Aku dan Motor Bututku

Erwin Kurnia
Karya Erwin Kurnia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Januari 2016
Aku dan Motor Bututku

Kala itu malam yang sunyi, kususuri jalan setapak disuatu desa yang jauh dari hingar bingar perkotaan... Malam itu jangkrik dan kodok tak henti-hentinya sahut-sahutan seolah tak ingin kalah dengan malam yang ingin segera berlalu... Dan aku terus melaju perlahan merayap dengan motor bututku yang tak berdaya melawan jalan yang bergelombang serta berlubang, sesekali kusambangi arloji ditangan kiriku, saat itu tepat pukul 02.00 dini hari... Sepanjang jalan yang dikepalaku hanya istigfar, bermohon kepada Tuhan agar tak diganggu makhluk-makhluk aneh diperjalananku kali ini, tapiii....

?

Pandanganku mulai terganggu, 500m di depanku terlihat sebidang tanah yang begitu rimbunnya pepohonan dan elevasinya sedikit lebih tinggi dari sawah disekitarnya, dalam benak pikiranku semoga saja bukan kuburan, ya apabila itu kuburan seberapa hebatnya lagi aku harus istigfar agar doaku sebelumnya dikabulkan... Namun, rencana Tuhan kali ini tak sesuai dengan harapanku, bagaimana tidak, ternyata sebidang tanah itu persis seperti dugaanku sebelumnya, betapa hebatnya guncangan dalam dada, bulu kuduk seirama berdiri tanpa komando dari otakku, ku tarik tuas gas motor bututku semaksimal mungkin, jalan yang tadinya bergelombang dan berlubang tak lagi ku hiraukan, "ngeeeeeng" kulewati kuburan dengan kecepatan kilat... 200m, 300m dan 400m sudah kulalui perlahan goncangan dalam dada mulai berkurang, begitu juga dengan laju motorku sembari mulai memilah-milah jalan yang harus kulalui, namun tiba-tiba sesosok bayangan putih nampak didepanku, wajahnya tertutupi rambut panjang lurus terurai, berdiri ditepian jalan,.. Alamaaak kuntilanak kataku, hendak kutarik tuas gas motorku sekencang-kencangnya tiba-tiba dia menghadangku tepat didepan motorku, kupejamkan mata dan kupalingkan wajah kearah kiri, betapa takutnya aku...

?

Disela-sela suara jangkrik dan kodok, ada sayup-sayup suara aneh menyapaku... "maas, boleh numpaang gak ?" suara aneh, tak lembut seperti wanita juga tak berat layaknya lelaki... Dalam mata terpejam ku menjawab "ma..ma..mau kemana neng ?", sesosok itu menjawab sambil memegang tanganku diatas tuas gas "eike cuma numpang ciiin, sampai kampung sebelah".. (braaaaaank) suasana seketika itu pecah tak terkendali. Kubuka mata dan kudorong banci hingga terjatuh kupacu motor bututku meninggalkannya... "ciiiiin, tunggu cin.... Eike rempong deh" ia berlari dengan sedikit menyingkap roknya seatas dengkul sembari terus mencoba mengejarku.. "kampreeeeet, banci kaleng ! " teriakku sambil terus menjauh darinya ... "Mending ketemu kuntilanak dah daripada banci" gumamku sembari melesat bak rossi dilintasan sirkuit...

?

Dan kuterus berlalu meninggalkan sibanci, melanjutkan perjalanan ke tujuan awalku...

Dilihat 156