Tentang menyayangi orang yang menyebalkan

Dedi Mangkubumi
Karya Dedi Mangkubumi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 April 2016
Tentang menyayangi orang yang menyebalkan

Hampir setiap orang yang sedang jatuh cinta selalu merasa bahagia.

Gimana nggak?

Kekosongan yang sebelumnya hadir, mendadak berisi dengan banyak sekali hal-hal menyenangkan, dari orang yang juga menyenangkan. Dulu kalau ke mana-mana sendiri, sekarang selalu berdua. Dulu kalau makan cuma ditemenin mas-mas warteg, sekarang bisa candle light dinner di warung pecel lele yang kebetulan mati lampu. Dulu kalau liburan selalu sendirian, sekarang bisa pergi berdua dan mengalami hal-hal menyenangkan bersama-sama.

Namun kemudian, seiring berjalannya waktu, akan timbul sebuah pertanyaan, yang kita semua tahu apa jawabannya:

Sampai kapan hal-hal menyenangkan ini bisa bertahan? Sampai kapan pasangan saya bisa jadi orang yang selalu menyenangkan?

 

Hmm, ya, sampai kapan?

 

* * *

Suatu hari, teman saya yang bernama Somat, datang menemui saya di rumah. Wajahnya tampak lusuh, persis uang serebuan lecek, sisa kembalian angkot. Dengan hanya melihatnya, saya bisa menebak kalau dia sedang galau, atau diare. Atau paduan keduanya. Maaf untuk siapapun yang membaca ini sambil makan.

“Kenapa lu?”

“Gue galau.” Jawabnya sambil duduk di lantai, menyender ke dinding, dengan satu tangan memegangi kepalanya yang botak. Tebakan saya benar.

Dan sebagai teman yang baik, saya bertanya, “galau kenapa?”

Somat kemudian bercerita tentang hubungan ia dengan pacarnya yang sudah memasuki tahun kedua. Ia bercerita tentang pacarnya yang belakangan ini semakin bawel, semakin insecure, dan semakin-semakin lainnya, yang menurutnya tidak menyenangkan. Menyebalkan.

“Contohnya menyebalkannya dia itu gimana?” saya nanya.

Somat kembali mengusap kepalanya yang botak, ia berpikir sembari melihat pemandangan dari balik jendela kamar.

“Sekarang tuh, gue mau ke mana aja pasti ditanyain. Pergi sama siapa, pulang jam berapa, trus nanya juga, di sana ntar ada temen cewek atau nggak. Astaga. Gue berasa abege lagi.”

“Memangnya dulu dia nggak begitu?”

Somat terdiam sebentar, “yaa, begitu juga sih.”

“Trus kenapa sekarang lu ngerasa keganggu?”

“Nggak tahu deh kenapa.”

Saya ingin menjawab, tapi kemudian saya simpan sendiri.

Beberapa hari kemudian, Somat datang lagi. Kali ini dia bawa bekal nasi bungkus, mungkin karena teringat pengalaman terakhirnya yang harus kelaparan setelah curhat. Sebungkus buat saya, dua bungkus buat dia.

“Gue galau.” Katanya sebelum saya sempat bertanya.

“Kenapa lagi?”

Sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, ia mulai bercerita, “udah berapa hari ini cewek gue cuek setengah mati.”

“Kok bisa? Bukannya kemaren-kemaren dia malah kelewat insecure.” Saya bingung.

“Iya, karena waktu itu gue bilang ke dia kalau gue ngerasa keganggu sama sikapnya yang kadang sering berlebihan.” Jawab Somat sambil menyomot perkedel dari piringnya. “terus perang dunia terjadi. tapi akhirnya, dia bilang dia mau berubah.”

“Hmm, okay sekarang dia berarti berubah kayak apa yang lu mau.”

Somat mengangguk pelan. Matanya kosong, menatap asal ke atas piring dan menyuapkan sambel yang kemudian membuatnya kepedesan.

“Lu butuh pendapat gue?” kata saya setelah dia minum es teh segelas dalam sekali teguk.

Somat menggeleng, “gue tahu apa yang bakal lu bilang. Gue butuh kerupuk lu aja, kalau itu nggak dimakan.”

“Nih, ambil aja.”

Dan kerupuk jatah saya berpindah ke tangan Somat yang kemudian lanjut makan dengan kalap.

Tapi kemudian Somat kembali ngomong, “gue bingung, kenapa hal yang awalnya menyebalkan malah sekarang jadi begitu penting buat gue. Gue bingung sama diri sendiri yang bimbang kayak alay flyover depan.” Kata Somat lagi, yang tidak saya jawab apa-apa.

* * *

Berkat Somat, saya jadi dapat pengetahuan baru.

Menyayangi seseorang saat ia sedang menyenangkan memang mudah. Bahagia bersama orang yang banyak tersenyum memang mudah. Tapi bagaimana ketika orang tersebut tidak lagi banyak tersenyum dan tidak lagi menyenangkan? Jawabannya mungkin, ya, hanya bersabar, menerima nasib, atau banyak berbicara pada pasangan demi mendapatkan jalan keluar terbaik.

Karena nggak ada satu orang pun yang setiap harinya bisa selalu jadi orang yang menyenangkan, termasuk dirimu sendiri.

Ketahuilah ini sebelum kamu memutuskan untuk jatuh cinta, cinta bukan hanya soal yang seneng-seneng aja, ada saatnya pasanganmu akan berubah menyebalkan seperti Hulk versi cewek lagi PMS, dan pada saat itu, kamu harus tetap mencintainya. Karena kalau kamu tidak bisa tetap di sampingnya di saat ia menyebalkan, mungkin itu artinya kamu tidak seharusnya tertawa-tawa di saat ia sedang lucu dan menggemaskan.

Mungkin begitu.