Nyanyian Sungai

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Februari 2016
Nyanyian Sungai

Pinjam ragamu sebentar. Untuk menemaniku duduk ditepian bebatuan sungai. Mendengarkan irama gemercik air. Dalam nada yang tidak bisa kuterjemahkan dalam kata. Tapi bisa dirasa alur tempo nadanya yang tetap. Suara bening arus jeram menghantam bebatuan. Suaranya menyejukkan laju aliran darah dan menelan degup jantung.

Ia datang mengalir dari segala lembah pegunungan. Bening. Mengalir mengikuti liku alur anak-anak sungai. Berawal dari gelombang riak kecil sebatas mata kaki. Air bening anak-anak sungai kemudian saling mencari, saling bertemu, saling bercerita, saling mengisi nada-nada alam hijau, dan suara mereka mengisi hati kita.

Seperti bebatuan disepanjang liku tepian sungai ini, kau dan aku cukup diam saja. Kita tidak usah bicara. Nikmati saja suasana hening ini. Senyum yang kita gulirkan pada lubuk hati cukup mengerti mengapa diciptakan alam indah ini. Aku terbang dengan pikiranku dan kau terbang dengan pikiranmu. Kita saling menikmati nyanyian sungai dengan pikiran masing-masing dalam satu ruang mistis.

Kau tahu, kemarin air sungai ini sempat meluap berwarna cokelat oleh hujan lebat. Awan gelap menggantung diatas setiap hulu. Dikejauhan puncak perbukitan garis air terjun putih menebal. Angin kencang menerobos rimbun dedaunan? setiap nama pepohonan dipinggir sungai. Lingkar angin turut bermain berputar diantara riak air. Bala angin bermain jeram diarus deras sungai.

Aku merengkuh dinginnya hawa pegunungan sambil memegang teguh keyakinan. Selepas hujan, arakan awan gelap akan lenyap tak berbekas. Biru cerah melangit. Dan para bidadari akan turun berselancar dilengkung warna-warni pelangi. Seperti kau dan aku, mereka bidadari-pun turut merayakan kembali bening nyanyian sungai. Riak-riak kecil air sungai meliuk berputar dibawah kaki kita yang basah.

Dan kemudian, tibalah saatnya kita berdua membuang waktu. Waktu-ku dan waktu-mu hanyut dibawa arus sungai. Hanyut semakin jauh. Kita berdua saling melambaikan tangan kepada sang waktu. Masih diselingi alunan merdu nyanyian sungai. Waktu-mu dan waktu-ku kini sampai menuju muara. Waktu-mu dan waktu-ku menjelajah lautan lepas. Waktu berlayar semakin jauh. Jauh meninggalkan kita berdua diatas bebatuan, ditepian sungai.

Ketika jemari tangan kita saling bertaut erat, sekejap tubuh kita memecah belah menjadi ribuan burung. Terbang riuh rendah menyisir riak arus sungai. Ikut bernyanyi mengikuti irama gemercik air. Ribuan burung terjun menyelam bermain diarus deras sungai. Lalu dari kedalaman sungai, dalam hitungan detik ribuan burung melesak keluar dari permukaan air. Ribuan burung terbang menuju langit tertinggi.

Bersama sayap-sayap mereka, nyanyian sungai turut terbang tinggi ke angkasa. Gemercik airnya mencipta keajaiban cahaya aurora langit kutub utara. Ada milyaran cahaya bintang para pemimpi atas disana. Ada kilasan cahaya wajah orang-orang tercinta. Ada catatan jejak para pendahulu yang abadi dalam karya cipta. Dan dalam dirimu, ada segumpal hati yang begitu indah sehingga membuat dunia penuh warna.

?

T_ ...

?


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Sejak kemarin dah tertawan sama pesona fotonya. dan hari ini setelah memamah habis tetiap baitnya...

    • Lihat 4 Respon