Menolak Rezeki, Berani?

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 Februari 2016
Menolak Rezeki, Berani?

Hari H pernikahan masih lama tapi sepasang kekasih ini sudah sama-sama mulai goyah pendiriannya. Apakah tetap mengikuti rencana semula yaitu melanjutkan pernikahan pada hari-H beberapa bulan lagi atau menunda pernikahan mundur 3 tahun lagi karena tawaran kesempatan yang menggiurkan bagi keduanya.

Yang calon istri mendapat kesempatan emas mengikuti magang kerja di Amerika selama tiga tahun. Sedangkan calon suami mendapatkan tawaran bekerja di kapal pesiar di Jepang tawaran sahabat sipitnya. Terbayang bagi keduanya akan mengumpulkan uang yang cukup untuk modal kawin dan berumah tangga. Bahkan terbayang dengan uang yang terkumpul bisa buat modal buka usaha.

Keduanya sama-sama gundah memikirkan apa yang harus dilakukan dengan kesempatan emas ini. Lebih dari sekedar uang, bagi calon istri bisa magang kerja ke Amerika sudah mimpinya sejak dari bangku kuliah dahulu. Begitu juga bagi si calon suami yang juga sedari bangku kuliah sudah bercita-cita bisa bekerja di kapal pesiar.

Rezeki di depan mata ini benar-benar mengacau rencana pernikahan mereka. Tergodalah mereka berdua pada spekulasi pikiran menunda rencana pernikahan yang sudah dibahas jauh-jauh hari antara kedua belah pihak keluarga. Kira-kira semingguan godaan membatalkan pernikahan terasa begitu kuat mengacaukan pikiran keduanya.

Si calon istri dan calon suami sama-sama duduk lama termenung ketika saling bertemu. Kesempatan hanya datang sekali. Jika disia-siakan belum tentu kesempatan itu berpihak kembali. Ini jalan satu-satunya mengubah hidup ke tahapan yang lebih baik lagi dan tidak semua orang memiliki keberuntungan yang sama persis dengan yang dialami oleh sepasang kekasih waktu itu.

Keduanya sama-sama sudah letih bekerja dengan standar gaji di negeri sendiri. Bekerja jungkir balik demi perusahaan dan institusi hasilnya tetap saja kredit sana kredit sini. Solusinya pengetatan ikat pinggang super ketat jika memang komitmen mau melanjutkan misi ke jenjang pernikahan. Semua kesenangan masing-masing pribadi dimasa lajang harus siap-siap dibuang.

Mereka masih terlena membayangkan berapa besar uang yang terkumpul setelah 3 tahun bekerja di luar negeri. Begitulah begitu kuat pesona uang yang sempat berhasil menggoyahkan niat rencana pernikahan kami. Prinsip cari uang dulu, mapan, baru menikah terngiang-ngiang ditelinga.

Tak sudi kehilangan rezeki yang satu ini

Tak mau terjebak oleh godaan uang dan kemapanan kami akhirnya saling memberikan waktu satu minggu khusus untuk merenung lebih dalam mempertimbangkan dua pilihan. Menunda pernikahan demi bekerja ke luar negeri atau tetap pada rencana semula, melaksanakan pernikahan. Jika andaikata mengambil pilihan bekerja keluar negeri tokh rezekinya dikumpulkan untuk kami berdua juga.

Satu minggu kemudian akhirnya kami bertemu kembali dan saling mengutarakan hasil pikiran dan keputusan kami masing-masing. Diluar dugaan saya dan istri mempunyai pikiran dan keputusan yang sama. Kami kembali ke komitmen awal, tetap melanjutkan rencana pernikahan dan ikhlas menyingkirkan mimpi indah bekerja di luar negeri. Masalah rezeki memang misteri dan tak bisa di duga. Dan kami berdua kebetulan sama-sama berpikir terbalik soal rezeki waktu itu.

Lega rasanya kami berani membuang kesempatan emas itu. Pernikahan lebih penting bagi kami berdua daripada harus saling berpisah 3 tahun lamanya hanya demi berburu dollar dan yen. Ada alasan-alasan mendasar sepemikiran yang menguatkan tekad membuang jauh-jauh impian bekerja diluar negeri dan memilih komitmen awal menikah waktu itu :

3 Tahun saling berpisah belum tentu kami akan saling bertemu lagi. Godaan pasti lebih gila diluar sana, sebagai mahluk single mana sanggup menolak ketemu lawan jenis yang lebih menarik. 3 tahun saling berpisah segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Misalnya, kami mungkin jadi menikah tapi kami malahan menikahi orang lain.

Diluar sana kami belum tentu dapat jodoh yang sudah sama-sama se-klik sepemikiran dan bisa dipercaya untuk dibawa ketingkatan serius jenjang pernikahan. Nyaman adalah kata kunci pertama bagi kami dalam menjalin hubungan. Jika sudah saling merasa nyaman satu sama lain dan merasa ada saling ketergantungan antara satu sama lain, itu sudah cukup menjelaskan kami berdua saling membutuhkan.
?? ?

Rezeki itu apa sih?

"Sendiri itu dingin kawan" Kami memilih menikah saja biar tidur malam tidak kedinginan lagi. Rezeki itu ya kau dan aku jadi satu. Hangat tidak kedinginan lagi.

Kami kembali ke niat awal. Apa yang sebenarnya di cari semua orang di dunia ini? Kepuasan, uang, harta, kekayaan? Kebetulan kami mempunyai latar belakang perekonomian yang berbeda. Saya berlatar belakang dari keluarga pra-sejahtera alias miskin (ih..serem ya nulis kata miskin?) sedangkan istri saya kebetulan berasal dari keluarga yang bisa dibilang cukup mapan; alias tidak pernah merasakan hidup susah.

Kenyataannya walau histori hidup berbeda tapi ada satu kesamaan; ada ketidakpuasan yang munculdari dua background keluarga masing-masing. Kami sama-sama belum merasa bahagia. Atas dasar itu niatan kami menikah memang ingin mencari kebahagiaan yang belum sepenuhnya kami rasakan dirumah masing-masing dulu.
?? ?
Masalah uang? Uang bisa dicari bisa juga bikin pusing kepala. Kami berpikir, "Rezeki saya ada di kamu dan rezeki kamu ada di saya" Kami berusaha selalu saling mengisi dan menutupi kekurangan masing-masing.

Dan kini setelah 10 tahun menikah ternyata keputusan kami dulu sangat tepat sekali. Jika kami bandingkan dengan 10 tahun yang kami lalui dengan memilih 3 tahun berpisah bekerja ke luar negeri demi mencari uang dan hidup mapan barulah menikah; belum tentu jalannya akan semanis yang kami rasakan sekarang ini.

3 tahun bekerja diluar negeri belum tentu kami mendapatkan kebahagiaan sepadan dengan kehidupan rumah tangga yang kami miliki 10 tahun sekarang ini. Walau hidup sederhana tapi tak akan bisa ditukar nilainya dengan uang hasil kerja 3 tahun diluar negeri. Apa saja kebahagiaan kecil nan sederhana yang kami miliki :

Pertama. Genap 1 tahun pertama pernikahan kami bersyukur dipercaya Tuhan dititipkan anak perempuan pertama. Rasanya jadi Ibu dan Ayah pertama kali itu luar biasa indahnya. Saya sampai tertawa melihat tingkah laku istri saya pertama kali menimang meninabobokkan anaknya beberapa jam pasca melahirkan. Istri saya merasa risih dan kikuk diperhatikan seperti itu, "Kok lihatnya begitu? Belum pantas ya? Masih kelihatan tomboinya ya?" Saya-pun tertawa geli mendengar gerutunya.

Kedua. Tahun ke 5 kami kedatangan tamu istimewa lagi, seorang anak laki-laki yang juga lucu dan menggemaskan. Cukuplah sudah sepasang. Tidak mau nambah lagi. Mengingat memulai perjalanan hanya dari berdua bergandengan tangan lalu tambah satu jadi tiga, tambah lagi satu lagi kini isi rumah mungil sudah meriah oleh 4 orang.

Ketiga. Kalau bagi orang lain mungkin menikah, berumah tangga lalu punya anak adalah hal yang biasa dilalui prosesnya. Tapi entah mengapa bagi kami punya anak sepasang itu adalah suatu hal yang luar biasa. Suatu anugerah yang teramat indah bagi kami berdua. Ini sudah lebih dari cukup!

Artinya kebahagiaan yang tidak sepenuhnya kami rasakan dahulu dalam kehidupan keluarga masing-masing baru kami temukan setelah kami menikah dan mempunyai anak. Apa itu? Mungkin itu ?kebersamaan sederhana? kami. Belum tentu 3 tahun bekerja diluar negeri akan menjadi jalan yang tepat dan mendapatkan kehidupan seperti yang kami miliki sekarang ini.

Sejauh mana manusia mampu menerka teori kemungkinan yang kelak berpihak bagi hidupnya sendiri jika kita tahu Tuhan-lah yang punya skenario? Anggaplah saya dulu bangga bisa bekerja di kapal pesiar tapi suatu hari, tiba-tiba, kapal pesiar tenggelam karam ditengah lautan Atlantik. Tamat-lah riwayat saya!

Bukan. Bukan berarti jalan Anda, mereka atau orang lain diluar sana adalah salah! Tapi ini karena setiap orang punya cara yang berbeda untuk mencapai kesana. Cara yang berbeda untuk mencapai apa yang mereka inginkan dalam hidupnya. Dan menurut saya, kami punya cara sendiri untuk sampai kesana. Yaitu dengan tidak menunda pernikahan hanya karena perkara faktor uang dan kemapanan semata. Jadi menurut kami omong kosong jika menikah itu harus menunggu mapan dahulu. Kalau tunggu mapan dahulu lalu kapan menikahnya?

Money can't buy me love! Begitu kata John Lennon dan Paul Mc'Cartney. Sesulit apa-pun keadaan kami berprinsip tidak mau merepotkan orang lain termasuk mertua saya sendiri. Sudah umum adat di Sumatera Barat biasanya pihak menantu laki-laki ikut tinggal di rumah istri bersama mertua.

Alasan positifnya memang karena orang tua itu sangat mengawasi anak perempuannya walau sudah menikah sekalipun. Jadi waktu itu besar sekali harapan mertua ditambah pula dengan iming-iming modal usaha agar kami mau tinggal dirumahnya.

Berhubung waktu kami punya komitmen menjalankan pernikahan baik susah maupun senang hanya berdua saja akhirnya kami menolak rayuan orang tua. Kami hanya ingin memulai hidup dari nol dan menikmati mengelola proses berdua. Mengelola proses dari nol akan terasa lebih nikmat menurut kami.

Beda halnya jika andaikata kami dulu jadi bekerja 3 tahun keluar negeri dan pulang bawa banyak uang belum tentu kami bisa saling tulus menghargai karena sama-sama merasa sudah punya uang dan dengan uang seseorang bisa berbuat apa saja tanpa memandang harga diri. 10 tahun pernikahan jauh lebih berharga ketimbang memilih impian 3 tahun bekerja diluar negeri. Kami memilih tidak menunda menikah, tak berani menolak rezeki yang satu ini.

Salam Hangat

*sumber gambar : pixabay

*Catatan penulis : Artikel ini tulisan lama dan ini adalah hasil revisi terkini dengan menambah bumbu dapur secukupnya agar luwes dibaca dan sedikit mengurangi dan menambah isi. Revisi utama lebih kepada perbaikan tata bahasa dan tanda baca. Semoga bermanfaat.

  • view 343

  • dreamy~ 
    dreamy~ 
    1 tahun yang lalu.
    ini keren! like. saya juga tumbuh dari 0, menikah diusia 19 th, dan mulai tanpa memiliki apa2. rumah ngontrak,gaji pas2an. *curcol* xD . tapi bismillah.. dan akhirnya alhamdulillah, janji Allah slalu tepat

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Ngiri sumpah ngiri...!

    • Lihat 4 Respon