Rhetoric

Deita Shaumi
Karya Deita Shaumi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2016
Rhetoric

    Aku melemparkan badanku kekursi. Sekarang memang bukan waktunya istirahat namun, bagaimana tidak? Aku lelah berdiri di depan kasir sedai pagi. Pelanggannya banyak sekali hari ini, bahkan duduk sebentar saja aku tidak bisa karena masih banyak pelanggan yang mengantri untuk membayar.

   "Hari ini cape banget. Mendingan gue kembali jadi anak SMA saja deh, sha"Keluh Dira dengan apa yang dialaminya hari ini. Ya, Dira Aflaha. Temanku dari SMP sekaligus rekan kerja di Restoran Sundubu Jjigae ini.

   "Duh Dira, lo udah ngomong kalimat itu setiap hari"Ucapku sambil membuka tutup botol dari tempat minum yang selalu aku bawa dari rumah lalu meneguknya sampai tersisa setengahnya.

   "Dalam sehari gue ngomong kalimat tadi cuma sekali kok. Mending ngga setiap menit juga"Bela Dira pada dirinya sendiri karena tidak mau disalahkan sama sekali olehku.

   "Yaudahlah. Lagian emang setiap musim hujan restoran ini kan suka ramai pelanggan. Habis, yang  jual sundubu jjigae ini ya cuma di restoran ini, Dir. Mana si bos ngga buka cabang lagi. Tapi ngga salah juga sih kalau banyak pelanggan setia atau pelanggan baru yang kesini, soalnya emang enak banget sundubu jjigae ini. Apalagi kalau disantap bersama sepiring nasi hangat pada musim hujan"Kataku panjang lebar sambil membayangkan enaknya sundubu jjigae buatan chef pilihan bosku. Tidak terlalu perduli dengan cara bicaraku yang seperti sedang syuting iklan.

   Namun, tanpa menjawab ucapan panjang lebarku, Dira langsung beranjak dari kursi dan berjalan cepat ke arah dapur. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan disana. Tapi aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan sundubu jjigae dan sepiring nasi hangat yang aku bicarakan tadi.  

  "Sudah kuduga"Celetukku melihat Dira yang keluar dari dapur membawa seporsi sundubu jjigae bersama sepiring nasi hangat ditangannya. Dan sundubu jjigae satunya lagi (yang kuharap untukku) dibawa oleh Ricky Azhar dengan senyuman tulus yang bisa membuat wanita manapun membalas tersenyum tulus pula. Tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Bukan apa-apa sih aku begitu. Hanya saja dia terlalu ganteng dengan tingginya 1,85 m, wajahnya yang putih dan selalu tersenyum ramah kepada orang lain, matanya yang agak terlihat sipit dan hidungnya yang mancung seakan-akan cacing bisa bersantai disana. Bahkan dulu, pernah ada pelanggan wanita yang komplain hanya gara-gara irisan kubis tipis disundubu jjigaenya kurang sekecil. Lalu, si pelanggan itu berlari ke arah dapur untuk komplain kepada chef yang memasak sundubu jjigaenya. 

   "Siapa yang masak sundubu jjigae saya?! Irisan kubis tipisnya..."Protes pelanggan wanita itu tertahan karena melihat Ricky yang super-duper-ganteng itu berbalik dan tersenyum tenang kepada pelanggan wanita yang menyebalkan itu.

   "Oh anda chefnya ya? Haha, Sundubu jjigaenya enak banget lho. Tadi sebenarnya saya mau bilang kalau irisan kubis tipisnya sempurna banget. Pokoknya top banget deh"Pujinya dengan bumbu 'banget' yang kebanyakan dalam pujian panjang kali lebarnya itu.

   "Iya. Terima kasih, Bu"Jawab Ricky dengan senyuman canggungnya yang tidak merubah kadar kegantengannya. Kutebak, mungkin dia memang suka dipuji tapi, kalau pujiannya berlebihan kayak tadi sih mungkin dia tidak terlalu suka.

    "Ah, jangan panggil saya begitu. Saya masih cukup muda ko. Ya mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja denganmu. Panggil saja aku Kafis"

     "Fis? Fish? Kafish? Kaka ikan kan?"Aku yang pada saat itu menatap dari jendela dapur hanya bisa cekikikan pelan karena takut kedengaran. Dira yang ada disebelahku, yang awalnya tidak tertarik jadi penasaran, karena melihatku cekikikan pelan melihat tontonan yang cukup menarik ini.

      "Ah si Kesha bahagia ngga ngajak-ngajak"Ujar Dira yang langsung melangkah dan melihat ke jendela.

      "Jika saya boleh tahu, memangnya umur anda berapa?"Tanya Ricky penasaran.

      "45 tahun"Jawab wanita itu seusai terdiam selama belasan detik. Ricky yang umurnya terbilang masih muda karena dia baru saja keluar dari SMA beberapa tahun lalu. Ricky membalas jawaban wanita itu dengan tatapan yang seakan-akan mengatakan 'kalo-gitu-berarti-kita-umurnya-beda-jauh-tante'

       "Yaelah. Tante-tante yang doyan berondong ternyata"Komentar Dira yang berada tepat disebelahku.

       "Hush. Jangan gitu"Tegurku padanya dengan nada so bijak.

        "Kenapa coba? Emang iya kan?"

         "Mau tahu kenapa? Karena elo kan calon tante-tante"

         "Apasih ya. Ngga lucu tahu, Sha"

         "Gurau sajeu lah, Dir"Ucapku dengan nada upin dan ipin yang dibalasnya dengan tawa renyah saja.

          "Oh begitu ya. Kalau begitu, lebih baik anda menyantap sundubu jjigae anda di meja karena selain itu, saya sedang sibuk melakukan pekerjaan saya sebagai chef disini"Kata Ricky yang kalimatnya seperti usiran versi lembut yang spesial untuk pelanggan wanita yang bernama Kafis itu.

          Pelanggan wanita yang bernama Kafis itu langsung keluar dari dapur yang lalu bergabung bersama teman-teman seumurannya dengan raut muka yang terihat kesal tapi ditahan. Enak ya jadi Ricky. Dia ngga jadi disalahin cuma gara-gara dia tampan. Hidup memang terkadang seperti itu.

          "Oy Kesha"Panggil Ricky dengan jarinya yang dijentikkan di depan wajahku yang sekaligus membuat lamunanku buyar seketika.

          "Nih buat kamu"Lanjutnya sambil menyimpan sundubu jjigaenya dimeja yang berada didekatku.

           "Cie Kesha dapet sundubu jjigae plus plus dari chef hebat nan ganteng"Canda Dira yang selalu menjodoh-jodohkanku dengan si Ricky Azhar ini. Dasar emang.

           "Makasih, Ricky"Kataku tanpa memperdulikan candaan Dira yang kelewat membosankan.

             Ajaran ibuku yang menyuruhku berdo'a sebelum makan itu masih menerap sampai sekarang. Memang harus begitu kan? iya. Sesudah berdo'a sebelum makan aku bersiap menyuapkan nasi namun terhenti, karenya ternyata Ricky masih berdiri di tempat yang sama sambil menatapku.

             "Kamu mau berdiri disana sampai besok?"Tanyaku asal yang lalu langsung menyuapkan nasi dan sundubu jjigae ke dalam mulut.

              "Wah si Kesha ngode keras, Itu maksudnya elo mau makan ditemenin Ricky kan? Gue pasti bener nih haha"Yang menjawab malah Dira, Padahal yang aku tanya Ricky lho. Apa ini maksudnya si Ricky ada dua?

               "Mngga. Cuma tanya doang ko"Jawabku dengan mulut penuh sampai tersedak. Kemudian berita kalau ada yang meninggal dunia gara-gara tersedak langsung terbayang dikepalaku. Yang akhirnya membuatku merasa agak takut. Lebay yah.

               Ricky langsung celingukan mencari botor air minum punyaku ke seluruh ruangan. Padahal botolnya dekat ko. Ada di dekat mesin kasir. Karena berita tadi masih terlintas dipikiran, aku langsung mengambil minumku sendiri dan langsung meneguknya dengan pelan-pelan. Ricky menatapku dengan khawatir. Dan aku membalas tatapannya dengan tatapan juga. Ya dengan tatapan tenang-aku-ngga-mati-ko yang entah dimengerti olehnya atau tidak. Tiba-tiba ada pelanggan yang akan membayar. Spontas aku langsung beranjak dari kursi dan melakukan pekerjaanku seperti biasanyan.

                "Lho? Kesha Lauri ya?"Tanya pelanggan itu tiba-tiba. Kemudian aku memandang wajahnya sambil berusaha berfikir apa aku mengenalnya atau tidak. Tapi sepertinya aku tidak mengenalinya.

                "Iya"Jawabku pendek. Begitulah aku. Tidak akan bicara banyak dengan orang yang baru aku temui, sepertinya.

                "Ah. Kayaknya kamu lupa denganku, Kesha"Pelanggan itu berbicara sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung.

                "Hey. Cepetan!"Panggil seorang cowok yang berada di dekat pintu restoran. Dan sepertinya pelanggan laki-laki itu yang dimaksud cowok itu atau mungkin temannya. Karena, dia langsung berbalik dan berlari ke arah cowok itu. Sebelum memegang gagang pintu, pelanggan laki-laki yang entah siapa itu berbalik dan melambaikan tangannya ke arahku dan dia langsung keluar. Aku hanya bergeming dari tadi. Memang siapa sih dia? Ah sudahlah. Akhirnya aku duduk lagi di kursiku dan melanjutkan makanan yang baru kumakan sesuap.

                 "Siapa tuh, Sha?"Tanya Ricky yang sekarang sudah duduk d kursi sebelahku.

                 "Kamu ngga masak di dapur? Lagi istirahat?"Tanyaku ngga nyambung sambil tetap melanjutkan makananku dengan agak cepat.

                 "Ngga sih, Aku cuman pengen duduk bareng sama kamu. Lagian kan masih ada chef yang lain di dapur"Ujarnya. Aku terheran. Apa serunya duduk di sebelah orang yang lagi makan sementara dia hanya menatap?

                 "Duduk bareng sama gue ngga mau nih"Tanya Dira dengan nada bercanda seperti biasanya.

                  "Haha iya maksudnya tuh aku mau duduk berdua sama kalian disini. Bosan di dapur terus"

                  "Masa sih? Kalau kata orang sih ucapan pertama biasanya yang jujur"Ucap Dira yang hanya dibalas tawa oleh  Ricky.

                   "Ra, elo kenal ngga sama orang tadi?"tanyaku mengalihkan pembicaraan mereka.

                    "Kenal. Dia temen ngaji gue waktu kecil"

                    "Serius? Bukannya elo masuk agama islam pas sekolah dasar ya? Yaelah"

                    "Haha, kan bercanda, Sha. Hdup lo serius amat sih"

               Tiba-tiba saja Ricky beranjak dari kursinya dan bergegas ke dapunrnya lagi. Aku menatapnya tanpa bertanya. Lagian mau bertanya apa lagi? Aku udah tahu ko emang mau ke dapur. Berbeda dengan Dira, dia memandang Ricky sambil dadah-dadah dengan sikap so sedih yang didramatisir seakan-akan pergi ke negeri orang. Dira memang begitu. Cantik, ceria dan humoris. Aku yang melihat sikap Dira hanya bisa tertawa kecil dari sini.

                      "Mana bisa gue mengabaikan cowok setampan dia"Kata Dira setelah Ricky hilang dari pandangan tentunya.

                      "Sha, kayaknya Ricky suka sama elo deh. Soalnya dia kaya yang pengen deket-deket sama lo terus. Kalian suka sms san atau apa ngga sih kalau di rumah?"Lanjutnya dengan nada yang lumayan serius.

                      "Lumayan sering sih. Tapi, dia cuma bilang 'selamat pagi' atau 'selamat siang' atau 'selamat tidur' doang. Pas gue bales, dia ngga nge bales lagi lho. Selain itu, soal Ricky suka ke gue, gue ngga yakin. Soalnya, dia mempunyai segala yang terlalu"

                       "Gitu doang? Kalo gitu doang sih di Alfamart juga sering di kek gitu, ya ngga? Dia mempunyai segala yang terlalu? Maksudnya?"

                       "Nah itu tahu, berarti emang ngga mungkin kan? itu lho terlalu ganteng, terlalu baik, dan hal lainnya"

                       "Bukannya itu bagus, Sha?"

                       "Bagus apanya. Yang ada gue pesimis duluan. Udah ah. Kita harus kerja jangan ngobrol mulu"Ujarku yang menutup pembicaraan ini. Di hidup ini masih banyak yang harus dipikirkan. Dan akhirnya aku hanya melanjutkan pekerjaanku sebaik mungkin. Karena tidak ada yang menjanjikan hari esok. Menjanjikan kalau aku masih bisa terbangun untuk menjalani hari selanjutnya.

****

                        "Hey, gue duluan ya! Paipai~"Teriak Dira dari jauh sambil melambaikan kedua tangannya kearahku dengan ceria. Aku hanya membalasnya dengan lambaian sebelah tangan dan senyuman saja.

                         Sekarang sudah waktunya aku pulang ke rumahku yang letaknya tidak jauh dari tempat ku bekerja. Sehingga aku bisa sampai ke rumah dengan jalan kaki saja. Lalu, dari sini aku dapat melihat seorang laki-laki yang begitu familiar. Dia sedang mengobrol dengan seorang perempuan. Perempuan itu memunggungiku sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya. Mereka mengobrol dengan duduk di kursi di depan Alfamart sambil minum kopi instan. Kebetulan aku akan belanja bulanan hari ini ke alfamart yang begitu dekat dengan Restoran Sundubu Jjigae. Akhirnya aku melangkah menuju alfamart dengan lari-lari kecil karena seharusnya, aku segera pulang ke rumah sebelum malam semakin larut.

                          "Kesha!"Panggil seseorang dari arah meja yang sebelumnya aku perhatikan. Dan ternyata yang memanggilku adalah anak bosku. Dia seorang wanita yang usianya berbeda satu tahun dariku.

                          "Apa, Sya?"

                          "Mau belanja bulanan seperti biasa nih?"

                          "Iya. Sudah terlihat jelas kan? Ngapain nanya lagi?"Jawabku dengan nada suara yang so dingin.

                          "Woah. Lo dingin banget sampe dinginnya kerasa sampe tulang"Katanya dengan tawa khasnya yang anggun bagi seorang wanita.

                           "Haha dasar puteri raja. Ketawa aja anggun gitu. Kiw"

                           "Itu pujian atau ledekan sih? Tapi, semoga aja pujian haha. Nanti beres lo belanja, jangan dulu pulang yah. Kita ngobrol dulu"

                           "Sori nih. Gue ngga bisa. Nanti keburu larut malem lagi. Lo tahu kan jalan ke rumah gue itu makin malem makin serem, inget?"

                           "Oh iya ya gue lupa. Maaf deh maaf. Yaudah pergi sana hush hush"

                           "Sieddeh. Tadi baik, sekarang ngusir. Tak patut, ckck"Ucapku sambil berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalaku pelan yang hanya dia balas dengan tawa anggunnya lagi.

                           Aku membalikkan tubuhku dan memasuki alfamart. Aku mengambil ranjang yang berwarna biru dan memulai belanja bulananku dengan yang pertama adalah membeli sabun mandi lalu ke deterjen. Sambil berbelanja aku melihat  ke arah luar, ke arah Selsya dan seorang cowok yang entah siapa. Akhirnya aku teringat, bahwa cowok itu adalah laki-laki yang menyapaku saat dia membayar di kasir. Kemudian aku berfikir keras dan mengingat apakah aku mengenalnya atau tidak, sambil berjalan ke arah makanan ringan. Namun meskipun aku bersikeras, aku tidak dapat mengingat siapa laki-laki itu dengan baik. Ah, ingatanku jadi buruk jika aku tidak benar-benar mengingatnya. Kalaupun aku mengenalnya, sepertinya tidak ada satupun kenangan yang memperkuat ingatanku padanya. Berbelanja sambil berfikir keras lagi tentang siapa dia hampir-hampir membuatku gila. Mungkin ini berlebihan. Tapi, aku benar-benar penasaran semua tentangnya. Tentang bagaimana dia tahu namaku, namanya, dan tentunya lebih ke tentang dirinya juga. Lama-kelamaan terdiam di depan makanan-makanan ringan ini aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dan segera memasukkan makanan ringan yang kupilih kedalam ranjang yang aku pegang. Sengaja aku melihat jam tangan yang ada di tangan kiriku yang sudah menunjukkan pukul 10.30. Dengan cepat aku segera menyelesaikan belanja bulananku dan segera pula membayarnya ke kasir.

                       Aku mendorong pintu alfamart dan melangkah keluar sambil menenteng sekeresek yang penuh dengan belanjaan. Aku melihat jam tanganku lagi yang lalu melihat ke arah yang seharusnya ada Selsya dan laki-laki itu duduk. Namun yang kulihat hanyalah laki-laki itu saja yang sedang duduk sambil menyesap sisa kopi instannya yang kukira tinggal sedikit lagi. Tanpa memperdulikannya lagi aku pun berjalan untuk pulang ke rumak. Lalu laki-laki itu menoleh ke arahku sambil tersenyum. Dikedua pipinya ada lesung pipit yang manis, sehingga membuatku spontas tersenyum juga.

                        "Elo ngapain sih Kesha? Dia punya senyuman termanis pun bukan berarti dia baik. Penampilan bisa menipu kan? Mending lo pulang deh"Kata-kata itu terlintas dipikiranku. Itu memang benar. Setelah cukup sadar, aku melanjutkan langkahku untuk pulang dengan langkah yang terburu-buru. Anehnya laki-laki itu hanya membiarkanku. Bukankah seharusnya dia memberikan penjelasan mengapa dia bisa mengenaliku? Kenapa malah diam saja? Tunggu, kenapa aku repot-repot peduli?

                         "Bukan peduli. Tapi gue penasaran!"Bantahku pada diri sendiri dalam hati.

                         "Tunggu, Kesha!"

                         Seperti yang aku harapkan, dia mencegahku pergi. Kuharap dia berniat untuk menjelaskan semuanya, bukan untuk melakukan hal negatif yang aku pikirkan sedari tadi. Aku berbalik dan melihat kearahnya. Namun dia malah tersenyum manis lagi seperti tadi. Ya ampun, itu senyumann apa AC sih? Adem bener dah. Apa aku harus berbalik memunggunginya seperti tadi agar dia mau bicara? Lalu dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kearahku dan tak lupa, masih dengan senyuman manisnya.

                          "Kesha"Panggilnya pelan sambil menatap mataku dan masih dengan senyumannya juga.

                          "Hm?"Jawabku yang masik agak terpesona dengan senyuman manisnya itu.

                          "Mau pulang?"Huft. Pertanyaan bodoh. Ya pasti aku mau lah.

                          "Iya. Maaf, karena saya harus segera pulang ke rumah"

                          "Kalau begitu saya antar saja"Tawarannya padaku membuatku ingin mengiyakannya langsung karena beberapa alasan. Pertama, jujur saja aku takut berjalan sendirian ke rumah jika malam sudah terlalu larut. Kedua, tentengan belanjaanku ini bisa dibilang cukup berat untuk dibawa oleh perempuan yang sudah lelah bekerja seharian ini. Ketiga, aku berharap dia akan menjelaskna tentangnya yang dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalaku ini.

                           "Bukankah  jalan menuju ke rumahmu akan menyeramkan jika malam semakin larut?''Lanjutnya yang membuatku dengan cepat menganggukan kepalaku dua kali.

                           "Ayo, saya antar. Kata Selsya, rumahmu cukup dekat dari sini"Tawarnya lagi yang langsung mengambil tentengan belanjaanku dan dibawanya sambil berjalan lebih dulu dariku. Entah kenapa dari tadi aku hanya bisa terdiam melihat apa yang dilakukannya.

                           Dia yang sedari tadi melihatku hanya terdiam langsung menarik tanganku agar aku berjalan tepat di sampingnya dan dia segera melepas tanganku begitu saja. Kemudian, sampai seperempat perjalanan dia tidak mencoba mengajakku mengobrol atau apa, malahan dia tidak berbicara sama sekali. Apalagi aku, aku tidak akan berbicara apapun juga kalau dia begitu. Aku hanya akan besikap sesuai dengan lawan bicaraku bersikap, itu saja.

                           "Kamu mantannya Hari kan?"Tanyanya memecah keheningan dengan obrolan yang kurang menyenangkan. Lagi hening begini malah ditanya soal mantan, ish.

                           "Hari apa? Hari senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu, minggu?"Jawabku ngaco dengan menyebut semua nama hari tanpa terkecuali. Namun, dia malah tertawa renyah mendengar jawabanku yang asal ini.

                           "Kamu anti ngungkit-ngungkit mantan ya?"

                           "Ya iyalah. Biar apa coba diungkit-ungkit. Mendingan aku tidur"Ucapku sambil menutup kedua telapak tanganku lalu mengapitnya dengan bahu dan kepalaku sambil dengan mata tertutup.

                           "Haha kamu lucu"

                           "Iya aku tahu kok hehe"

                           "Nah, jadi aku temen mantanmu itu. Eh, baikalah sebut saja aku temannya Hari"

                           "Ngga usah dibolak-balik ah. Sama aja intinya"

                           "Kamu masih tahu kan kalau kamu dulu sekolah di SMA 2?"

                           "Yaelah, dari zaman fir'aun dagang choki-choki juga aku tahu"

                           "Haha, oke-oke. Maksudnya tuh aku mau ngejelasin kalau aku tahu kamu karena kamu mantannya Hari, temanku. Meskipun kamu sekolah di SMA 2 dan Hari di SMA 1, saat sekelas tahu kalau Hari pacaran dengan seorang perempuan dari sekolah sebelah yaitu SMA 2, kamu jadi terkenal di kelas. Bahkan saat itu banyak orang-orang dari kelasku yang bertanya padamu lewat social media kan?"

                            "Iya, aku masih inget. Ngerasa jadi pacar seorang artis, soalnya sampe banyak yang nanya ke aku sih. Mereka kaya wartawan, kepo iya peduli kagak"

                            "Nah, dari situ aku tahu kamu. Tapi, itu sih baru tahu nama kamunya aja yang sering aku denger dari orang-orang"

                            "Terus kamu tahu wajah akunya dari mana?"Tanyaku yang mulai semakin penasaran dan tertarik dengan obrolan ini.

                            "Aku tahu wajah kamu, pas kamu ke rumah Fida. Waktu itu kan Aku, Hari dan yang lainnya sedang mengerjakan tugas kelompok. Meskipun waktu itu kamu cuma di depan pntu dan berarti ngga masuk ke dalam, tetap saja aku dapat melihatmu dari ruang tamu. Soalnya aku penasaran bagaimana wajah perempuan yang bernama Kesha itu"

                            "Oh gitu ya ternyata. Pantesan aja aku ngga kenal sama kamu"

                           "Kamu ngga penasaran aku ada hubungan apa sama Selsya?"

                           "Ngapain juga aku penasaran. Itu kan urusan pribadi kamu. Lagian bisa dibilang, kita baru saling mengenal hari ini"

                           "It's okay, kamu mau tahu atau tidak. Tapi, aku dan Selsya hanya berteman saja. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak perempuanku sendiri. Begitupun dia, dia menganggapku sebagai adiknya sendiri"Penjelasannya itu membuat dahiku berkerut sebentar yang hanya dijawabku dengan angguka kepala dan ber-oh ria saja. Lagian aku ngga penasaran-penasaran amat soal itu.

                           "Okay. Makasih udah nganterin aku sampe rumah"Ujarku sambil membawa kembali tentengan belanjaanku lagi dan aku langsung membuka pagar rumah dan lalu tak lupa langsung menguncinya.

                           "Ngga akan suruh aku masuk?"Tanyanya sambil tersenyum. Oh, maaf-maaf saja. Meskipun dia telah memberikan senyumannya itu, aku tidak akan sekalipun menyuruhnya masuk ke rumah. Karena bisa saja tiba-tiba ada bisikan setan yang dapat menjerumuskan aku dan dia kedalam kemaksiatan.

                           "Ah, maaf ya. Aku sudah terlalu lelah bekerja. Sehingga terlalu lelah juga untuk menerima tamu. Lagian ini sudah larut malam. Sebaiknya kamu cepat pulang ke rumah"Jawabku dengan kalimat yang so peduli padanya.

                           "Baiklah tidak apa-apa. Lebih baik kamu istirahat saja. Kalau gitu, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa, Kesha lauri"Katanya tanpa melambaikan tangan namun dengan senyuman.

                           "Oke. Semoga kita bertemu lagi"Ucapku tanpa sadar. Kalimat tadi itu aku katakan seusai dia lumayan jauh berjalan dari rumahku.

                            Tapi, tunggu....

                            Aku bahkan tidak tahu namanya!

-To Be Continued-

 

            

 

 

  • view 120