Dari Kalian Aku Merasa Lebih Beruntung

Dede Mulyanah
Karya Dede Mulyanah Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Maret 2016
Dari Kalian Aku Merasa Lebih Beruntung

?

Disebuah pagi untuk matahari yang belum penuh memancarkan sinarnya, tepat disudut - sudut pertokoan yang masih tertutup rapat sebab pagi masih terlalu pekat untuk membangunkan siempunya usaha, saat dingin masih menyatu dengan hembusan - hembusan angin pagi. Aku masih mengingatnya betapa hari itu Aku merasa menjadi manusia yang lebih beruntung dari kerasnya kehidupan ini. Saat dimana kedua mata ini tertuju kepada para pejuang cilik, setelah akhirnya kesempatan mempertemukan kami.

?

Dimas dan Ita?

Pagi kala, ketika aku menyusuri jalan - jalan disepanjang pertokoan setelah komplek mewah itu, komplek berpagar dengan mobil - mobil yang terparkir rapih disetiap garasi, saat motor - motor lalu lalang dengan manusia penuh kesibukan, bekerja dan bekerja. Terhenti seketika motor yang kukendarai saat mataku tepat melihat mereka berada dipinggiran sebuah toko yang yang masih tertutup rapat, dengan sebuah besi panjang ditangan yang siap mengkail sampah - sampah berceceran, yang kiranya bisa mereka tukarkan dengan pundi - pundi recehan yang begitu berkuasa dalam kehidupan. Spontan kusapa si gadis kecil.

"Adik, namamu siapa?"

"Ita", jawabnya.

"kamu sekolah ?, kelas berapa ?, sudah lama kamu memulung ? kamu mulung sama siapa ? tanyaku antusias,

dengan suara yang kecil penuh tanda tanya menatapku. Ita kembali menjawab rentetan pertanyaanku

"sekolah, kelas 2, suda lama, dan sama kakak."

Dimas namanya, kelas 5?

saat waktu sekolah pagi, sore dan malam menjadi ladang waktu mencari rezeki, lalu saat waktu sekolah siang, pagi menjadi waktu menambah lagi rezeki. seperti itu ungkap mereka.

Andai pada saat itu Aku tak sedang dikajar dengan aktivitas yang hampir setiap hari kulakukan yaitu bekerja, ingin rasanya lebih lama berbincang dengan mereka, karena sudah lama kesempatan ini Aku nantikan. Sebab ini bukanlah kali pertama Aku melihat mereka berdua, rasanya aku masi tak bisa melupakan moment menyentuh dan membuatku sedih yang pernah kulihat dari mereka, yaitu pada suatu malam saat aku diperjalanan pulang dikomplek yang sama tepat disudut taman komplek tersebut, aku pernah melihat mereka duduk berdua beralaskan aspal dengan satu buah bungkus nasi yang mereka makan berdua. Sungguh itu sangat menyedihkanku !

Ah!, lagi - lagi waktu mempersingkat pertemuan ini, jika saja tak ada tuntutan pekerjaan pagi itu, aku ingin lebih lama bersama mereka, belajar untuk sebuah perjuangan, untuk sebuah rasa syukur yang rasanya lama kutinggalkan dari kehidupan ini. Ita dan Dimas menyadarkanku betapa aku adalah manusia yang lebih beruntung dari mereka, betapa aku terlalu bodoh saat harus menjalani kehidupan ini dengan keluh kesah, setelah aku memiliki segala sesuatu yang tentu kurasa jauh lebih baik dari apa yang mereka miliki.

Dihari itu Ita dan Dimas mengajarkanku betapa menundukkan kepala akan membuatku mengerti betapa aku harus bersyukur lagi terhadap apa yang kumiliki, rasa syukur untuk segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Terimakasih dik, kalian tela menyadarkanku betapa aku manusia yang lebih beruntung, kelak semua perjuangan kalian akan berbuah manis, jangan perna menyerah, betapapun kerasnya kehidupan ini, suatu ari nanti semuanya akan berlalu, Allah SWT selalu bersama kalian.

?

Bekasi, 8 April 2015

?

?

  • view 170