Budak Lingkungan Modern

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Inspiratif
dipublikasikan 26 Februari 2016
Budak Lingkungan Modern

Pernahkah Anda membayangkan hidup di kutub utara Alaska? Tinggal dalam lingkungan dengan suhu ekstrem minus di bawah 39 derajat celcius? Tak ada peluang selain bertahan hidup mengandalkan menu hasil buruan yang disediakan alam. Tak ada cara lain bertahan hidup selain pasrah mengikuti kemana musim berputar. O yea, mungkin tak ada gegap gempita dunia yang bisa ditemukan di ujung kutub utara layaknya kita hidup di negara tropis. Di sana seseorang hidup bagai budak lingkungan di tanahnya sendiri. Tidak ada yang bisa dilakukan selain bertahan hidup mengikuti apa kehendak alam.

Pernahkah Anda membayangkan hidup di Timur Tengah? Tinggal dalam lingkungan konflik sepanjang tahun. Siang dan malam terdengar suara bom dan teriak tangis anak-anak yang terluka akibat perang yang tak kunjung berdamai. Melihat ratusan manusia tewas sia-sia di antara reruntuhan bangunan. Tak ada cara lain untuk menghindar selain berdoa dan berharap penguasa yang terlibat konflik mengibarkan bendera putih perdamaian. Di sana seseorang hidup bagai budak keadaan di negaranya sendiri. Tidak ada yang bisa dilakukan selain lari dan bersembunyi menjadi imigran mencari majikan di negeri orang yang lebih aman.

Tapi kita tinggal di Indonesia. Negara tropis kepulauan yang subur, makmur, aman dan sentosa,? semestinya. Tidak ada suhu maha ekstrem seperti di gurun Sahara atau di kutub utara, semestinya. Sebagai negara berkembang yang langkahnya masih tertatih untuk maju kita masih cukup beruntung tidak hidup di tengah cuaca ekstrem seperti di kutub utara atau negara-negara yang sibuk terlibat konflik di Timur Tengah. Di kala datang musim penghujan, akan turun hujan secukupnya, datang banjir secukupnya dan bencana longsor secukupnya. Begitu pula di kala musim kemarau yang baru-baru belakangan ini dihebohkan dengan bencana kabut asap secukupnya. Ya, cukup menyesakkan nafas sampai memakan korban jiwa.

Apakah kita, rakyat Indonesia, juga menjadi budak lingkungan di negaranya sendiri? Berbeda dengan di Alaska Kutub Utara, penduduknya menjadi budak lingkungan memang karena mereka tidak punya pilihan selain bertahan hidup mengikuti kehendak alam. Beda lagi di Timur Tengah warga negaranya menjadi budak lingkungan konflik memang karena mereka tidak punya pilihan hidup selain terus lari dan sembunyi menjadi imigran mencari majikan di negeri orang. Mereka bertahan untuk sesuatu yang sangat prinsipil dan sederhana sekali. Ingin memperoleh rasa aman dan bertahan hidup secara manusiawi seperti kehidupan masyarakat yang dirasakan oleh negara-negara maju pada umumnya.

Kita tinggal di negara trendy. Negara yang terjebak dalam pusaran arus selera pasar yang dijejalkan oleh para kapitalis. Fashion, teknologi, internet dan komunitas menjadi target pasar yang sangat menjanjikan. Dengan percepatan arus teknologi informasi semua tren yang sedang ramai diperbincangkan di pusat-pusat kota dalam sekejap beritanya kini bisa diakses sampai ke pelosok-pelosok desa sekalipun.

Apapun produk yang akan di-launching oleh Samsung, Apple, Honda juga Yamaha akan menjadi perbincangan hangat di media-media sosial maupun koran harian lokal. Kita juga begitu dimanjakan dengan film-film box office terbaru yang bisa di-download gratis di beberapa situs internet. Masalah nonton di bioskop hanya sebatas selera ingin merasakan sensasi sound system layar lebar yang berbeda.

Kita secara tidak langsung sudah menjadi masyarakat yang disetir oleh keinginan kapitalis. Kapitalis di sini mewakili produsen negara-negara maju yang menjadikan negara berkembang seperti Indonesia menjadi target pasar yang menjanjikan. Di lain hal negara sudah terlanjur dininabobokan oleh mimpi-mimpi pembangunan dan kemajuan ekonomi.

Setiap peluang investasi asing dianggap sebagai tolak ukur suksesnya pembangunan dan pertumbuhan perekonomian. Seolah-olah dengan semua sumber daya alam mentah yang kita miliki dan dengan semua sumber daya manusia yang tak kalah hebat SDM orang luar negeri masih belum cukup untuk dijadikan ujung tombak kemajuan pembangunan dan pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Filosopi bambu runcing kalah telak bersaing dengan AK-47 buatan Rusia.

Kebergantungan Indonesia dengan semua produk tren yang ditawarkan oleh kapitalis negara-negara maju sudah begitu tinggi. Pada tataran kebutuhan dasar sandang pangan-pun tak kalah miris. Kita masih menjadi budak impor sandang pangan dari negara Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia dan masih banyak lagi pasokan impor dari negara-negara lainnya. Mulai dari impor beras, jagung, kedelai, gula, tepung terigu, minyak goreng dan yang paling hebat impor garam dari Singapura. Bukankah sangat hebat luar biasa untuk negara maritim kepulauan seperti Indonesia yang mempunyai panjang garis pantai sekitar 99 ribuan kilometer tapi sangat miskin produksi garam?

Kita sudah menjadi bangsa yang terlanjur dimanjakan dengan serba kemudahan yang ditawarkan oleh negara-negara maju. Kita sudah menjadi bangsa yang kartu as-nya dipegang di atas meja makan kapitalis. Kita sudah sangat nyaman dididik menjadi masyarakat pengguna, user soceity dan masyarakat peniru, imitate soceity.

Sistim kontruksi bangsa sudah berubah haluan bergeser seiring pergeseran jaman yang secara massif dan sistematis telah berpuluh-puluh tahun sebelumnya direncanakan oleh negara-negara maju yang melihat peluang atas kelalaian dan kepongahan sistim pemerintahan di negara-negara berkembang. Kita selamanya akan membeli produk Samsung, Apple, Honda, Yamaha, McDonald, KFC dan Rolex.

Sementara di tengah gegap gempita hausnya masyarakat Indonesia akan kebutuhan internet justru pemerintah dan jasa-jasa provider menjadikan alasan keterbatasan teknologi sebagai lahan bisnis dengan menentukan tarif internet yang sangat mahal dan ironisnya tidak sebanding dengan pelayanannya yang sangat lambat.

Dalam kebutuhan pendidikan kita juga dihadapi oleh momok biaya kuliah yang sangat mahal di negeri sendiri tapi hasil kualitasnya masih saja kedodoran dan kalah saing dengan universitas-universitas di luar negeri. Dalam posisi ini kita, masyarakat Indonesia, sudah tercekik luar dalam. Tapi sebagai budak lingkungan modern, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain terus mengikuti arus tren dan gengsi yang sudah menjadi kebutuhan.

Sebagai budak lingkungan modern di negaranya sendiri adakah keberanian membebaskan diri dan pikiran dari belenggu industri kapitalis negara maju? Saya optimis negara kita suatu saat bisa membebaskan diri dari mental budak lingkungan yang sudah kental mengakar. Kita masih punya pilihan untuk kembali pada titik kesadaran di mana kita semestinya berada sebagai manusia, individu, masyarakat yang merdeka. Menjadi bangsa yang dimasa depan lebih menghargai karya-karya orsinil anak negeri, dengan mengedepankan mental inovasi ketimbang menjadi pengguna sejati "merk-merk wah luar negeri".

Kita dituntut untuk mengumpulkan segenap kekuatan untuk meruntuhkan sedikit demi sedikit ketergantungan terhadap merk dan tren asing yang selama ini menyerang pikiran lintas generasi. Gerakan inovasi anak negeri menjadi kunci utama. Setiap satu gerakan melepas gengsi merk-merk asing dalam hidup sehari-hari sudah merupakan satu langkah besar untuk membebaskan kita dari mental budak lingkungan modern. Optimis?

Salam Hangat