Jika Olah Raga Masih Dikuasai Mafia

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Bola
dipublikasikan 26 Februari 2016
Jika Olah Raga Masih Dikuasai Mafia

Kapan ya olah raga Indonesia bangkit. Rasa pesimis saya terhadap kemajuan olah raga di Indonesia memang cukup tinggi. Selama negara masih menganggap olah raga adalah sekedar kosmetik jelas meraih prestasi dan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional hanyalah angan-angan kosong belaka.

Misalnya melihat carut-marut olah raga sepak bola yang dikelola PSSI, sampai hari ini saya belum melihat ketegasan seorang Imam Nahrawi membenahi sepak bola Indonesia. Rasanya sepak bola jadi kedengaran lebih sulit daripada urusan illegal fishing yang lebih kompleks dan sarat permainan mafia kakap dan beking.

Nampaknya seperti masih sulit bagi kementerian olah raga dan pemerintah untuk action bersih-bersih turun gunung. Bersihkan mafia-mafia yang bermain merusak citra olah raga Indonesia dan menempatkan agen-agen olah raga di seluruh Indonesia yang benar-benar menguasai bidangnya.

Masalah klasik tentang uang dan kesejahteraan atlit dan pelatih selalu menjadi momok yang tiada hentinya. Minimnya kompetisi umum di tingkat regional di daerah-daerah diluar agenda kompetisi akbar reguler yang diselenggarakan pemerintah menjadi bukti bahwa olah raga masih begitu miskin kegiatan.

Apresiasi terhadap profesi atlit dan pelatih juga masih sangat minim sekali. Tidak ada jaminan kesejahteraan yang pasti dari pemerintah. Sementara kalau pengurus cabang olah raga di daerah jelas umumnya untuk posisi-posisi vital kepengurusan dijabat oleh orang-orang dari pegawai pemerintahan yang memang sudah punya gaji tetap dan hidup sejahtera.

Kondisi olah raga jatuh ditangan orang-orang yang tidak menguasai bidangnya dan diurus oleh orang yang punya pekerjaan ganda yaitu pengurus cabang olah raga juga sebagai pegawai pemerintahan menjadi polemik dingin arus bawah yang tidak pernah terungkap. Seperti memakan buah simalakama saling ketergantungan antar atlit dan pelatih yang tidak sejahtera hidupnya bergesekan dengan pejabat pengurus yang sudah mapa, hidup tenang digaji oleh pemerintah.

Masalah peningkatan kemajuan olah raga tidak pernah jauh dari urusan uang anggaran. Tidak transparansinya laporan anggaran kerja dan aliran dana baik mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah melalui perangkat KONI juga betah menjadi gunung es yang tak pernah ingin mencair dan meluber laporan informasinya secara transparan. Ruang lingkup olah raga seolah mempunyai koridor eksklusif tersendiri yang tidak bisa dijamah oleh hukum.

Apapun yang terjadi, maju mundur panas dingin prestasi olah raga Indonesia, rakyat hanya cukup duduk manis di tribun menjadi penonton abadi atau duduk manis bersorak menonton didepan layar televisi. Pengaturan skor, perpindahan atlit daerah secara illegal. Suguhan palsu, khayalan atau sekedar pemuas birahi penonton yang sudah direkayasa dengan sedemikian rupa oleh para mafia olah raga. Semoga di pemerintahan kini mampu menjawab tantangan memajukan olah raga Indonesia kedepan.

Salam Olah Raga

*gambar

  • view 268