Seonggok Puisi di Meja Operasi

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Puisi
dipublikasikan 19 Februari 2016
Seonggok Puisi di Meja Operasi

Sebagai penikmat puisi ingin rasanya saya turut berbagi cerita. Tentang seujung kuku awal pengalaman saya menyukai puisi. Saya mengenal puisi sudah sejak dari SD melalui majalah anak-anak Bobo dan Ananda. Bagaimana reaksi saya ketika membaca puisi-puisi di majalah Bobo dan Ananda? Keren! Bagus semua.

Sampai menginjak bangku SMP saya masih suka memburu bacaan puisi. Entah itu puisi karya sastrawan terkenal atau karya umum yang diterbitkan dikoran-koran harian Minggu. Kadang saya hanya tahu nama pengarangnya tapi tak tahu bagaimana rupa wajah penulisnya. Itu bukan masalah berat yang sampai harus di investigasi.

Barulah semenjak masuk SMA dan merasakan gonjang-ganjing cinta monyet; saya mulai memberanikan diri sekedar corat-coret sepenggal dua penggal kalimat di kertas buku tulis. Semacam curhat ala anak remaja ingusan. Sampai suatu hari saya bertemu dengan buku kumpulan puisi Pesan Ombak Padjajaran yang dirangkum oleh Eka Budianta terbitan tahun 1993.

Berkali-kali saya baca buku kumpulan puisi Pesan Ombak Padjadjaran karya para mahasiswa Universitas Padjajaran yang sangat mengagumkan. Waktu itu saya masih memposisikan diri sebagai penikmat puisi yang sangat tergila-gila dengan racikan kata yang mereka rangkai menjadi puisi. Segar, kocak menginspirasi dan ada juga tersirat kesedihan dari setiap puisi yang saya baca.

Rasa antusias saya semakin bertambah setelah membaca beberapa karya Sapardi Djoko Damono, Kahlil Gibran dan Rabindranath Tagore. Fokus saya masih tertarik dengan kepiawaian para penulis puisi dalam kreatifitasnya bermain kata-kata. Saya lihat kreatifitas rangkai kata dalam puisi-puisi pujangga sekelas Khalil Gibran tidak bisa disamakan dengan kreatifitas rangkai kata seorang Sapardi Djoko Damono.

Setiap puisi punya akar kreativitas yang berbeda dan itu-pun dipengaruhi juga oleh dimensi ruang batin kehidupan si penulis. Berikut latar belakang zaman dan personal penulis turut ?mempengaruhinya. Sampai akhirnya saya menemukan ada puisi yang menggunakan bahasa sederhana dan adapula yang menurut saya menggunakan bahasa yang tinggi.

Bahasa rendah (sederhana) dalam kontek opini saya melingkupi puisi-puisi yang menggunakan bahasa sederhana. Sedangkan bahasa tinggi menurut saya disini tertuju pada puisi-puisi yang menggunakan bahasa tinggi. Contoh bahasa tinggi misalnya seperti puisi-puisi yang dituliskan oleh Kahlil Gibran. Puisi bahasa sederhana diwakilkan dengan puisi-puisi yang dituliskan oleh Sapardi Djoko Damono.

Sampai pada titik ini saya berpikir, semestinya dalam bahasa puisi tidak ada istilah bahasa tinggi atau bahasa rendah. Lalu darimana saya dapatkan istilah bahasa tinggi atau bahasa rendah? Itu hasil olah asumsi saya pribadi atas fenomena yang saya rasakan sendiri melalui beberapa artikel opini yang pernah saya baca.

Terutama tentang kritisi karya-karya puisi zaman sekarang yang kosa katanya cenderung nakal, ekspresif dan liar. Juga tentang kritisi perihal bahasa puisi yang terlalu tinggi bahasanya. Sampai puisi bahasa tinggi dirasa-rasa tidak menyentuh bumi.

Ide perbandingan ada bahasa tinggi (bangsawan) dan ada bahasa rendah (sederhana) dalam puisi. Perbandingan itu lahir dari teori sederhana. Perbandingan lahir karena ada pikiran. Dari respon rasa suka atau tidak suka. Dari penempatan perspektif ego yang diperkuat dengan pernyataan-pernyataan pribadi.

Seperti misalnya jika saya mengakui menyukai lagu dangdut berarti selera musik saya level musik kampungan. Lain hal lagi jika saya bilang saya suka musik klasik itu berarti selera musik saya level bangsawan. Begitu analogi kasarnya.

Sekejam itu-kah teori perbandingan sampai tega membedah seonggok puisi dimeja operasi? Hanya berdasar rasa suka atau tidak suka. Hanya berdasar susunan katanya tidak sesuai dengan selera? Hanya berdasar siapa penulisnya? Sastrawan-kah dia? Guru-kah dia? Dosen-kah dia? Atau Tukang becak-kah dia? Atau tukang sampah-kah dia?

Puisi tetaplah ia puisi. Puisi tetaplah ruh yang berdiri sendiri. Yang padanya telah ditiupkan nafas kata-kata (mungkin) oleh kepedihan penulisnya (jika boleh saya bilang begitu) atau oleh juga suka cita penulisnya, baik dalam suka maupun duka. Tidak ada standar baku tulisan yang baik dan benar sesuai EYD dalam puisi.

Karena puisi adalah ajang curah rasa, pesta kata para penulisnya sendiri. Akumulasi ledakan rasa yang murni. Dan didalam puisi, tidak ada kewajiban bagi si penulis puisi untuk serta merta menterjemahkan rasa dan pikiran menjadi rangkai kata; sesuai tetek bengek syarat standar baku penulisan dan gaya bahasa.

Lalu apa hukumnya membedah seonggok puisi di meja operasi? Jika semua bermuara sekedar kesimpulan atas dasar soal selera pribadi. Perbandingan atas rasa suka atau tidak suka. Perbandingan atas bahasa yang berkelas atau tidak berkelas. Semua dikembalikan kepada opini kita masing-masing. Yang terpenting tulislah puisi yang disuka, apa yang dirasa. itu sudah lebih dari segalanya.

?Ketika puisi berpisah dengan penulisnya, lepaslah ia sebagai ruh dalam raga kata?

?

Salam sesama penikmat puisi