Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 14 Februari 2016   14:11 WIB
Mencintai Itu Bukan Suatu Pekerjaan

Bayangkan jika belum resmi menikah saja pasangan Anda sudah sibuk mempertanyakan kepastian cinta. Benarkah engkau mencintaiku sepenuh hati? Benarkah engkau setia padaku? Benarkah hanya aku yang satu-satunya dihadapanmu? Jika engkau mencintaiku tunjukkanlah cinta itu sepenuh hatimu. Berikan aku ucapan atau tindakanmu yang bisa meyakinkanku? Tunjukkan sesuatu yang membuat hatiku hanya tertuju padamu!

Bla-bla-bla. Wow! Pasti rasanya meletihkan sekali untuk memenuhi suatu penegasan demi meyakinkan kekasih tentang berapa besarnya cintamu padanya. Sedemikian rumitkah cinta itu hingga begitu banyak tetek bengek pra-hubungan resmi alias administrasi menuju jenjang pernikahan yang harus dibuktikan nyata? Pasti rasanya meletihkan sekali melihat kebelakang semua upaya kerasmu untuk menunjukkan betapa Anda ingin memiliki dirinya, untuk naik satu level menjadi seorang istri atau suami.

Hmm. Ngomong-ngomong apakah saya seorang pakar cinta? Bukan, saya bukan seorang pakar cinta. Tapi siapa yang tak kenal cinta? Siapa yang tak pernah kesenggol cinta disepanjang perjalanan hidupnya. Jangankan manusia, merpati-pun secara naluriah diciptakan untuk berpasang-pasangan. Saya belum pernah mendengar ada merpati yang dilahirkan sebagai jomblo tulen. Tapi. Ada tapi disini. Manusia bukan merpati, begitu juga sebaliknya.

Merpati sudah didesain oleh Pencipta sedemikian rupa untuk hidup berpasang-pasangan. Ketika pada musim romantis tiba baik merpati jantan maupun merpati betina saling mencari pasangan kekasih. Merpati terlihat mudah menemukan jodohnya dan terbukti belum ada catatan sipil yang mencatat ada burung merpati itu perjaka tua atau perawan tua. Berbeda dengan manusia. Dalam menemukan kekasih, mencari jodoh, ternyata tidak semudah yang dikira.

Tepat kata bang Iwan Fals ?Asmara tak secengeng yang kukira?. Mungkin maksud bang Iwan, cinta harus lebih dari sekedar cerita roman picisan belaka. Lebih dari itu cinta ialah perjuangan insan manusia sampai menemukan kekasih dan jodohnya; sungguhlah seseorang harus menempuh jalan yang teramat panjang dan berliku sampai menemukan cinta sejati. Banyak ujian dan tantangan untuk saling menemukan cinta dan membuktikan kesetiaan.

?

Pernah-kah sobat mendengar lagu ?Semua Tak Sama?-nya Padi?

Kira-kira begini beberapa penggalan lirik lagunya : "Semua tak sama, semua tak sama. Apa yang kukecup, apa yang kupeluk. Sehangat pelukmu, selembut belaimu. Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu?

Ada apa kira-kira dibalik penggalan lagu hits lawas grup band musik Padi yang satu ini. Pertama ini bisa jadi lagu yang mewakili kisah percintaan ala anak band dimana kemungkinan besar si penulis lagu sudah beberapa kali gonta-ganti pacar tapi setiap pacar barunya dikecup dan dipeluk satu-persatu eh kok rasanya masih beda dengan mantan yang pertama dulu Ha-ha-ha. Walau sudah berapa kali dapat pacar baru tetap saja tidak ada satu orang perempuan-pun yang mampu menggantikan kekasihnya yang pertama.

Jadi begini, ternyata seumpanya manusia merasa sudah merasa yakin menemukan cintanya yang sempurna menurut dirinya, sudah menemukan jantung hatinya, kekasih yang sangat diiharapkannya TAPI pada kenyataanya belum tentu seseorang istimewa yang pertama ditemuinya itu mutlak akan menjadi pasangan hidupnya dikemudian hari kelak. Tidak semudah itu Allah SWT, Sang Maha Pencipta, mempertemukan dua insan kecuali mereka sepasang burung merpati. Apakah gerangan rahasia dibalik puzzle cinta yang sengaja hanya ditimpakan kepada mahluk hidup bernama manusia?

?

Tipe 100% percaya jodoh di Tangan Tuhan

Jika kita 100 persen percaya jodoh ada di Tangan-Nya. Maka otomatis selesailah urusan kita. Semudah itu? Tidak, jelas tidak semudah itu. Mentang-mentang jodoh, harta dan mati sudah ada yang Mengurus, bukan berarti hidup akan berjalalan seideal yang kita harapkan. Tidak semua orang mempunyai jalan hidup seideal perjalanan hidup Anda dalam menemukan cinta. Sepanjang perjalanan kita sibuk berusaha dan terus mencari sampai menemukan orang yang terbaik, pilihan yang tepat sekali seumur hidup untuk dibawa ke level pernikahan. Karena pernikahan itu final. Hanya sekali seumur hidup (ini menurut saya).

Saya termasuk orang yang percaya jodoh 100% tapi tentunya tidak pula saya melupakan usaha nyata dalam menemukan pendamping hidup yang tepat (menurut masing-masing kita). Belum tentu kita itu baik untuk si A yang kita puja-puja dan mungkin saja kita itu ternyata (dan tanpa diduga-duga) baik untuk si B yang selama ini kita abaikan keberadaannya. Ketika kita mengejar si A segala daya upaya kita lakukan demi mendapatkannya. Akal sehat dan logika seperti dibutakan oleh pesona si A sehingga tersesatlah kita dalam permainan cinta.

Kita mati-matian mencari cara sampai memanfaatkan segala cara demi meluluhkan hati si A dan bertekuk lutut dihadapan kita. Tapi sudah berbagai cara dilakukan, berbagai pembuktian baik ucapan maupun tindakan yang nyatapun tak jua berpihak kepada nasib kita untuk memilikinya. Dan kemudian kita menyerah, kecewa berat, merasa terbuang, diabaikan dari sedikit saja kehidupannya si A. Dimalam harinya kita terjebak dalam lubang hitam, ruang sunyi yang tak bertuan dan hampa harapan. Putus asa dan yang semestinya tidak terjadi, tiba-tiba muncul didalam hati perasaan benci yang maha dahsyat yang ditujukan kepada si A karena ia telah mengabaikan semua ?kerja keras? kita dalam upaya meyakinkan cinta kepadanya.

?

Ketika segala upaya kerja keras ucapan dan pembuktian menjadi kebencian

Karena sedari awal motif kita mencintai seseorang adalah tak lain harus memilikinya secara tidak langsung mungkin kita sudah mendahului takdir Tuhan. Kita sudah mendahului ketentuan jodoh itu sendiri, yaitu urusan Tuhan. Kita merasa seseorang yang kita impikan dan kita puja-puja adalah orang yang terbaik bagi kita tapi sebaliknya mungkin belum tentu baik menurut Allah SWT. Kajian seperti ini sudah umum didengar bukan? Kita tidak membahas itu karena selain diluar topik tapi pengetahuan saya mengenai agama juga dangkal. Saya lebih membatasi topik ini sebatas ruang lingkup pengalaman pribadi.

Segala upaya kerja keras, pengorbanan, pembuktian berlebihan baik dalam ucapan maupun dalam tindakan diluar logika dan nalar akal sehat demi memenangkan dan meyakinkan cinta seseorang menurut saya tak lain suatu pekerjaan yang sangat meletihkan. Semestinya cinta itu tidak membuat seseorang letih konyol lalu mengorbankan sebagian besar hidupnya untuk sesuatu yang berakhir menjadi kesia-siaan. Bukannya segala upaya kerja keras pembuktian dan tindakan nyata menjadikan cinta itu semakin besar dan lebih besar lagi dari yang pernah dibayangkan, sebaliknya justru kasih tak sampai hanya berakhir menjadi suatu kebencian hitam yang teramat dalam.

Cinta semestinya membebaskan, tanpa pamrih, tanpa motif nafsu kepemilikan dan kita tidak perlu memasang tali pengikat dileher kekasih kita selayaknya anjing peliharaan yang setia kepada majikannya. Karena tanpa harus diikat lehernya pun kita tahu kalau anjing adalah binatang peliharaan yang paling setia kepada manusia majikannya. Jadi jika suatu hari kita merasa lelah mencintai, lelah memperjuangkan suatu pembuktian atas nama cinta. Tidak ada salahnya kita merenung kembali mempertanyakan motif terselubung kenapa kita begitu mencintai sesorang dan ingin memiliki seluruh hidupnya. Dengan catatan sebisa mungkin hindari bibit-bibit kebencian yang muncul karena penolakan.

?

Ketika jodoh itu ternyata dia yang kita abaikan begitu lama

Flash back. Suatu hari saya mendapat telpon dari seseorang perempuan yang sangat saya kenal 15 tahun yanga lalu. Saya gemetar mendengar suaranya. Dia hanya teman lama, pacar pun bukan. Dia seseorang dimana saya tak pernah punya alasan yang kuat untuk menolak kehadirannya. Dia seorang teman lama yang ketika dulu pernah mengenalnya pernah terucap spontan dari mulut saya ?Gawat! Jangan-jangan dia jodoh saya!? Sejak saat itu saya mulai menjauhi dirinya hanya karena alasan merasa tidak pantas untuk dirinya. Biasa alasan klise seorang lelaki yang merasa dirinya anak nakal dan ketika dihadapkan takdir bertemu oleh seorang perempuan yang baik muncullah ego dalam dirinya yang menegaskan ?Aku bukan lelaki yang terbaik untuknya!?

Padahal semua dugaan saya salah besar. Dia datang kembali dan tetap dengan pendiriannya bahwa sejak pertama bertemu saya dia tidak pernah sedikitpun merasa salah pilih jika saya tetap, adalah yang terbaik untuknya. Sampai datangnya pertemuan, dia berkata : ?Lelaki bodoh! Hanya saya yang bisa. Tak ada satupun wanita yang memiliki cinta sebesar cinta yang saya miliki. Walau dalam cinta itu saya tidak pernah sedikitpun mengikat dirimu. Saya tidak pernah merasa letih sedikitpun 15 tahun tetap setia menunggumu. Dalam mimpi sekalipun, disana hanya saya yang bisa menemui dirimu ketika ada wanita lain yang saya lihat semua hanyut tersapu arus deras sungai, tak satupun yang bisa meraihmu.?

Dan saya membalas isi hatinya. ?Dasar wanita bodoh! Selama 15 tahun hanya menghabiskan waktu untuk menunggu laki-laki tak punya masa depan dan hidupnya hanya akan menjadi beban bagi orang lain yang bersamanya!? Tapi setelah itu saya genggam tangannya. Kami lama duduk termenung disebuah wartel dipinggir jalan raya Bekasi Timur di sore hari. Kini saya dan dia alhamdulillah sudah 10 tahun menjalani bahtera rumah tangga. Dari pernikahan kami dipercayakan lahirlah sepasang anak yang turut meramaikan rumah mungil dibawah bukit.

Sampai hari ini kami Insya Allah tidak pernah letih untuk saling mencintai dan menyayangi. Kami tidak pernah letih berlaku seolah sepasang kekasih yang sedang berpacaran. Kemana-mana pergi bergandengan tangan. Hampir setiap hari ber-sms ria untuk sekedar saling menyapa ke-pede-an. ?I miss you too, I love you too? Padahal saya yang sms duluan. Maklum kita dulu hanya teman biasa, belum pernah merasakan pacaran kecuali setelah pernikahan. Dan semua rasa mengalir begitu saja. Kami sama-sama tidak pernah merasa cinta itu sebagai suatu pekerjaan atau pengorbanan, tak ada tuntutan dan tak ada pembuktian. Cukup saling menikmati dan mengelola semua proses berdua.

Sesederhana itu? Jelas tidak, 15 tahun kami yang hilang tentunya menjadi tantangan berat diawal-awal tahun pernikahan. Perjalanan panjang mengulang saling mengenal satu sama lain lagi. Duel? Itu sudah biasa dalam perjalanan berumah tangga. Dibawah ini saya sisipkan puisi tentang pernikahan kami untuk Sobat Pembaca yang budiman.

Salam Hangat

Rumput liar, 14-02-2016.

***

10 Tahun 3 Hari Lagi

Terima kasih ya,
Sudah tahan banting
Menemani kala suka duka
Menghibur kala haru biru
Menyemangati tiada bosan

Terima kasih ya,
Sudah rajin berbagi duel
Berbagi marah dan ambekan
Berbagi bahu sebagai sandaran
Hidup sehat dalam humor dan cinta

Terima kasih ya,
Sudah kasih kado anak dua
Sepasang aduh syukur indahnya
Rasanya ngebet mau nambah lima
Tapi sadar maintenance pasti menggila

Ya, dua saja dunia sudah penuh warna
Kadang geregetan juga sama gaduhnya
Malam bapak rebutan emak sama anaknya
Sore anak rebutan remot tipi sama bapaknya
Ada-ada saja perkara di keluarga Cemara

Terima kasih ya,
Sepuluh tahun memang belum apa-apa
Ujian pasti akan selalu datang mendera
Jika ada letih obati saling peluk mesra
Jika ucapan lebih cepat H-3 dimaklumi saja

Lihat kalender duh ternyata belum tanggalnya
Tapi lebih cepat kita merayakan lebih baik
Yang penting betul ini September ceria
Jangan marah dulu dan ditutup telponnya
Apa salahnya ucapan lebih cepat H-3

Damai kita. Yaa..

Poem by Den Bhaghoese, 07-09-2015.

*sumber gambar : pixabay

?

?

?

Karya : Den Bhaghoese