Quarter Life Crisis

Semburat Senja
Karya Semburat Senja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2016
Quarter Life Crisis

Quarter Life Crisis

Quarter Llife crisis adalah yang pada umumnya dialami oleh semua remaja remaji yang sedang menuju dewasa, biasanya  pada rentan usia 20-25 tahun. Pada umur tersebut biasanya kita-kita baru aja selesai kuliah atau sedang menjalani semester khawatir.

Itulah yang terjadi pada saya.

Disini saya mungkin akan berkhayal untuk tiba-tiba didatangi pangeran yang rupawan dengan lambo keluaran terbaru, dan dengan pesonanya berkata “Sayang, ayo kita habiskan duit abang”

Tapi tetap saja, jikapun itu adalah kenyataan, tetap saja menjadi kenyataan yang mengkhawatirkan. Di zaman susah begini mau secantik apapun perempuan, ga mungkinlah ada laki-laki yang ngomong begitu.. mimpi kali yeeee

Disini saya seperti memijakkan kaki ditengah-tengah gunung. Mau turun kebawah sudah kepalang tanggung, mau mendaki terus rasanya sudah teramat letih..

Mau kuliah dengan baik dan nurut apa saja kata orangtua.. atau mau sok-sokan multitasking kuliah sambil ikut kegiatan ini itu, memperluas silaturahmi, bahkan sambil mencari rejeki untuk kemudian belajar menjadi mandiri? Apa? Ga salah kan?

Di masa ini kadang otak sama hati suka ga sinkron.. hati kecil sama hati besar suka berantem sendiri, masih labil memprioritaskan mana kebutuhan dan mana keinginan. Pengen dilihat tapi kadang mager di kamar. Menggebu-gebu denger cerita orang tapi dikurung malas saat waktu eksekusi tiba. Maunya apa sih?

Dan..

Ketika wisuda tiba, terbitlah gelar di belakang nama.. apa itu menjadi sebuah kebanggaan?

Bagi sebagian orang mungkin iya, tapi bagi sebagian yang lain, bias saja itu malah menjadi sebuah beban. Beban banget ga ketika kalian bergelar sarjana ekonomi tapi ditanya tentang kebijakan fiskal aja gelagepan? Menyandang status sarjana hukum tapi ditanya tentang kekuasaan pengadilan aja celamitan? Beban gaaa? Yaiyalaaaaaaaah.. bagi sebagian orang lagi..

Di sebagian lain mungkin malah berdalih bahwa itu jurusan bukan keinginan dia, bukan passion dia.. memang sih passion itu ga bias dipaksain, tapi ketika kalian memutuskan untuk menjalani sesuatu bukankah saat itu kalian juga terikat komitmen untukmenjalani dan menyelesaikan sesuatu itu dengan baik? Baik versi masing-masing lah yaaaa

Lalu persoalannya adalah, siap ga terjun di masyarakat? Di kehidupan yang sebenarnya? Siap ga nunjukin skill yang dipunya? Siap ga bersaing menjadi pilihan?

Akhirnya dapat kita sadari bahwa kita terlalu khawatir untuk sesuatu yang tidak pasti. Hari esok? Belum tentu kita jalani.

Kenapa kita tidak focus saja berikhtiar? Berusaha sebaik-baiknya untuk hari ini? Toh kita juga sadar bahwa semua ini sudah ada skenarionya.. kalau memang sesuatu itu ditakdirkan untuk kita sampai kapanpun tidak akan menjadi milik orang lain bagaimanapun jalannya..

Tapi bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri merubahnya?

Dan lagi, gimana sih rasanya punya segalanya tanpa usaha? Ada manis-manisnya gaaaa??

Untuk itu, nikmati saja quarter life crisis ini.. toh kalaupun sehat panjang umur ini tidak akan lagi dijumpai di masa depan.. sama seperti masa polos indahnya kanak-kanak.