Nasib Musik Rock Indonesia

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
Nasib Musik Rock Indonesia

Sebagai penikmat musik, hari ini sulit rasanya bagi saya untuk mencicipi rasa baru warna musik rock jaman sekarang. Saya sendiri belum mengerti benar kemana arah kiblat musik rock Indonesia saat ini sebenarnya. Warna musiknya-pun sudah bercampur baur ada rock rasa alternative, ada rock rasa hip hop, rock rasa raff dan rock rasa techno.

Agak sulit rasanya mencari musik rock yang benar-benar bercita rasa rock tulen, baik hard rock maupun pop rock. Pengaruh perkembangan teknologi telah mengawinkan komputer dengan seni musik murni. Pengaruh trend musik Korea dan Jepang terasa kental di Indonesia. Seolah kini musik rock Indonesia sedang terjebak dalam arus trend musik luar yang tak tentu arah.

Warna musik rock kini terdengar nyaris mirip pukul rata. Masing-masing grup band rock modern nyaris seperti tidak menemukan kharakter untuk kepribadian kuat untuk musiknya masing-masing. Karya-karya mudah nge-trend tapi mudah pula hilang lenyap dilupakan. Grup-grup musik rock modern-pun sering timbul tenggelam seumur jagung. Tak mampu bertahan lama ditengah persaingan industri musik di negeri sendiri.

Bubarnya grup musik rock Padi dan Dewa 19 menjadi salah satu kenyataan yang paling sulit saya terima sebagai penikmat musik. Karena dengan lahirnya kedua grup band tersebut membuat saya semakin optimis menatap gairah musik rock Indonesia. Rock Indonesia semakin penuh warna disepanjang era 90-an sampai tahun 2000-an keatas.

Penikmat musik rasanya seperti diberi cita rasa pilihan yang sarat dengan kharakter musik yang kuat selain masih eksisnya sang maestro rock seperti Slank, Bip, Riff, Gigi dan Naif. Gigi dan Naif walaupun warna musiknya lebih dekat dengan pop atau retro tetap saya masukan sebagai generasi pop rock kreatif.

Kehilangan terbesar musik rock Indonesia adalah ketika Boomerang, Powerslave, dan Jamrud tidak bisa lagi mempertahankan eksistensinya. Sementara God Bless sudah terkikis karena faktor usia. Nama-nama lain grup musik rock yang layak di hormati sumbangsih karyanya ada juga Arwana, Sahara, Whizz Kid, Edane, Power Metal, Protonema dan Bayou. Suara Hengky Supit-pun masih kuat membius telinga saya dengan lagu ?Isi Hati?nya.

Kenapa banyak grup musik rock Indonesia yang satu langkah lagi nyaris menjadi legenda banyak yang jatuh berguguran? Membuat penikmat musik patah arang kehilangan grup musik rock pujaan. Dahulu menunggu album baru kaset pita Powerslave saja sudah membuat saya mati penasaran ingin mendengarkan lagu-lagu barunya.

Teramat sangat disayangkan jika kemajuan teknologi dan industri musik tidak berdaya melihat mundurnya semangat musik rock Indonesia. Beberapa faktor dibawah ini mungkin menjadi penyebab runtuhnya semangat musik rock Indonesia.

1. Tamatnya Riwayat Kaset Pita

Tamatnya riwayat kaset pita mempunyai pengaruh terhadap runtuhnya semangat musik rock di Indonesia. Padahal album pita kaset mempunyai daya tarik nostalgia dan daya tarik koleksi yang tinggi karena bentuknya yang klasik dan unik. Disamping itu daya tarik kaset pita adalah catatan kecil salam pembuka masing-masing artis musik rock, teks lagu dan dihiasi oleh desain sampul album yang menarik. Dalam era kaset pita semua informasi tentang artis dan lagunya tersedia satu paket. Namun sejak datangnya era kaset format CD perlahan tapi pasti kaset pita mulai tergusur.

Mungkin secara ongkos produksi kaset pita itu lebih mahal tapi dalam hal magnet daya tarik penikmat musik seperti saya lebih menyukai format kaset pita. So, kenapa musik rock mesti takut produksi pakai kaset pita kalau penggemarnya jelas sudah antri menunggu album barunya?

2. Ongkos Produsi Format CD lebih Murah

Hitungan ekonomis produksi format CD mungkin lebih murah ketimbang kaset format pita. Saya ambil gampang dengan perbandingan berapa harga CD blank paling murah yang dijual dipasaran saja. Cuma kisaran Rp 2000,- rupiah per-keping. Dan kenapa format CD lebih menarik bagi produsen musik bisa jadi karena CD tampilannya terkesan lebih simple dan praktis. Gak pake repot seperti produksi album kaset pita.

Padahal kalau dari sudut pandang mata saya format CD itu kesannya agak murahan dan nilai nostalgia kurang bikin greget dibandingkan dengan mengoleksi kaset pita. Kenapa harus pakai format CD kalau ternyata nilai jualnya malah jauh lebih rendah? Kan keren lihat kaset pita Jamrud dulu, albumnya lengkap berisi informasi menarik salam pembuka dan teks lagu lengkap.

3. Nasib Tape Deck Mini Compo Tergusur Mp3 Player

Ini bisa menjadi sebab paling mempengaruhi matinya budaya kaset pita. Sebelumnya saya memang takjub dengan hadirnya teknologi pemutar audio Mp3 player. Dengan kapasitas 2 GB saja bisa muat ratusan lagu rock favorit dari koleksi lagu rock Indonesia sampai rock barat. Tapi lama-kelamaan menikmati musik lewat Mp3 player itu jadi terasa hambar. Satu karena faktor serakah jadi semua lagu favorit saya tumpuk jadi satu di Mp3.

Saking banyaknya daftar list lagu justru menghilangkan kenikmatan mendengarkan musik. Saya tidak lagi fokus pada beat musik lagu-lagu tertentu. Tidak bisa menikmati lagi secara utuh. Baru saya sadari kaset pita adalah media yang paling nyaman dan lebih memuaskan untuk mendengarkan musik. Jumlah lagu pada album kaset pita yang sedikit membuat kita lebih fokus menikmati warna musik sampai mendetail.

Misalnya, sekali waktu saya menikmati alunan vokalnya saja atau saya menikmati alunan gitar melodinya saja. Lebih fokus dan karena sedikitnya jumlah lagu saya bisa lebih mudah menghafal teksnya. Yang paling utama, KUALITAS audio format pita kaset jauh lebih EMPUK ketimbang format Mp3. Apa daya, berhubung Mp3 Player datang, mulai langkalah Tape Deck mini compo di pasaran. Padahal musik rock, kaset pita dan tape deck mini compo dahulu saudara dekat.

4. Pembajakan Hak Cipta Tumbuh Subur

Pelanggaraan Hak Cipta juga menjadi masalah yang tak kunjung rampung di Indonesia. Semakin diberantas justru semakin tumbuh subur. Para seniman musik rock pasti juga mikir ketar-ketir untuk berkarya mendedikasikan hidupnya di blantika musik Indonesia. Belum sempat album originalnya habis dijual para pembajak sudah sepuluh langkah lebih maju memasarkan kaset/CD bajakannya. Kalau keadaannya seperti ini semangat seniman musik rock juga bakalan luntur.

Disini posisi pemerintah sangat penting sekali turut mengawasi secara Undang-Undang dan memberi hukuman yang tegas bagi pelanggar hak cipta. Jadi karya semua musisi akan terlindungi dan akan memberi jaminan masa depan untuk terus berkarya. Ya namanya manusia entah itu musisi atau siapa saja pasti juga sama-sama berjuang cari rejeki.

Kalau ladangnya musisi saja tidak dibersihkan dari hama bagaimana bisa membuat para musisi akan semangat berkarya. Padahal telinga kita akan lebih dimanja dengan kualitas suara bening musik original daripada bajakan. Segondrong-gondrongnya musisi rock ya mikir juga kalau negara isinya dipenuhi hama pembajak lagu pelanggar hak cipta.

5. Trend Musik Luar Lebih Favorit di Indonesia

Daya tarik magnet musik pop Korea di Indonesia saya akui sangat luar biasa. Tidak tua atau muda mulai gandrung dengan artis-artis Korea. Apalagi trend grup vokal keroyokannya, habis deh panggung diborong mereka semua. Alhasil Indonesia yang masih bingung mau dibawa kemana trend musiknya jadi ikut-ikutan kemana air mengalir saja. Kalau sekiranya yang laku dipasaran musik ala Korea ? Jepang. Artis-artis dadakan Indonesia-pun ikut-ikutan ganti kiblat ke musik ala Korea ? Jepang.

Seakan-akan musik Indonesia kering inovasi dan takut tak laku jika tampil beda melawan arus trendsetter musik asia. Musik rock-pun jadi grogi melihat orang Indonesia lebih menggandrungi musik K-Pop dan Jepang yang keroyokan. Padahal bagi saya sekelas Slank, Padi, Naif, Dewa 19 dan grup musik rock Indonesia lainnya tetap lebih istimewa secara kualitas dan bobot kharakter musiknya. Sayang, faktanya penggemar K-Pop di Indonesia merajalela.


6. Minimnya Festival Musik Rock

Minimnya festival musik rock juga menjadi salah satu faktor terputusnya generasi grup musik rock di Indonesia. Dilain hal, kegiatan konser dan festival musik rock agendanya lebih banyak di pusat, di pulau Jawa. Seperti di Jakarta, bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Dan komunitas penggemar musik rock-pun lebih banyak di pulau Jawa, tidak merata ke daerah-daerah.

Saya merindukan tokoh-tokoh musisi rock di Indonesia turut berperan aktif memperhatikan regenerasi grup-grup musik rock baru di Indonesia dan mewadahi bakat talenta para generasi muda peminat musik rock. Dengan demikian musik rock di Indonesia bisa dilestarikan dan tetap eksis melawan arus trend musik K-pop dan Jepang.

7. Ego Masing-Masing Personil Kunci Awet Grup Musik

Kadang saya iri melihat endurance (daya tahan) grup musik rock legendaris di luar negeri. Lihatlah seperti The Rolling Stone, Bon Jovi, Scorpions, Judast Priest dan Megadeth misalnya. Sampai melewati tiga dekade berkarya mereka tetap eksis kompak menjaga kebersamaan. Beberapa dari mereka tetap manggung walau sudah kakek-kakek. Kenapa mereka bisa bertahan setia selama itu dalam mengabdi dan berkarya.

Dedikasi dan totalitas mereka terhadap musiklah yang menguatkan ikatan bathin diantara personil band. Mereka menyadari untuk tumbuh mekar sebagai legenda harus menanggalkan ego masing-masing pribadi. Tidak ada yang merasa siapa yang lebih penting. Tidak ada yang merasa siapa yang paling hebat. Tidak ada yang merasa siapa yang menjadi komandannya. Sikap teladan ini patut dimiliki oleh grup-grup musik rock pendatang baru di blantika musik Indonesia. Melihat legenda dunia, semoga menjadi semangat inspirasi bagi generasi baru musik rock Indonesia.

Salam penikmat musik