Tuluskah Senyuman Itu?

Denni Candra
Karya Denni Candra Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 Februari 2016
Tuluskah Senyuman Itu?

Sekarang ini memang aku mempunyai segalanya. Apa yang diimpikan semua orang di planet ini telah aku miliki. Rumah laksana istana, mobil keluaran terbaru dan berbagai barang dengan ?brand? terkenal. Jumlahnya bahkan ada yang lebih dari satu. Uang yang ada dalam rekening tabungan pun jumlahnya berlimpah. Bahkan ada guyonan dari beberapa teman yang mengatakan bahwa kalau ada yang mau setor lewat ATM, pasti muncul pesan kalau rekening yang dituju sudah penuh.

Dengan apa yang aku miliki saat ini, tidak susah bagiku untuk membeli apa pun yang diinginkan. Baju dan celana selalu keren dan berkelas dengan merk terkenal luar negeri. Bahkan terkadang hanya dipakai buat satu kali acara, selebihnya ditumpuk menjadi barang pajangan yang ada di lemari. Begitu juga dengan parfum, aku selalu beli yang original. Dan tidak ada dalam kamusku untuk beli yang abal-abal apalagi yang pakai isi ulang. Bvlgari, Hugo, Luciano Soprani dan berbagai merk lainnya berjejer rapi sebagai koleksi pribadi di kamarku.

Belum lagi arloji, yang jumlahnya bisa menyesuaikan banyaknya tanggalan di kalender. Setiap arloji yang melingkar di pergelangan tanganku harus match dengan pakaian serta tempat yang akan aku tuju. Mengenai harga dan merk tidak usah di tanya. Anda mau merk apa dan harga yang berapa? Hehehe ... Udah kayak calo aja nih.

Untuk urusan kuliner apalagi. Boleh Anda tanya semua cafe, restoran dan tempat makan mana saja di kota ini yang belum pernah aku datangi. Bahkan saking seringnya aku mengunjungi mereka, beberapa tempat sampai hapal dengan deru mesin mobilku. Dalam jarak beberapa meter saja mereka bisa mencium dan mengenali bau asap knalpot mobilku. Bahkan karyawannya bisa dengan detail menyebutkan pesanan khasku lengkap dengan komposisi bumbu serta bagaimana cara menyajikannya.

Ya, itulah kondisi dan kehidupan yang aku jalani saat ini. Mungkin saja buat sebagian orang ada yang merasa kurang sreg atau tidak suka. Itu adalah hak meraka, aku sepenuhnya menyadari semua itu. Dengan usia yang masih terbilang muda, tentunya banyak orang diluar sana yang iri dengan kesuksesanku ini.

Namun setiap harinya aku jarang yang sendirian. Di mana aku berada pasti ada saja sahabat dan teman-teman yang menemani. Mulai dari sahabat yang memang sudah dekat dan kenal sejak lama, hingga yang hanya sekedar basa basi sebagai pemanis kata saja. Ada juga yang memang baru kenal dalam waktu hitungan detik atau menit. Semua terlihat sangat akrab denganku. Mereka rela memberikan tempat duduknya kalau aku datang telat dan tidak mendapatkan tempat duduk. Selalu setia mendengar dan tertawa dengan setiap gurauan yang aku lontarkan. Bahkan untuk sesuatu yang biasa dan tidak penting pun mereka rela meluangkan waktunya untuk mendengarkan bacotanku.

Mereka selalu rela mengorbankan waktunya buatku, selalu tersenyum dan malah ada yang bersedia menjadi pijakan kakiku. Bukan hanya lelaki saja, bahkan yang perempuan pun dengan terang-terangan mengatakan siap melayani semua kebutuhanku kapan pun aku perlukan. Ada juga yang bilang siap untuk menjadi yang kedua, ketiga, keempat sampai seterusnya kalau memang aku mau. Pokoknya selama aku nyaman dan suka melakukannya, semua itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Sampai-sampai aku yang tidak habis pikir bagaimana mungkin orang-orang itu bisa kehilangan rasionalitasnya.

Tetapi tuluskah semua yang mereka lakukan itu? Benarkah mereka rela aku perlakukan seperti itu tanpa ada embel-embel yang mereka harapkan di belakang itu semua? Benarkah senyum yang mereka berikan, waktu yang mereka luangkan serta semua yang mereka korban buatku itu tulus mereka berikan? Jangan-jangan itu semua hanya topeng ...???

Terkadang dalam kesendirian ketika semua terlelap dalam keheningan malam, aku sering bertanya dalam hati. Ketika dimensi spritualku mengambil kemudi pikiran dan sisi malaikatku muncul mengetuk kesadaran di relung jiwa yang paling dalam.

Benarkah aku berbahagia dengan kondisi saat ini?

Nyamankah aku dengan kondisi yang serba ada saat ini? Barapa banyak orang yang tetap tersenyum ketika aku sakiti, bersedia meluangkan waktu ketika aku butuhkan dan rela aku campakkan ketika bosan datang melanda?

Ikhlaskah mereka dengan semua perlakuanku itu? Tuluskah mereka melakukan semua itu dengan dasar nilai-nilai persahabatan, murni tanpa ada mengharapkan sesuatu dibalik itu semua?

Seandainya aku tinggal di kontrakan kecil bantaran kali, masihkah mereka mengaku sebagai temanku? Jika setiap hari aku bepergian dengan naik turun angkutan kota yang sumpek dan sarat penumpang, akankah mereka tetap menganggap dan mendengarkan semua yang ku katakan? Atau kalau aku jalan kaki di bawah teriknya sengatan sinar mentari sambil menahan lapar yang melilit perut dan dompet yang lusuh tanpa ada deretan rupiah yang bersembunyi, masihkan mereka semua ada untukku?

Tanpa tabungan berlimpah, wangi parfum yang menyengat serta berbagai aksesoris yang melekat di badan ini, akankah mereka masih tersenyum dan tetap menyapa ketika di hadapanku?

Bukankah banyak kejadian yang bisa kita jadikan pelajaran. Begitu banyak orang-orang yang dulunya mapan dan hidup berkelimpahan ditinggalkan oleh sahabat serta kolega yang dulu mereka banggakan. Para sahabat yang dulunya disanjung, dielu-elukan serta mendapatkan pujian setinggi bintang di angkasa seketika terasing dalam kesepian seiring hilangnya harta dan materi yang mereka miliki.

Mereka yang dulu selalu siap mendengarkan dan berbagai cerita mendadak menjadi orang yang super sibuk dan susah untuk ditemui. Bahkan untuk sekadar menerima telpon dan bertanya kabar saja mereka enggan. Ketika bertemu muka pun terkadang mereka bersikap acuh dan tetap asyik memainkan gadgetnya, lalu buru-buru melihat jam di pergelangan tangannya sambil beranjak pergi dengan alasan ada janji di tempat lain.

Sering semua bayangan dan kilasan-kilasan kejadian tersebut datang mendera ketika aku sedang sendiri berbalut sepi. Tuluskah semua perhatian dan senyum yang mereka berikan tersebut?

Memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan teman, sahabat, rekan kerja bahkan materi dan semua yang aku miliki saat ini. Kalau pun ada yang bisa disebut dengan teman, sahabat atau cinta sejati, hanyalah orang-orang terdekat yang mencintai dan menerimaku apa adanya tanpa syarat apapun. Mereka itu ada didekatku. Entah itu orangtua, saudara, istri dan anak-anakku. Yang mengetahui siapa aku sepenuhnya luar dan dalam, bagaimana perjuangan dan keringat yang menetes untuk menggapai semua keberhasilan saat ini. Yang selalu siap menjadi tempat curahan kesedihan dan kekesalan yang membalut jiwa. Siap untuk memaafkan segala kesalahan yang diperbuat sebelum aku meminta dan menyadari kesalahan tersebut.

Hanya itulah yang benar-benar tulus melakukan sesuatu buat kita, buat aku dan buat kalian semua. Itulah yang bisa disebut dengan cinta sejati.

  • view 261