Bersih-bersih Orang Bersih Ala Indonesia

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Politik
dipublikasikan 19 Februari 2016
Bersih-bersih Orang Bersih Ala Indonesia

Semua orang, awalnya diterima bekerja baik di perusahaan swasta atau di pemerintahan sebagai PNS tentunya memiliki harapan baik akan menjadi manusia yang berguna, terutama secara pribadi berguna bagi keluarganya sendiri. Bisa membahagiakan anak-istrinya, membahagiakan orang tuanya karena telah mendapatkan pekerjaan yang layak dan gaji yang menjanjikan. Dan dalam status sosial akan mendapat nilai plus dipandang penting dan cukup mengangkat derajat diri di mata masyarakat karena kini bekerja menggunakan pakaian rapi dan jam kerja pasti pergi pagi pulang sore.

Hari pertama bekerja sebagai karyawan atau sebagai PNS dipenuhi harapan baik. Pekerjaan yang ditangani akan berjalan baik dan lancar. Berusaha menunjukkan etos kerja yang baik di lingkungan kerja dan menjalin hubungan yang baik antara sesama rekan kerja. Semangat kerja yang baik pun terlihat dari pancaran wajah yang berseri dan tatapan mata yang penuh percaya diri. Secara tidak langsung disiplin, etos kerja, peraturan di tempat kerja dan persepsi suasana kerja yang positif akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab.

Namun perkenalan awal dunia kerja tidak selalu ideal seperti yang saya deskripsikan seperti paragraf diatas. Ketika saya mendengar sharing beberapa teman baik yang bekerja di perusahaan swasta dan sebagai PNS ternyata dunia kerja tidak melulu seindah dan seideal yang diharapkan. Padahal kalau dipikir-pikir sebagai karyawan swasta atau PNS apa lagi yang kurang? Ternyata bukan masalah nominal gaji dan tunjangan yang menggiurkan yang menjadi persoalan mereka. Masalah utamanya beberapa teman saya mengakui merasa terjebak dengan politik kantor di tempat mereka bekerja.

Perjuangan mereka sebagai bawahan baik sebagai karyawan swasta dan PNS tidak selesai saat menerima gaji bulanan. Akibat politik kantor mereka merasa telah diperlakukan tidak adil oleh oknum-oknum atasan yang telah menyalahgunakan jabatan dan wewenang yang tujuannya demi kelangggengan jabatan, kekuasaan, dan uang. Bagi siapa saja bawahan yang tidak mau ikut aturan main politik kantor siap-siap saja akan mendapatkan tekanan dan intimidasi dari atasan atau kroni-kroninya. Bagi karyawan atau pegawai PNS yang bersih situasi ini menjadi pilihan yang pelik. Ada dua solusi menjadi penjilat atau pemberontak yang menuntut keadilan.

Untuk karyawan baru atau pegawai PNS baru yang memilih mencari aman dengan merapat menjadi penjilat akan berlaku dan bersikap manis terhadap atasan. Bagi yang memilih menjadi pemberontak bersiap-siap menerima konsekuensi keputusan sepihak yang dibuat semaunya oleh atasan. Di perusahaan swasta yang terburuk PHK dan di pemerintahan biasanya pegawai dimutasi. Seperti halnya yang dialami Firman (nama samaran) salah satu teman saya yang bekerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintahan. Firman mencurigai adanya kecurangan pihak administrasi kantor yang menutup-nutupi jumlah uang lembur pegawai dan tidak adanya transparansi perhitungan uang lembur yang jelas bagi setiap golongan.

Kecurigaan Firman semakin kuat ketika mengetahui rekan kerjanya yang sama ruangan dan golongannya di bawah Firman mendapatkan uang lembur yang jauh lebih besar. Padahal sama-sama memiliki jam lembur yang sama selama sebulan. Firman langsung mempertanyakan jumlah uang lembur yang berbeda tersebut ke bagian keuangan. Bukan jawaban positif yang dijawab justru staff bagian keuangan merahasiakan berapa jumlah uang lembur yang harus didapat dan tidak mengijinkan bawahan untuk mengetahui transaparansi perhitungan uang lembur. Ketika Firman mencoba menanyakan kepada kepala ruangannya sendiri, Firman juga mendapati jawaban yang sama, seolah-olah semua pejabat terkait di kantornya merahasiakan berapa dan bagaimana mekanisme perhitungan uang lembur pegawai.

Masih belum puas dalam mencari jawaban, Firman mulai mengumpulkan data semua jumlah uang lembur teman-temannya untuk dijadikan bahan laporan dan argumen kepada atasan, staff administrasi dan keuangan di kantornya. Selain itu ada kecurigaan lainnya, yaitu kemungkinan ada dugaan korupsi uang lembur dengan mewajibkan karyawan shift pagi untuk bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore. Perlu diketahui Firman bekerja 3 shift, dan khususnya pada shift pagi jam kerja Firman dari pukul 7 sampai pukul 2 siang. Shift siang pukul 2 siang sampai pukul 8 malam dan shift malam mulai dari pukul 8 malam sampai pagi, full dari hari Senin sampai hari Minggu.

Khusus bagi pegawai shift diwajibkan pulang pukul 4 sore oleh keputusan direktur dan berbeda dengan jam kerja pegawai administrasi yang bekerja dari pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore dari hari Senin sampai Jum'at. Itu artinya bagi pegawai shift ada kelebihan 2 jam kerja, yaitu dari pukul 2 siang sampai pukul 4 sore. Yang menjadi pertanyaan Firman apakah 2 jam itu masuk lembur atau sengaja dikaryakan demi pencurian uang jam lembur bawahan secara sistematis? Suatu kali Firman pergi ke kantor administrasi dan bertemu dengan salah seorang staff kepegawaian. Tak disangka upaya Firman mencari keadilan soal transparansi perhitungan uang lembur pegawai ditegur secara halus oleh staff pegawai tersebut.

Yang membuat saya tercengang ketika Firman menuturkan bahwa staff pegawai tersebut menasehati sebaiknya jika ingin berkarier bagus di kantor pemerintahan sebaiknya tidak terlalu vokal dan berhati-hati menjaga mulut. "Cukup Anda mengikuti aturan yang sudah berjalan di kantor seperti yang dijalani oleh teman-teman Anda." Bagi Firman nasehat staff kepegawaian ini tak lebih sebuah intimidasi secara halus.

Firman tetap bersikap pada pendiriannya untuk mengungkap kejanggalan perhitungan uang lembur di instansi tempat ia bekerja dengan segala konsekuensinya. Kata Firman kemungkinan yang terburuk dia bisa dimutasi. Teramat disayangkan teman-teman Firman seolah sudah dibungkam mulutnya jadi seolah tidak mendukung upaya perjuangan Firman. Pegawai lainnya seolah bersikap cari aman dan nrimo apa kata dan keputusan atasan yang penting posisi mereka aman.

Resiko bagi karyawan swasta atau PNS lainnya yang bersikap seperti Firman tentunya sangat berat. Misalnya cerita tentang satu teman saya yang bekerja di perusahaan kredit yang menjadi korban persaingan jabatan sampai harus dibuang di kantor cabang daerah hanya karena tidak pandai menjilat seperti rekan kerjanya yang kini mengambil posisi jabatannya di kantor cabang.

Ada juga cerita teman saya yang bekerja sebagai PNS yang dipersulit urusan ijin belajarnya untuk melanjutkan S-1 oleh kantornya selama lebih dari 2 tahun lantaran ia dikenal berani dan kritis terhadap atasannya. Para pegawai bawahan bersih dan vokal ini bagi oknum-oknum yang haus kekuasaan ini dianggap tak lebih sebagai hama yang perlu dibasmi. Kalau bisa semua bawahan itu bodoh semua sehingga bisa diatur dan dimanipulasi seenak perutnya. Seperti kata pepatah "Paku yang menonjol harus dipalu biar rata permukaannya".

Salam Inspirasi

*gambar


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    *Menghela nafas membacanya... Terakhir saya mendengar dari kawan yang bagian lapangan, saya ga percaya, masa hari gini masih ada yang model kaya gitu? Ternyata memang tetap kaya gitu, dan bukannya masih... T_

    • Lihat 3 Respon