Penikmat Alam

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Februari 2016
Penikmat Alam

Waktu pertama kali menginjak bangku kuliah banyak alasan kenapa saya tidak mau ikut bergabung dalam organisasi pecinta alam atau biasa di sebut Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Padahal ada rasa keinginan bergabung sebagai anggota Pecinta Alam yang benar-benar mencintai alam dengan segala isi keindahannya sangatlah besar.

Tapi sayangnya saya memaknai kata Pecinta Alam terlalu sentimentil, melankolis, layaknya seperti saya mencintai gadis pujaan namun rentan akan berbagai macam godaan dimana terkadang mata tak bisa menghindari untuk melotot ketika ada gadis manis lain memikat saya lewat di depan kos.

Begitu juga dengan menjadi pecinta alam, sangat sulit bagi saya untuk merenungi suatu aksi tindakan mencintai alam dipuncak gunung tapi dalam waktu yang bersamaan saya mencintainya sambil menikmati asap rokok dengan tarikan nafas sedalam-dalamnya sehingga nikotin terkumpul maksimal di dalam paru-paru.

Sejatinya badan saya sendiri sebenarnya juga bagian dari alam. Tapi kenyataannya saya secara jelas-jelas mengotori alam paru-paru saya dengan beribu bahan kimia dan kerak nikotin yang dikandung dalam setiap kretek atau filter rokok yang pernah saya isap baik ketika dulu mendaki gunung favorit Merbabu atau memanjat tebing. Lalu saya membuang puntung rokoknya dengan santai dimana saja tanpa beban.

Ini menjadi pertanyaan besar bagi diri saya pribadi waktu itu untuk menentukan pilihan apakah akan bergabung dengan organisasi Pecinta Alam atau jadi petualang kecil Freelance yang tidak terbebani dengan label Pecinta Alam. Layakkah saya disebut sebagai Mahasiswa Pecinta Alam jika kelak bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam?

Saya jawab tidak, diri saya pribadi teramat sangat yakin saya tidak akan mampu menanggung beban sebagai Mahasiswa Pecinta Alam. Karena untuk mencintai diri sendiri saja saya yakin tidak mampu. Saya dulu masih perokok berat dan jika dikalkulasi entah berapa puntung rokok filter ataupun kretek yang saya buang sembarangan.

Saya bisa membayangkan jika waktu dulu jadi ikut bergabung sebagai Mahasiswa Pecinta Alam, saya pasti masih mempertahankan kebiasaan merokok ketika sedang berkegiatan di alam bebas, baik gunung atau tebing alam. Bisa jadi saya menjadi oknum anggota Pecinta Alam yang gemar mabuk-mabukan ditengah hutan pinus atau mengisap ganja sambil mencintai alam.

Karena bagi seorang ?oknum' ketika bertemu secangkir kopi panas, ganja atau minuman keras di alam sejuk, indah dan hijau rimbun, baik di gunung atau tebing, pasti cara saya mencintai alam dengan ?tanda kutip? tersebut akan terasa sangat nikmat dan mengesankan sekali.

Jadi bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dikampus atau Siswa Pecinta Alam (Sispala) di sekolah-sekolah punya tanggung jawab yang sangat besar sekali. Berapa batang puntung rokok yang dibuang oleh satu orang oknum anggota Pecinta Alam di alam bebas, baik di gunung, gua, tempat kamping atau area tebing alam hanyalah salah satu fakta bahwa kita belum benar-benar mencintai alam sepenuhnya, selain merusak alam paru-paru ciptaan Tuhan didada kita.

Berapa batang rokok yang kita buang di alam bebas baru salah satu contoh perilaku yang kontras dengan label seseorang atau oknum perokok yang bergabung dalam organisasi Pecinta Alam. Belum ditambah dengan ulah oknum Pecinta Alam yang membuang sampah sembarangan di gunung atau di tebing.

Jika ternyata disepanjang jalur pendakian gunung, pos-pos perhentian pendaki dan puncak-puncak gunung ada ditemukan sampah, tentunya ini menjadi tamparan keras bagi klub-klub Pecinta Alam atau Organisasi-organisasi akademis Pecinta alam baik di perguruan tinggi ataupun disekolah-sekolah tingkat SMU dan SMP.

Suatu pagi di kawasan tebing alam Jogjakarta saya dan kawan-kawan rekan latihan memanjat menemukan penampakan konyol ada pemanjat setengah mabuk yang naik free solo tanpa pengaman dan hanya bermodalkan ceker kaki terjebak diketinggian kira-kira lima belas meteran dari permukaan tebing. Si pemanjat mabuk duduk diantara celah tebing sambil memegang akar.

Ia berteriak-teriak dengan kesadaran yang belum stabil memanggil teman-temannya meminta pertolongan. Karena kebetulan waktu itu kami hanyalah kumpulan pemanjat tebing dari klub kecil, kami tidak mau ikut campur. Akhirnya beberapa anggota organisasi Pecinta Alam salah satu perguruan tinggi itu akhirnya berhasil menyelamatkan rekan mereka yang mabuk terjebak di celah tebing.

Jadi tidak hanya kebiasaan buruk seperti merokok atau membuang sampah sembarangan, sikap dan perilaku oknum yang berlabel Mahasiswa atau Siswa Pecinta Alam di alam bebas juga dituntut untuk selaras dengan label organisasi Pecinta Alam. Tindakan ceroboh atau gegabah yang membahayakan nyawa sendiri sangat bertentangan dengan tujuan kita mencintai alam sepenuh hati.

Diluar perkara soal musibah yang tidak diharapkan terjadi dan kematian yang menjadi misteri dan rahasia Yang Kuasa, mencintai alam semestinya totalitas dan mutlak. Mencintai alam juga berarti menghargai hidup dengan penuh kesadaran dan penuh kerendahan hati. Dengan mencintai alam itu berarti kita juga menghargai diri sendiri.

Memilih Menjadi Penikmat Alam

Kata Penikmat Alam mungkin kata yang paling pas buat petualang kecil seperti saya dulu dan beberapa kawan seperjalanan. Dengan memutuskan tidak bergabung menjadi pencinta alam baik di organisasi di sekolah SMA dulu atau di organisasi kemahasiswaan membuat langkah saya tidak terlalu terbenani.

Bukan karena saya tidak berani mutlak mencintai alam seperti para Pecinta Alam dengan segala konsekuensinya. Tapi karena saya hanya manusia sadar betul belum mampu memasak permanen diri saya dengan totalitas cinta kepada alam. Saya merasa belum bisa mempertanggung jawabkan segala tindakan remeh temeh selama berkegiatan di tebing dulu. Oleh karena itu saya memilih menjadi penikmat alam karena beban mencintai seorang Penikmat Alam tidak seberat beban mencintai Pecinta Alam kepada alam.

Namun demikian sebagai petualang, entah baik klub organisasi Pencinta Alam ataupun penikmat alam (Freelance), bukan tidak mungkin kita bisa melakukan hal-hal kecil yang berharga dan bermanfaat menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitar. Tidak membuang puntung rokok sembarangan di alam bebas minimal membuat semak rerumputan gunung dan bunga-bunga Edelwis tersenyum menari riang. Tidak mabuk-mabukan di alam bebas berarti menghargai ketenangan dan kedamaian alam.

Tidak membuang sampah sembarangan berarti kita turut menjaga habitat taman bermain burung-burung dan monyet-monyet liar digunung-gunung dan tebing alam. Membiarkan batu-batu di gunung dan tebing-tebing bersih alami apa adanya tanpa torehan pisau belati, coretan spidol permanen atau cat minyak bak coretan liar di halte bus kota. Itu sudah merupakan tindakan kecil yang berarti besar bagi kelestarian alam.

Salam sesama penikmat alam

Oknum : orang, perseorangan, orang (dengan arti yang kurang baik). Apa yang dilakukan oknum menjadi (tanggung jawab pribadi). Tidak mengacu kepada tanggung jawab semua anggota organisasi tapi secara tidak langsung tindakan satu? orang oknum organisasi bisa mencoreng nama dan image suatu organisasi.