Cinta Sejati di Tanah Marapu

Denis Awang
Karya Denis Awang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
Cinta Sejati di Tanah Marapu

                                                                                                             Oleh :Denis A.U.Awang

                               “ CINTA SEJATI DI TANAH MARAPU”

 

kalah senja menyapa ,di ujung kaki langit di sebelah barat. Dari kejauhan tampak jelas terlihat cahaya kemerah-merahan membiaskan warnanya ke langit, yang menandakan bahwa sebentar lagi hari akan gelap, matahari masuk ke peraduannya, menyelesaikan tugasnya untuk menyinari bumi dari pagi, siang sampai ia digantikan sang rembulan bersama bintang-bintang yang telah siap dengan tugas mereka selanjutnya. Tampak dua pemuda yang sedang berbincang-bincang di sebuah sawah yang di tumbuhi tanaman padi yang berwarna hijau.

Leba :   “Angua mai ka bali ,gedde banage’’ (sambil teriak leba mengajak temannya untuk pulang dengan menggunakan   bahasa asli daerah Sumba Barat.. ).

Pemuda 1 : “Oo angua, ullu sodi nela atti kai do ga,” ( sambil mencabut rumput di sawah.)

Leba pun melanjutkan perjalanannya ,Sesampainya di rumah leba sudah di tunggu oleh ibu dan adik perempuannya.

Ibu :             “ Leba ko pergi mandi dulu, habis itu baru minum kopi, sekalian istirahat sedikit, kita makan       malam,” (perintah perempuan itu, dengan logat Sumba yang kental).

     Leba:           “Ia Ina”.

Selesai mandi, Leba sedang asik menikmati kopi panas dan beberapa buah ubi bakar yang disiapkan Ibunya, Adiknya Louru bersama Ibunya sibuk menyiapkan makan malam. Sementara Leba asik menikmati hidangan sore itu, sayup-sayup terdengar suara tangisan yang semakin lama semakin memilukan hati.

     Leba :               “Ina....Ina mari sini dulu,” ( leba memanggil ibunya )

     Ibu     :                “Kenapa Leba?” ( sambil berjalan menghampiri leba)

Leba :                “Coba Ina dengar itu yang menangis, jangan-jangan ada yang  meninggal di kampung sebelah,

Ibu:                     “Ia tadi Saya sempat dengar juga di dapur, tapi tadi Ina sempat dengar dari ko punya Adik Louru, saat dia pulang timba air minum, Louru bilang, Kaka Magi orang ada bawa lari sama dia mereka dari kampung Tana Rara atau tana mera, mungkin itu sudah jadi ada yang menangis.

Leba:                   “Ina pegang ini gelas dulu,” “Adik Louru ko datang sini dulu tidak lama (leba kaget mendengar jawaban ibu dan memberikan gelas kepada ibu dan memanggil adiknya louru)

Louru      :       ada apa kaka ? (kata louru sambil berdiri di depan pintu dan mendengar pembicaraan Ibu dan Kakaknya.)

Leba :                        “Betul Magi orang ada bawa lari sama dia,”

Louru:                        “Ia Kaka, tadi Saya lewat depan rumahnya Kaka Magi, Saya dengar dari kawan, kalo Kaka Magi orang bawa lari dia , mereka tangkap di jalan saat Kaka Magi pulang cuci baju dan mandi tadi,”

Leba :    “Ina dengan Adik Louru tunggu di rumah eh, Saya pergi cari tahu dulu kebenarannya, berani Magi betul yang mereka bawa lari, Saya bunuh mereka dan bakar rumah dengan kampungnya,” ( sambil memegang parang ditangan kanannya dan mengikat selendang di pinggang, parang dan turun dari rumah).

Leba tiba di rumah Magi kekasihnya, kali ini lagi ia menginjakkan kakinya dirumah Magi, semenjak

mereka di usir lantaran orang tua Magi menganggap keluarga Leba adalah keluarga miskin dan

tidak pantas bersanding dengan putrinya.

Leba  :                        Tante, kenapa menangis, ada apa Tante?” (tanya Leba dengan napas yang masih tak beraturan).

Ina magi :                         Magi..tolong dia Leba, tadi pulang dari cuci pakaian, Magi di tangkap Orang-orang dari Tana Rara atau tanah merah. Mereka bawa lari sama dia, Saya punya Anak bagaimana sudah dia,” (kata Ina Magi sambil menangis terisak-isak)

Leba :                            Terus om dimana Tante?” (kata Leba bertanya lagi.)

Ina magi:                        “Bapa ada ikut rapat di kantor Desa, Bapak belum pulang juga dari tadi, tolong Tante dulu    Leba, saya tidak mau Magi dorang buat seperti itu.”( kata Ina Magi sambil terus menagis).

Leba :                              “Ia Tante, tunggu disini, Saya akan bawa Magi pulang, apapun taruhannya Tante,”( kata Leba mencoba meyakinkan dan sedikit menenangkan Ibu Magi yang masih menangis)

Setelah mendengar semuanya, Leba meninggalkan tempat itu dan berlari menuju kampung Tana Rara yang

bersebelahan dengan kampung Tarona, yang kira-kira berjarak 3 kilo meter. Sesampainya di kampung Tana Rara,

Leba berjalan menuju rumah yang sedang ramai dipenuhi orang yang sedang merayakan pesta kemenangan

karena telah berhasil membawa lari seorang gadis.

 

Leba :                               “Saya datang ke sini bukan datang makan sirih pinang, Saya datang mau jemput Magi dan bawa dia pulang, kasih turun Magi dari rumah, atau Saya yang paksa kalian kasih turun dia, jangan pernah kasih salah Saya kalau kita baku bunuh disini, dan Saya bakar ini rumah,”   ( teriak Leba dengan lantang).

Ketua adat :                    “Duduk dulu anak muda, terima ini sirih pinang dari kami, baru kita bicara baik-baik,” (kata Ketua adat tersebut).

Leba :                           “Tidak, Saya tidak mau duduk, Saya hanya mau Magi kalian kasih turun dari rumah, dan apa bila kalian tidak penuhi permintaan Saya, jangan pernah menyesal kalau warga kampung Tarona datang berperang dan membakar habis kampung kalian, dan denda yang kalian tebus tidak akan sebanding jika kalian tidak mau kasih turun Magi,”( ucap Leba dengan tegas.)

Para ketua adat di kampung itu masuk kerumah dan berdiskusi dengan tuan rumah tersebut, tidak sampai beberapa menit, Magi diturunkan dari rumah dan diserahkan kepada Leba.

Ketua adat :                   “Saya mewakili tuan rumah disini dan Pemuda yang membawa Magi dengan cara paksa, tidak menghormati keluarganya, kami minta maaf yang sebesar-besarnya, dan sebagai tanda maaf kami serta aturan hukum yang berlaku dalam masyarakat Sumba Barat, terimalah satu pasang kain dan sarung, satu batang parang dan kuda jantan satu ekor sebagai tunggangan Magi ketika ia kembali kerumahnya,”( kata Ketua adat sambil menyerahkan barang dan hewan tersebut.)

Leba:                                   “Ingat jangan pernah ulangi ini lagi, Magi adalah Istri Saya dan dia tidak sendiri lagi,”( selesai berbicara Leba dan Magi meninggalkan tempat itu dan pulang kerumah Magi).

Tiba dirumah Magi, mereka disambut tangis bahagia dari kedua orang tua Magi dan Leba yang sudah berada di

rumah Magi, sejak Leba pergi tadi, rupanya Ibu dan Adik Leba mengikutinya dari belakang. Orang tua Magi

mengucapkan terima kasih kepada Leba, pemuda pemberani yang telah membawa Magi pulang dengan selamat.

Ama magi :                           Ina Leba, Leba dan Louru, dari hati yang paling dalam, saya bersama Istri dan Anak kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, dimana beberapa tahun yang lalu, saya pernah usir kalian bertiga yang datang untuk melamar anak saya Magi, saya juga hina kalian, saya meludahi bahkan sampai saya berlaku kasar dengan Leba, saya hanya mementingkan ego, kedudukan, tanpa memikirkan perasaan kalian, baik itu Ina Leba, Leba dan Louru bahkan Anak perempuan saya sendiri, yang harus menanggung beban batin dan perasaan. Saya minta maaf, saya berpikir Leba tidak bisa jaga Magi, tidak bisa memenuhi kebutuhan Magi, tidak bisa kasih makan, tapi saya salah, ternyata Leba adalah Anak yang berbakti kepada Orang tua, sayang keluarga, peduli dengan sesama dan bertanggung jawab untuk orang yang Leba cintai, sekali lagi Bapak minta maaf,”( kata Ama Magi membuka pembicaraan, seraya meminta maaf mengingat kembali kisah lama yang pernah Ia buat).

Leba :                                  “Semuanya telah terjadi dan semunya sudah lewat, dan sebelum Om meminta maaf Om telah mendapatkan kata maaf itu dari kami,” ( ucap leba dengan Dengan air mata bercucuran dan merangkul dan memeluk Ama Magi )

Ama magi : .                      “Terima kasih Leba, kamu memang pemuda yang baik, “Magi Anakku, jika Leba adalah pilihan dan jodoh untuk teman hidupmu, Bapak dengan Mama akan merestui hubungan kalian,” (ucap Ama Magi kepada Anakknya)

Magi :                                  “Ia Ama, sampai kapan pun dia adalah laki-laki pertama dan terakhir yang Saya suka,hanya dia yang saya mau untuk jadi teman hidupnya Saya sampai tua,”( jawab Magi sambil menangis.)

Ina magi :                               “Leba apaka kamu masih punya perasaan yang sama dengan Magi?” (kata Ina Magi ikut bicara.)

Leba :                                  “Om, Tante, Magi, serta semua keluarga yang Saya hormati, jika berbicara tentang perasaan Saya terhadap Anak kalian Magi, dari dulu sampai sekarang rasa itu tidak pernah berubah dan masih tetap sama, saya cinta dan suka dengan Anaknya Om sama Tante, saya bertahan sampai saat ini semua karena janji dan sumpah kami berdua di atas tanah Marapu. Saya tidak bisa ingkari itu semua, karena itulah Saya berani bertaruh nyawa untuk membawa kembali Magi di rumah ini, Saya terlalu mencintai Anak Om dan Tante, dan saya mau untuk hidup bersama Magi, namun saya minta maaf, Om sekeluarga tahu kehidupan kami, saya hanyalah seorang Anak dari keluarga tidak berada, kehidupan kami pas-pasan, kehidupan yang kami lalui harus mengucurkan keringat dan air mata untuk bertahan hidup, bagaimana mungkin Saya bisa membahagiakan Anak Om dan Tante, yang berasal dari keluarga yang berada, terpandang, hidup berkecukupan, apakah Om tidak malu punya menantu miskin seperti Saya,”( kata Leba mengakhiri perkataannya sambil bercucuran air mata)

Ama magi :                          “Leba, Om dan Tante merestui hubungan kalian berdua, Leba dengar, Om tidak    menuntut belis banyak, seberapa yang Leba sanggup bawa, kami akan terima, kapan kalian ada rejeki, kalian ingat Om dengan Tante disini, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian dua, terakhir Om dengan Tante pesan” jaga Magi baik-baik, cintai dia sama seperti Leba cinta Mama Leba dan Louru, kalau dia salah, marah saja, tapi jangan pernah maki atau sampai pukul dia, kami hanya mau lihat dan dengar kalian hidup bahagia, itu saja Leba,(” kata Ama magi mengakhiri pembicaraannya).

Seminggu setelah kejadian itu, Leba bersama Ibu dan Adiknya Louru datang kembali untuk melamar Magi untuk yang kedua kalinya. Kedatangan keluarga kecil itu disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga pihak wanita. Setelah proses demi proses, langkah demi langkah,tahap demi tahap, tangga adat dilalui dengan damai, setelah Magi di pindahkan kerumah Leba. Kini mereka menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai dan menyayangi satu dengan yang lainnya, saling melengkapi dan hidup bahagia sampai mereka dipisahkan ole maut.

 

 

 

  • view 31