Untuk Direnungkan

Dedi Setiawan
Karya Dedi Setiawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 September 2017
Untuk Direnungkan

Kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Kita butuh keluarga, teman dan sahabat untuk saling mengisi dan melengkapi apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan masing masing.

Kita hidup di dunia, harus mempunyai jiwa bersosial. Kita tidak bisa menjalankan segala sesuatu dengan sendiri. Kita tidak bisa menyelesaikan kegiatan dengan sendiri. Dan kita tidak bisa memecahkan segala permasalahan yang ada dalam kehidupan, tanpa bantuan keluarga, teman, sahabat dan keluarga. Itulah yang dinamakan jiwa bersosial.

Seseorang yang mempunyai jiwa sosial, itu tidak akan pernah membedakan status kehidupan satu sama lain. Seseorang yang mempunyai jiwa sosial, selalu membungkukkan badan kepada siapapun yang dijumpai, meskipun status kehidupan yang dijumpai itu lebih rendah darinya. Namun dia rela membugkukkan badan tanda hormat, tanpa harus berkata *"Inilah aku yang status sosialnya lebih tinggi darimu"*.

Kita hidup di dunia ini, tidak ada manusia yang paling pintar. Semuanya sama dan rata. Kita masih butuh banyak belajar dan belajar. Karena semakin kita pandai, justru kita akan terasa semakin bodoh. Semakin kita tahu, justru kita akan terasa semakin tidak tahu. Kenapa begitu??

Ya, semakin kita pandai, semakin terasa pula kita bertambah bodoh. Karena, semakin kita pandai ternyata masih banyak hal yang harus kita pelajari. Semakin kita tahu, semakin terasa bertambah pula ketidaktahuan kita. Karena masih banyak hal yang harus kita ketahui.

Satu contoh misalnya. Seorang siswa/siswi sangat pandai dalam ilmu matematika, dia begitu mudahnya mengerjakan soal-soal yang tersulit sekalipun. Akan tetapi ketika timbul soal dengan rumus baru dan sebenarnya jawabannya sama, dia pun harus kembali belajar dan memahami rumus baru yang muncul tersebut. Itulah yang dinamakan *semakin kita pandai, kita semakin terasa bertambah bodoh*.

Contoh lagi. Seorang profesor beradu ilmu pengetahuan dengan seorang yang hanya lulusan SMA. Profesor tersebut mengetahui banyak hal, namun bisa dikalahkan oleh seseorang yang hanya lulusan SMA. Karena apa?? Profesor tersebut berdasarkan teori dan rumus, akan tetapi seorang yang hanya lulusan SMA tersebut berdasarkan pengalaman dan kerja nyata. Itulah yang dinamakan *semakin kita tahu, terasa semakin bertambah pula ketidaktahuan kita*.

Dari kedua contoh tersebut, bisa ditarik garis lurus bahwa ilmu yang kita peroleh tidak akan berhenti sampai disitu. Ilmu itu akan terus berkembang dan mengalir seperti air. Boleh jadi kita menyepelekan seseorang yang ilmunya lebih rendah dari kita. Tapi tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui bahwa orang yang kita sepelekan dan kita remehkan tersebut ternyata ilmunya lebih tinggi dari kita. Hanya saja, orang yang kita remehkan itu tidak pernah membusungkan dada, dan dia memiliki ilmu padi. Semakin berisi, maka dia akan semakin menunduk.

Begitu juga dengan apa yang ada pada diri kita saat ini. Ketika kita tengah menekuni sesuatu, yakinlah pada diri sendiri. Jangan terpengaruh oleh orang lain. Karena *Keberhasilan Bukan Teman Atau Orang Lain Yang Menentukan, Tapi Diri Sendirilah Yang Akan Menentukan*.

Contoh misalnya kita menempuh pendidikan disekolah. Seorang guru yang ilmunya jauh lebih rendah dari kepala sekolah menugaskan untuk mengisi buku tugas. Niat kita sudah ingin mengisi buku tugas tersebut, tapi seorang teman mempengaruhi kita dengan berkata *"Ah ga usah di isi, buat apa?? Itu ga penting, ga ada fungsinya sama sekali"*. Dan akhirnya kita pun terbawa dengan tidak mengindahkan tugas dari guru tersebut.

Sehingga pada suatu saat, terdapat tugas mendadak dari Kepala Sekolah untuk mengumpulkan buku tugas yang sudah di isi untuk penilaian. Di situlah baru kita kebingungan karena tidak pernah mengisi buku tugas tersebut. Dan kita pun bekerja ekstra keras mencari pinjaman buku untuk di isi. Karena terburu burunya kita, sehingga kita tidak teliti, akhirnya nilai yang kita dapatkan disekolah pun berkurang. Itu yang rugi siapa??

Contoh lagi misalnya. Seorang siswa akan menghadapi olimpiade matematika. Yang lain sudah mulai mempersiapkan diri jauh jauh hari sebelumnya dengan berlatih bersama untuk mengerjakan soal soal, tapi karena kita terpengaruh teman, kita pun santai santai karena merasa sudah bisa dan pandai sambil berkata *"Ah keciiiil, gampang itu... Lagian juga masih lama"*. Dan ketika waktunya sudah dekat dan yang lainnya bisa lolos dengan nilai sempurna, kita hanya bisa gigit jari dengan mendapatkan hasil nilai yang jauh dibawah rata rata.

Itulah yang dikatakan kenapa kita harus yakin pada diri kita sendiri tanpa harus terpengaruh dengan teman yang sekiranya justru akan menjerumuskan diri kita sendiri. Karena *Keberhasilan dan kesuksesan yang menentukan bukan orang lain, tapi diri kita sendiri lah yang akan menentukan*.

Dalam sekolah / belajar, jangan pernah mengatakan :
1. "Ah temannya ga ada yang belajar"
2. "Ah temannya ga ikut"
3. "Ah gurunya itu, jadi ga semangat"
4. "Ah yang ngasih tugas dia, malas"
5. Dan ah ah yang lainnya.

Hilangkan semua rasa dan perkataan itu, meskipun dalam hati, dan kembalilah pada keyakinan diri sendiri.

Hilangkan rasa tinggi hati, hilangkan rasa tidak percaya diri. Tetap terus semangat untuk menekuni apa yang sudah kita tekuni dan kita yakini. Dan jangan pernah merasa kita ini adalah *"Yang Paling*".

Milikilah rasa hormat, sopan dan santun dalam hidup bersosial. Jaga ucapan, tindakan dan perbuatan terhadap orang lain.

Hormatilah orang lain, jika kita ingin dihormati. Seganlah terhadap orang lain, jika kita ingin disegani. Sopanlah terhadap orang lain, jika kita menginginkan orang lain sopan kepada kita.

Dan satu hal yang paling utama. *Jangan pernah menyakiti hati dan perasaan orang lain, jika hati dan perasaan kita tak ingin disakiti*.

Semoga bermanfaat...

  • view 41