaban pilihan mereka dalam sebuah buku setebal 700 halaman lebih. Gramedia penerbitnya dan diterbitkan untuk PDS HB Jassin.

Argumenpun disusun dan bersepakat dengan list 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Setiap nama diurai riwayat hidup dan kontribusinya.

Mengapa list 33 tokoh sastra bisa menghasilkan respon yang begitu heboh? Apakah ini potret alam berpikir sebagian komunitas sastra atas sebuah buku? Bahwa buku itu suci, tak boleh salah, sehingga meminta pemerintah untuk memeriksanya?

Apakah ini gambaran sebagian komunitas sastra yang sulit menerima perbedaan pandangan? Yang berbeda harus dilawan, dan dibredel, tak boleh beredar.

Padahal cukup melakukan searching di Google, kebebasan membuat rangking dan perbedaan dalam penilaian adalah biasa. Bukan hanya biasa, tapi itu menjadi cara menarik perhatian publik dengan aneka judul seperti Top 10, Top 100, Top 50 tentang apapun.

Siapakah 10 penyair terbaik dalam sejarah? Di tahun 2011, New York Times melalui Anthony Tommasini membuat rangking. Tak terduga Pablo Neruda berada di rangking pertama. Shakespeare yang "Raja di Raja" berada di rangking kedua.

Huffington Post di tahun 2008 dalam tulisan John Lundberg membuahkan pilihan yang berbeda. William Shakespeare di rangking pertama. Pablo Neruda bahkan tak masuk 10 besar itu.

Lain penilai, lain pula kriteria, lain pula subyektivitas, lain pula hasil. Belum lagi jika kita membicarakan mengenai metodelogi dan measurment dalam penilaian itu.

Semua itu biasa saja. Pada waktunya, publik sastra Indonesia akan terbiasa pula dengan perbedaan itu.

Buku 33 Tokoh Sastra itu bisa dibaca online dgn mengklik link ini:

?

http://dennyja-world.com/buku/view/14584802733365

  • view 354