Penulis Bukan Pengangguran

Denni Candra
Karya Denni Candra Kategori Motivasi
dipublikasikan 23 Februari 2016
Penulis Bukan Pengangguran

Pada era digital saat ini, saya merasa bahwa mempunyai pekerjaan resmi atau tidak bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Kalau selama ini yang ada di benak kita bahwa bekerja itu harus berangkat pagi dan pulang sore, maka hal tersebut tidak berlaku sepenuhnya lagi pada saat ini. Untuk bekerja seseorang tidak harus keluar rumah, karena saat ini begitu banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa harus pergi ke kantor seperti zaman kakek nenek kita dahulu. Diantara pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah contohnya game developer, internet marketer, game online, blogger, penulis dan masih banyak lagi yang lainnya.

Namun karena kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang masih ?keukeuh? dengan pemikiran bahwa kalau bekerja itu ?pergi pagi pulang petang?, maka beberapa profesi yang saya sebutkan diatas masih belum sepenuhnya mendapatkan apresiasi. Malah sebagian besar masih belum bisa memandang pekerjaan tersebut sebagai sebuah profesi, bahkan ada yang memberikan ?cap? pengangguran termasuk salah satunya adalah penulis.

Menulis belum menjadi sebuah budaya bagi masyarakat kita, bahkan terkesan dianggap sebagai sebuah pekerjaan sambilan. Sehingga menjadi penulis adalah pekerjaan yang belum bisa mendapatkan pengakuan setara dengan pekerjaan kantoran atau PNS. Terkadang kalau saya memperkenalkan diri sebagai penulis, masih banyak yang ?shock? dan seakan tidak percaya. Dan yang lebih parahnya lagi, ada yang bertanya apakah saya tidak mempunyai pekerjaan lain sehingga bisa memiliki waktu untuk menulis buku dan beberapa artikel setiap harinya. Berarti kalau begitu menulis dianggap bukanlah sebuah pekerjaan?

Bagi saya pribadi menulis adalah sebuah kegiatan dan aktivitas yang mendapat tempat tersendiri, sama dengan aktivitas lainnya. Maka untuk menulis saya tidak pernah menunggu waktu luang atau menjadikannya sebagai sambilan. Menulis mendapatkan alokasi waktu sama dengan kegiatan lainnya. Sebagai manusia yang memiliki waktu sama yaitu 24 jam dalam sehari semalam. Yang perlu kita lakukan adalah memanfaatkan dan mengelolanya sehingga dapat dimanfaatkan untuk dapat melakukan banyak aktivitas produktif.

Disitulah pentingnya mengenali peran yang kita jalani. Setiap kita pasti menjalani berbagai peran dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Saya adalah seorang karyawan buat perusahaan, suami buat istri tercinta, ayah bagi seorang putri tersayang, trainer bidang pengembangan diri dan kepenulisan, anggota masyarakat di lingkungan sosial dan berbagai aktivitas lainnya yang saya ikuti.

Semua peran tersebut membutuhkan alokasi waktu dan perhatian secara adil. Jadi saya harus bisa membagi waktu dan menjalani peran secara maksimal. Ketika bekerja di kantor, saya harus fokus dan memberikan kemampuan terbaik saya untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab saya. Sesampai di rumah, saya harus menyiapkan diri dan waktu untuk menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarga. Begitu juga ketika berbagi inspirasi baik melalui training maupun melalui tulisan, saya harus ?all out? agar hasilnya bisa maksimal dan berdampak bagi orang lain.

Jangan sampai terbalik dan salah menempatkan diri dalam menjalani peran tersebut. Ketika di kantor malah ingat dengan anak dan istri di rumah, ketika memberikan training malah ingat bahwa pekerjaan di kantor belum selesai dan ketika di rumah yang terbayang adalah materi training dan tulisan yang masih terbengkalai. Sehingga akhirnya setiap kegiatan yang dilakukan tidak ada yang berhasil secara maksimal.

Selain itu dalam perangkat komunikasi saya biasanya selalu melengkapi dengan audio/video training, ebook serta aplikasi untuk menulis. Semua itu sangat membantu saya dalam memanfaatkan waktu tunggu atau pun sedang dalam perjalanan.
Intinya adalah mengenali peran yang dijalani, mengalokasikan waktu yang dimiliki dan mengaturnya supaya masing-masing peran dijalankan sebaik mungkin. Seninya adalah ?kapan kita menjadi siapa.?

Apapun profesi dan kegiatan yang kita jalani, kita tetap bisa profesional dalam pekerjaan yang kita jalani sekaligus bisa produktif dalam berkarya sesuai minat dan bakat kita miliki. Hal tersebut bisa berjalan beriringan tanpa mengganggu satu sama lainnya.

Nah bagaimana dengan Anda, apa yang dapat Anda lakukan dengan modal 24 jam yang Anda miliki? Sekarang coba Anda bandingkan siapa yang lebih produktif antara Anda dengan seorang penulis? Dengan begitu apakah Anda masih berpikiran kalau penulis itu seorang pengangguran?

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian BERNAS Jogjakarta edisi Jumat, 12 Februari 2016?dengan judul ?Penulis Bukan Pengangguran?)

Bagi Anda yang ingin mengoptimalkan potensi diri guna meraih kesuksesan, jangan sampai terlewatkan untuk membaca buku terbaru saya We Are Masterpiece : 7 Langkah Mengoptimalkan Potensi Diri

  • view 186