Ketika Satu-persatu Pergi

Den Bhaghoese
Karya Den Bhaghoese Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
Ketika Satu-persatu Pergi

?Ada kenangan tersendiri tentang mereka. Saya berterima kasih diberi kesempatan mengenal mereka yang telah pergi mendahului saya. Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang mereka, teman dekat yang pernah ada. Mungkin mereka hanya orang biasa, tapi mereka pernah sangat berarti kehadirannya dimata saya?

Kematian. Suka tidak suka, mau tidak mau semua yang ada dan semua yang bernafas pasti akan mengalami mati. Entah kapan waktu itu datangnya dan kepada siapa waktu itu kelak memanggil. Mendengar berita orang meninggal di surat kabar, televisi atau berita di koran mungkin sudah biasa didengar. Tapi kalau musibah kemalangan itu terjadi kepada orang terdekat kita rasanya akan menjadi berbeda. Rasa kehilangan orang terdekat dari keluarga kita atau teman dekat menjadi rasa kehilangan yang sukar dijelaskan.

Ada beberapa teman dekat saya semasa SD, SMP dan teman dekat saat saya kuliah yang sudah pergi mendahului. Pertama kali sukar rasanya menjelaskan rasa kacau yang saya alami untuk menerima kenyataan bahwa mereka sudah pergi. Tidak ada lagi disini. Rasa kacau itu memang datang sesaat. Setelah itu saya kembali menjernihkan pikiran. Semua yang ada disini memang tidak ada yang kekal. Ada kenangan tersendiri tentang mereka. Saya berterima kasih diberi kesempatan mengenal mereka yang telah pergi mendahului saya. Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang mereka, teman dekat yang pernah ada.

Wahyudin
Beliau teman dekat saya waktu semasa SD dulu. Walau tidak duduk sebangku kami sering bermain benteng permainan kejar-kejaran anak SD tempo dulu. Kadang Wahyudin sering berlaku usil mengganggu saya juga teman-teman yang lain. Walau Wahyudin dapat predikat murid yang paling bodoh tapi bagi saya Wahyudin tetap teman yang sangat istimewa. Masalahnya Wahyudin hanya sangat malas belajar saja.

Setelah lulus SD saya dan Wahyudin berpisah sekolah. Walaupun demikian kadang setiap pulang jualan koran saya sempatkan mampir main ke rumah Wahyudin. Berhubung jadwal masuk sekolah kami yang berbeda jadi saya jarang sekali ketemu Wahyudin. Suatu hari secara tidak sengaja saya mendapat kabar dari seorang teman SD saat saya sedang berjualan koran di pasar. Wahyudin meninggal dunia karena dipatuk ular berbisa di kebun. Saya terkejut dan segera ngebut mengayuh sepeda kerumah Wahyudin. Melihat dia sudah berkain kafan dirumahnya membuat saya merinding. Cepat sekali dia pergi. Saya sudah kehilangan kawan yang paling baik dan super kocak. Hilang sudah tawa candanya.

Heru Antonius
Walau dia anak dari keluarga Kristen tapi tidak masalah bagi kami dalam berkawan. Itu hebatnya anak kecil, perbedaan agama bukan suatu yang dipermasalahkan dalam pertemanan. Tokh kami saling menghargai ketika menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Heru termasuk anak yang jenius dan ahli elektronika. Dikamarnya penuh dengan barang elektronik hasil ide kreatifnya sendiri. Yang tak pernah saya lupakan yaitu ide membuat kunci pintu elektronik yang jika ada orang lain salah memutar kombinasi angka kunci pintunya maka otomatis akan keluar strum aliran listrik digagang pintunya yang lumayan mengejutkan. Saya sendiri pernah jadi korbannya.

Pengalaman lain karena Heru-lah saya pertama kali bisa mengendarai sepeda. Masih ingat kami? konvoi bersepeda motor dengan teman-teman satu kompleks saat malam tahun baru. Kami keliling dijalan raya menyusuri kawasan sudut Jakarta Timur. Keliling Cibubur, Cilangkap, Ciracas dan berputar kembali melintasi melintasi jalan Raya Bogor. Ternyata malam tahun baru itu menjadi malam terakhir kebersamaan kami. Seminggu kemudian saya mendapat kabar Heru meninggal dunia. Karena jarak rumah saya lumayan jauh saya sempatkan bolos sekolah untuk pergi kerumah Heru.

Saya datang tidak terlambat. Pagi-pagi jasad Heru sudah sampai dirumah setelah tiga hari dirawat dirumah sakit. Awal kejadiannya setelah Heru pulang renang bersama teman-teman kompleks ia mengalami sakit perut. Kemudian Heru sempat pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Hasil diagnosa ternyata sebagian besar usus Heru sudah rusak alkohol. Kami semua juga keluarga Heru terkejut dan tidak menyangka kalau Heru seorang alkoholik berat. Karena usianya baru beranjak remaja. Kemudian isi kamarnya dibongkar ditemukan banyak botol minuman keras tersimpan dibalik kasurnya.

Oleh keluarganya Heru akan dimakamkan dengan cara Kristen. Saya sempat memandikan jasadnya dengan rasa tidak percaya dan tangan gemetar. Waktu itu saya masih kelas 1 SMP. Setelah dimandikan jasad Heru dipakaikan jas lengkap bersama peti matinya terisi barang-barang kesayangan almarhum. Kemudian untuk pemakaman jasad Heru segera dibawa pulang ke kampung halamannya di Godean Yogyakarta. Saya mendapat kabar di Yogyakarta Heru dimakamkan secara Islam karena pihak keluarga nenek almarhum beragama Islam tidak setuju cucu-nya dikuburkan dengan cara Kristen.

Titin Suhartini
Pas liburan kuliah dulu saya sempatkan pulang ke rumah di Depok. Biasanya saya sangat malas sekali pulang ke rumah saat liburan kuliah. Andai pulang kerumah-pun paling lama kurang dari 1 minggu saya sudah balik lagi ke Yogya. Bertemu lepas kangen sama Ibu seperti biasa kami saling tukar kabar dan saling cerita apa saja. Sampai dia menanyakan saya apa masih ingat dengan teman main waktu kecil dulu di Cibinong, si Titin. Tentu saya ingat sekali. Titin itu salah satu teman perempuan yang pintar menari dan teman tercantik yang pernah saya punya. Oleh karena itu saya merasa bangga ketika suatu kali orang tuanya meminta saya pergi menemani Titin ke salon untuk persiapan penampilan tarinya di desa.

Hampir setiap malam saya mendongeng dirumah Titin dengan beberapa teman yang rumahnya berdekatan. Saya sering mendongeng tentang kisah putri dan pangeran. Kebetulan saya mendapat referensi cerita dari perpustakaan umum dan dari beberapa dari koleksi buku bacaan sendiri. Dibalik saat mendongeng sebenarnya suka gemetar kikuk kalau dekat-dekat sama Titin. Dasar anak ingusan! Kenangan itu sekejap membuat saya tersenyum kecil. Kepergiannya yang terlalu cepat membuat saya berpikir siapa saja bisa pergi setiap saat. Tapi cerita sebab kemungkinan sakitnya Titin dan sampai dia meninggal terdengar haru bagi saya. Sejak dia dipaksa kawin dengan lelaki pilihan orang tuanya Titin merasa bathinnya tertekan sampai terbawa sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Bang Hendri
Awal kenal Bang Hendri saat jaman kuliah ketika suatu pagi terdengar suara orang minta tolong kakinya kesakitan dan tidak bisa turun dari motornya. Karena kebetulan saat itu beberapa anak kos sudah berangkat kuliah dan sebagian masih tidur pulas jadi Bang Hendri terus berteriak minta tolong sambil menahan sakit. Saya segera keluar kamar dan menghampirinya. Saya angkat kakinya dan saya turunkan beliau pelan-pelan dari motornya. Kemudian saya papah dia untuk duduk bersandar meluruskan kakinya yang sakit. Katanya asam uratnya kambuh, itu yang menyebabkan dia kesakitan tidak bisa turun dari motor. Di situlah awalnya saya kenal Bang Hendri yang tak lain sahabat dekat sang kepala suku rumah kos.

Tidak disangka-sangka Bang Hendri menjadi rekan tempat satu kerja saya di industri kecil perlengkapan petualangan dan guiding yang di kelola sang kepala suku di kos tempat saya tinggal. Bang Hendri ternyata orang yang punya selera humor yang cukup menghibur. Lumayan tempat kerja saya yang biasanya kurang selera humor jadi terhibur dengan gaya banyolannya. Kadang sok tau dan kadang masuk akal. Kadang jadi panutan dan kadang jadi guyonan. Kesan yang paling menjengkelkan dan tidak pernah saya lupakan adalah ketika suatu kali Bang Hendri merampok oleh-oleh yang dibawa teman saya dari kampung. Sengaja teman saya membawa oseng-oseng ikan cumi khas Demak yang dibawakan khusus saya dan kepala suku.

Asik-asik ngobrol dengan teman diluar toko tempat saya kerja tiba-tiba Bang Hendri pamit pulang duluan. Tanpa rasa curiga saya bilang hati-hati kepada Pak Tua. Pak Tua itu julukan yang saya berikan untuk Bang Hendri. Karena umur dia yang paling tua dari semua rekan kerja. Setelah dia pergi entah kenapa tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Saya segera berbalik kedalam untuk mengecek kantong plastik yang berisi oleh-oleh ikan cumi pemberian si Dulah. Saya langsung terkejut ikan cumi jadi tinggal sedikit. Sedikit dalam artian yang tersisa benar-benar kejam sadistis. Bisa saya hitung berapa jumlah ikan cumi yang tersisa. Dari sekantong plastik penuh hanya tinggal ikan cumi yang bisa dihitung dengan jari. Sedikit jari. Saya benar-benar mengecam keras tragedi malam itu.

Suatu hari Bang Hendri pernah mengajak saya main ke rumahnya. Sejak dari awal cerita mengapa dia bergabung sebagai rekan kerja saya sudah mendapat sedikit bocoran cerita dari kepala suku. Awalnya Bang Hendri berprofesi sebagai seorang Tour Guide yang sukses. Dia menguasai fasih bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Sejak karena dia tidak bisa mengontrol gaya hidupnya saat berlimpah dollar akhirnya dia kembali jatuh tape. Tak sampai disitu, efek samping doyan minuman beralkohol berakibat menyebabkan beliau suka sakit-sakitan. Salah satunya sakit asam urat yang menderanya dan sakit paru-paru karena efek samping jadi perokok berat.

Dirumah kontrakannya yang sangat sederhana sekali saya melihat tiga putranya yang masih kecil-kecil. Yang paling besar waktu itu masih kelas 3 SD. Saya kagum juga mengetahui anaknya rajin mendapat juara kelas. Namun dibalik senyum Bang Hendri dan istrinya saya melihat ada penderitaan yang tak mampu mereka sembunyikan dari mata saya. Bang Hendri punya permasalahan ekonomi keluarga. Diantara tuntutan ekonomi yang tinggi dia juga berperang melawan sakitnya agar bisa terus bekerja menafkahi anak istrinya. Waktu itu dirumahnya saya hanya banyak diam. Tapi diam saya berpikir jauh. Walau bagaimanapun pahitnya, hidup tetap harus dihiasi dengan humor dan tawa disepanjang perjalanannya.

Kabar kepergian Bang Hendri di tahun 2005 membuat satu hari saya hening. Entah kenapa saya waktu itu kepikiran bagaimana nasib anak-anaknya bang Hendri. Saya tidak tahu dimana mereka berada dan saya tidak tahu di almarhum Bang Hendri dikubur. Masih teringat jelas bagaimana cara dia mengajarkan saya bahasa Perancis yang gagal total karena kerongkongan saya stress berat tersandung intonasi bahasa Perancis yang terdengar seperti orang kumur-kumur. Masih teringat jelas cara dia berhumor ria dan tertawa nyaris terbatuk-batuk. Saya bilang, ?Sudahlah Pak Tua!? Dan dia membalas saya, ?Hey boy! Khilaf ente!?

Mereka semua pernah ada, salam dan takjub saya akan waktu-waktu berharga saat bersama. Love and Respect. Jika ada isi tulisan yang tak berkenan, sudilah kiranya Sobat mengambil sisi baiknya saja.

Salam Hangat


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Agak kaget juga anak smp zaman dulu alkoholik. Kalo sekedar merokok dan nyicipin air aki standar mungkin iya. Tapi alkoholik? *Jadi teringat teman smp yang mati karena alkohol hingga paru2nya terbakar (yang barangkali juga ginjalnya yang rusak, entahlah...)

    • Lihat 1 Respon

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Semoga Tuhan memberi tempat yang layak di Sisi-Nya Den. Dan hanya do'a yang bisa kita kirimkan.