Cara Mudah Memanjakan Anak Ala Indonesia

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Februari 2016
Cara Mudah Memanjakan Anak Ala Indonesia

Untuk anak apa sih yang tidak bisa? Apa saja pasti akan dilakukan oleh orang tua asal anak bisa senang. Kalau anak sudah senang pasti hidup terasa tenang. Hidup orang tua jadi tenang tidak direcoki rengekan anak. Orang tua bisa fokus santai main poker online atau facebook-an di waktu senggang. ?Jangan diganggu ya nak, mama lagi sibuk?muach!?

Tentunya zaman sekarang banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua demi memanjakan anaknya. Demi gengsi dan agar anak terlihat keren di mata keluarga dan teman sekampung, tidak ada uang-pun orang tua akan usahakan mati-matian. Sangat mudah memanjakan anak di Indonesia. Demi suatu kebanggaan tapi menyesatkan.

Belikan Anak Sepeda Motor

Kisah nyata di Pasaman: Setelah semua persyaratan kredit motor di acc oleh pihak leasing, motor Pak Amir (nama samaran) di antar kerumah siang harinya. Motor itu tak lain diberikan untuk anaknya yang baru duduk dibangku SMP kelas satu. Mungkin menjadi suatu kebanggaan bagi orang tuanya membelikan apa saja keinginan anaknya setelah pasca panen sawit tiba di Pasaman.

Sepulang sekolah, anak laki-lakinya sangat gembira sekali melihat motor baru yang dibelikan ayahnya. Anaknya segera ganti baju dan langsung test drive motor sport ke jalan raya. Sambil tancap gas pol tanpa pakai helm si anak bergaya di jalan raya. Memasuki jembatan arah ke pasar si anak tancap gas menyalip mobil, malang tepat di arah berlawanan melaju motor berkecepatan tinggi. Braakkk?.!!! Nyawa anak kesayangannya-pun melayang.

Di Indonesia sangat mudah sekali mendapatkan kredit motor. Kemudahan dalam pengurusan kredit membuat orang tua dengan mudahnya membelikan kendaraan bermotor padahal usia anak belumlah cukup untuk mendapatkan SIM. Tidak heran di sore hari dikampung-kampung tempat saya-pun kadang ditemui anak-anak masih SD sudah mahir membawa motor di jalan boncengan bersama temannya.

Sementara saya mengelus dada melihat aksi mereka tertawa bersama teman dijalan raya, pemandangan ini sepertinya malah di anggap biasa oleh penduduk kampung. Suatu kebanggaan-kah bagi orang tuanya jika anaknya sudah jago jadi koboi mengendarai kuda Jepang? Bisa jadi orang tua mereka bangga memanjakan anaknya. ?Anak saya masih SD sudah lihay mengendarai motor sendiri?. Padahal, jika mereka mau melek melihat berita di koran, angka kecelakaan lalu lintas sekarang lebih banyak memakan korban anak-anak usia remaja. Bukan suatu kebanggaan.

Belikan Anak Laptop & Berikan Fasilitas Bebas Internet di Rumah

Suatu kali saya menerima servisan laptop milik seorang anak remaja tanggung. Saat selesai membasmi virus dan menampilkan kembali file-file yang terkunci oleh virus, meliriklah (eh?melotot jadinya) mata saya. Wow! Di salah satu folder tersimpan ratusan file video porno dan foto-foto pribadi bergaya merokok sambil menikmati segelas bir. Memang ini bukan kesekian kalinya saya menemukan folder konsumen berisi file-file hot.

Kalau yang punya laptop para orang tua menurut saya masih wajar. Tapi kalau yang punya laptop anak remaja tanggung jelas dipertanyakan apa yang akan mereka lakukan dengan tontonan mesum khusus dewasa seperti itu. Teknologi laptop dan kebebasan akses internet yang difasilitasi oleh orang tua di rumah belum tentu sepenuhnya dipergunakan secara positif oleh anak. Ibarat orang beli motor jika disalahgunakan bisa saja dijadikan buat jambret. Begitu juga fasilitas laptop dan internet jika tidak di awasi oleh orang tua sudah pasti anak akan kebablasan mengakses informasi dari internet sesuka hatinya.

Seperti api dalam sekam, lama-kelamaan semua film porno yang di unduh anak dari internet akan mempengaruhi psikis si anak. Inspirasi otak kotor mengarah kepada praktek coba-coba antar teman atau pacar. Jangan heran jika terjadi peristiwa mengenaskan praktek cabul anak SMP di Jakarta yang videonya sempat heboh di Youtube, itu sebagai indikasi degradasi moral akibat belum cukup dewasanya anak-anak kita dalam menyaring laju informasi yang teramat deras di internet.

Untuk hal ini saya tidak setuju jika hanya orang tua yang disalahkan! Justru negara yang pertama kali berdiri di depan memproteksi segala kemungkinan dampak buruk arus teknologi informasi internet. Lalu salah orang tua dimana? Memang mudah salah-menyalahkan. Seperti membolak-balik hitam atau putih. Saya berusaha mencari kata-kata yang tepat, boleh sah-sah saja memanjakan anak dengan memfasilitasi laptop dan jaringan internet di rumah.

Tapi karena berada dilingkungan rumah kontrol pengawasan penggunaan internet sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua. Orang tua mempunyai hak akses terhadap isi laptop anak dirumah atas persetujuan dan komitmen antar orang tua dan anak. Orang tua dituntut ikut melek teknologi demi membaca gerak lincah anak dalam menyimpan file-file terlarang di harddisk laptopnya. Alih-alih ingin memanjakan tapi malahan menjerumuskan anak di ujung harinya.

Memanjakan Anak Bebas Menonton Televisi

Memang TV bisa dikatakan sudah menjadi kebutuhan primer. Bagi yang tidak ingin ketinggalan update kabar berita di televisi dunia rasanya kering pengetahuan. Ditanya soal bola bingung linglung tidak tahu berapa skor pertandingan liga Inggris semalam. Ditanya soal politik rasanya malu tidak punya satupun jawaban yang dirasa bisa nyambung dengan teman sekerja. Disini televisi secara tidak langsung memanjakan mata dan telinga orang tua.

Namun ada juga modus terselubung yang dilakukan oleh orang tua dirumah. Sengaja memanjakan anak bebas menonton tv satelit di rumah demi tidak mau repot menjaga dan menemani anaknya bermain. Jadi mama bisa fokus main facebook-an. Jadi papa bisa fokus hunting video youtube. Salah seorang teman saya sengaja menyalakan televisi dirumahnya seharian full demi memanjakan mata anaknya yang baru berusia tiga tahun. Tv baru dimatikan ketika anaknya sudah tidur pulas. Ketika anaknya bangun, segera tv dinyalakan lagi.

Dampak buruk menonton tv tidak lagi dipikirkan oleh orang tua. Interaksi emosional antar orang tua dan anak-pun terasa kering. Orang tua hanya menemani dikala si anak lapar mau makan dan bersentuhan kulit pas mau mandi saja. Secara tidak langsung televisi-lah yang paling lama meluangkan waktu menjaga dan merawat pertumbuhan psikologi si anak. Adegan kekerasan yang terlihat lucu di film kartun, iklan-iklan yang datang membanjiri otak si anak memicu pertumbuhan generasi hedonis. Memanjakan anak dengan membebaskan menonton televisi memang cara yang paling praktis dilakukan oleh orang tua.

Memanjakan Anak Dengan Uang Jajan Berlebihan

Ini secara tidak langsung juga menjadi modus bagi orang tua yang tidak mau repot menjaga dan merawat anak-anaknya. Banyak nilai plus jika anak diberikan uang jajan berlebih oleh orang tuanya. Teman saya sendiri bercerita setidaknya rata-rata dia menghabiskan uang Rp 50.000,- setiap hari untuk uang jajan anak laki-lakinya yang masih sekolah SD. Wow! Bisa dibayangkan apa yang bisa dilakukan oleh anak SD dengan uang saku Rp 50.000,- per-hari.

Dengan Rp. 10.000,- rupiah anak bisa stand by main game online atau playstation selama kurang lebih 3 jam. Dengan demikian orang tua tidak perlu sibuk-sibuk menjaga anak. Yang penting orang tua cukup tahu saja dimana anaknya bermain playstation atau game online.

Dengan Rp. 10.000,- rupiah anak bisa diam-diam beli rokok diwarung-warung gerobak demi coba-coba bersama teman-teman sekolahnya. Lalu sepulang sekolah uangnya masih bisa untuk nongkrong mengisap rokok bersembunyi di box warnet sambil browsing situs-situs tidak jelas.

Betapa mudahnya memanjakan anak ala Indonesia. Ditengah gegap gempita fasilitas dan sarana teknologi informasi turut menambah ringan beban orang tua dalam mengawasi anak-anak meraka. Padahal faktanya diluar sana, baik disekolah maupun di mall-mall, kita tidak bisa menjamin keamanan anak-anak kita. Anak-anak kita terlibat narkoba, anak-anak menjadi korban pelecehan sex di sekolah-sekolah, anak-anak menjadi aktor praktek sex antar teman sekelas dan anak-anak menjadi Predator yang saling memakan temannya sendiri disekolah.

Begitu pentingnya peran orang tua dirumah karena fakta kita kini tidak bisa mengandalkan sekolah sebagai institusi pendidikan tempat menitipkan anak-anak kita. Karena negara tidak mempunyai Ketegasan Hukum yang benar-benar Tegas memberi perlindungan bagi anak-anak Indonesia. Dan kini semua kembali lagi kepada cara orang tua memanjakan anak di rumah, tentunya dengan hal-hal positif yang sarat sentuhan edukasi dari orang tua.

Salam Hangat